Hari ke-4 Idul Fitri 1443 H, Takengon Overload

oleh
Kemacetan di Pante Menye Bintang. (LGco_Khalis)

Catatan : Win Wan Nur*

Tadi pagi, seorang teman asal Banda Aceh yang bekerja di Jakarta, minta dicarikan Villa untuk menginap.

Semua orang yang saya kenal yang memiliki penginapan di Takengon, mengatakan kalau penginapan miliknya penuh.

Kemudian saya menghubungi seorang kenalan, salah seorang anggota PUSGAT, Persatuan Rumah Singgah Aceh Tengah yang beranggotakan 105 yang merepresentasikan 105 hotel, losmen, wisma dan jenis penginapan lain. Jawabannya sama, seluruhnya penuh, rata-rata sampai tanggal 8 mei 2022 ini.

Lalu, sore ini saya duduk di lobi penginapan Wisma Antara di depan Cafe Tootor Kopi di kampung Nunang Antara yang memiliki 9 kamar.

Penginapan ini baru selesai dibuat bahkan bau cat baru masih tercium, tapi seluruh kamarnya sudah penuh sampai tanggal 7 mei 2022. Selama saya duduk di lobi penginapan ini, setiap lima menit, ada wisatawan yang datang menanyakan kamar.

Rusdi, seorang wisatawan asal Panton Labu yang datang dengan dua keluarga, mengatakan kalau mereka mengetahui keberadaan penginapan ini dengan cara bertanya kepada warga sekitar.

Bukan hanya penginapan, jalan-jalan di sekeliling danau Lut Tawar juga padat dipenuhi kendaraan yang rata-rata plat luar daerah.

Menurut Alfi Syahri, pemilik penginapan Wisma Antara yang baru pulang mengantarkan tamunya berkeliling danau. Tahun ini ledakan wisatawan memang lebih dahsyat dari tahun-tahun sebelumnya.

Kalau tahun sebelumnya hanya satu sisi danau yang padat, tahun ini kedua sisi danau penuh sesak.

Yang lebih miris lagi, ada begitu banyak wisatawan terlantar. Bukan karena mereka tak punya uang, tapi karena memang tidak ada tersedia penginapan.

Beberapa wisatawan yang saya ajak bicara mengeluhkan kurangnya sosialiasi dari dinas pariwisata daerah ini terkait kondisi dan situasi di daerah ini di masa puncak liburan lebaran ini.

Arif, seorang pengusaha asal Banda Aceh yang datang dengan istri dan tiga anak gadisnya, berputar-putar keliling kota mencari penginapan dengan sia-sia. Kembali ke Banda Aceh, bahkan Bireun pun tidak mungkin karena jalanan macet parah.

Pengusaha lulusan Amerika yang mengaku sering berwisata ke luar negeri bersama keluarganya ini, mengatakan kalau di tempat lain yang biasa dia kunjungi, ada website milik pemerintah yang menginformasikan tentang kondisi ketersediaan penginapan di tujuan wisata.

“Padahal kalau dinas pariwisata daerah ini lebih pro aktif, mereka kan bisa menginformasikan bahwa di hari seperti ini penginapan penuh, jangan datang sebelum memastikan mendapat penginapan, padahal kondisi ini sebenarnya kan bisa mereka perkirakan. Ini pemerintahnya seperti tidak berbuat apa-apa, bukan cuma soal penginapan, di pinggir danau kendaraan kadang parkir di kanan dan kiri jalan,” ujarnya dengan nada miris.

Beberapa pelaku wisata yang saya temui, mengatakan khawatir kalau situasi seperti ini terus berulang, ini akan membuat citra buruk untuk daerah ini dan membuat wisatawan kapok untuk datang ke sini.

Para pelaku wisata ini, rata-rata berharap agar dinas pariwisata daerah ini bisa lebih banyak menunjukkan peran dalam situasi seperti ini. []

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.