[Bag.6] Romansa Gayo dan Bordeaux : Ufuk Barat Indonesia

oleh

Novel Karya : Win Wan Nur*

Kegelapan sudah sepenuhnya menyelimuti alam, lampu penerangan di Hamdan Restaurant mulai dinyalakan. Semakin lama, Hamdan Restaurant semakin ramai.

Seorang laki-laki asal Jerman berambut pirang, dengan usia seumuran Gianna, duduk di depan meja di bagian tengah ruangan.

Laki-laki itu tampak membaca sebuah buku, seluruh perhatiannya tercurah pada bacaannya, sambil membaca, ekspresi wajahnya berubah-ubah, sebagai selingan sesekali dia meneguk teh tawar hangat yang disajikan dalam gelas besar di atas meja di depannya. Dia tampak begitu menikmati kesendirian di tengah suasana ramai ini.

Win juga duduk sendirian. Situasi tersebut tidak lepas dari amatan Gianna, mata perempuan Italia itu, terus menatap si gondrong lekat-lekat. Melihat di depan Win belum ada minuman yang tersaji, Gianna melihatnya sebagai peluang untuk mendekat dan membuka pembicaraan.

Dia melangkah santai ke arah Win dan saat mereka hanya terpisah jarak kurang dari setengah meter, dia mencondongkan wajahnya kea rah si anak Mapala, lalu bertanya.

“Kenapa sih kamu nggak pernah minum bir? Ada masalah kesehatan?”

Gianna berbicara sambil memegang gelas birnya, dan mereguk isinya ketika selesai bicara.

Perempuan paruh baya ini memang menyimpan rasa penasaran pada Win. Sejak mahasiswa Teknik Unsyiah ini tiba di Iboih, lebih dari seminggu yang lalu. Gianna telah berulangkali menawarinya bir, tapi pemuda ini selalu menolak. Gianna juga tak pernah melihatnya minum bir. Karena itulah dia curiga, pemuda ini memiliki masalah kesehatan.

Mendengar pertanyaan Gianna,Win menggeleng.

“Jadi kenapa?” selidik si perempuan Italia.

“Hmm, aku nggak minum karena…ehm…” jawabnya dengan nada ragu karena tidak yakin Gianna akan mengerti alasannya.

“Islam?” sergah Gianna sambil menggerakkan alis, sudut bibirnya terangkat menampilkan senyuman usil.

Gianna sudah sering berkunjung ke Indonesia, dan disetiap kunjungannya, dia selalu tinggal di negara ini dalam waktu lama, setidaknya tiga bulan. Berbagai daerah di Indonesia sudah dia kunjungi, mulai dari Bali, Lombok, Sulawesi dan pelbagai daerah di Sumatera.

Dalam setiap kunjungannya, tentu saja dia bertemu banyak dengan orang Islam yang menjadi penduduk mayoritas negara ini. Sudah banyak orang seperti pemuda ini yang dia temui, memegang prinsip keislaman pada hal-hal yang menurutnya tidak penting. Sampai hari ini dia masih belum bisa paham dengan pola pikir orang-orang seperti itu. Karena tiap kali dia bertanya, dirinya tak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Win tidak menjawab pertanyaan Gianna secara eksplisit dengan kata-kata. Dia hanya merespon dengan gerakan bahu dan dan raut wajah yang menandakan bahwa jawabannya adalah “ya”.

“Hehehe….karena kamu Islam, makanya kamu nggak mau minum minuman beralkohol, nggak mau makan babi, harus makanan halal, ya?”

Gianna memberondong Win dengan kalimat-kalimat tajam secara beruntun. Tapi karena dia berbicara dalam bahasa Inggris dengan logat khas Italia yang kental, layaknya bahasa apapun yang orang Italia gunakan dalam berbicara, bahkan ketika mereka memaki pun, kalimat yang mereka ucapkan masih terdengar merdu di telinga.

“Ya begitulah,” jawab Win singkat.

“Hmm… aku maklum,” kata Gianna dengan nada simpatik, seolah memahami kondisi Win tapi raut wajahnya menunjukkan sikap jail, pertanda dia menyembunyikan sesuatu.

“Tapi kamu belum menikah, kan?” tebaknya dengan wajah menggoda. Tangannya mencolek hidung Win sambil mendekatkan wajahnya ke wajah pemuda gondrong itu. Bau alkohol yang menyengat tercium keluar dari mulutnya.

– Belum.

“Hmmm…” gumam Gianna, mimik wajahnya terlihat semakin nakal.

“Terus bagaimana dengan sex? Dilarang Islam juga, kan? kamu nggak nge-sex?” cecarnya dengan tatapan mata seperti menelanjangi seluruh tubuh pemuda di hadapannya. Senyum jahilnya berubah menjadi senyum bahagia penuh kemenangan, seperti seorang tuna wisma yang baru saja memenangkan hadiah utama SDSB bernilai 1 milyar.

Sepanjang pengalaman Gianna di Indonesia, anak-anak muda yang bergaul dengan turis asing, belum pernah ada yang tidak doyak sex, rata-rata mereka bergaul dengan turis asing dengan target utama bisa mengajak perempuan kaukasia ke tempat tidur. Tak peduli apa agamanya. Apalagi, di tempat ini Win datang sendirian, tidak bisa tidak, tujuannya adalah untuk memikat perempuan berkulit putih untuk berhubungan badan.

“Aku tidak berhubungan sex….ehm, belum,” jawab Win dengan sedikit tersipu.

“Enggak?…” Gianna sedikit berteriak, dia kaget dan menatap Win dengan pandangan tidak percaya. Dia berhenti bertanya meski wajahnya jelas menunjukkan rasa tidak puas dan juga kurang percaya. Tiba-tiba dia merasa seperti tentara yang kehabisan amunisi.

Travis, si orang Amerika yang hanya mengenakan celana pendek tanpa atasan sehingga semua orang bisa melihat otot perut six packs-nya, meski tak terlibat dalam pembicaraan antara Win dan Gianna, tapi sejak dia mendengarkan isi semua pembicaraan itu dengan seksama. Dia dari awal berpandangan sama dengan Gianna, dia merasa orang-orang seperti Win, bodoh dan munafik. Dia benar-benar gemas gemas ketika melihat Gianna tidak melanjutkan argumennya.

Merasa tidak puas dan kecewa melihat Gianna tak meneruskan pertanyaannya, Travis berjalan mendekat ke arah Win, Gianna dan Jack sambil menenteng sebotol bir di tangan kiri-nya. Begitu jarak mereka sudah cukup dekat, tanpa basa-basi si Amerika ini langsung melontarkan pendapatnya.

“Alasan agama untuk urusan alkohol ini adalah alasan paling bodoh di dunia. Tidak logis!” sergahnya tanpa tedeng aling-aling. Nada bicaranya lantang dan penuh percaya diri.

Win menoleh dan matanya menyapu sosok si Amerika dari ujung rambut sampai ujung kaki. Gaya orang ini mengingatkannya pada Pak Ahmad, guru sejarahnya sewaktu dirinya duduk di bangku SMA. Guru ini mengajar dengan cara yang sangat otoriter dan cenderung intimidatif. Apapun pendapatnya tak boleh disanggah. Apalagi kalau yang dia sedang bercerita tentang dengan peristiwa 1965, tak boleh ada pertanyaan yang meragukan motif dan pelaku peristiwa itu, pokoknya semua harus menerima begitu saja apa yang dia sampaikan.

“Kamu tahu, alkohol itu dalam batas tertentu justru menyehatkan. Anggur malah elemen penting dalam ritual kristen,” Travis melanjutkan pernyataannya. Rokok yang baru dia bakar dihisapnya dalam-dalam.

Win melihat sekilas ke arah Travis dan kemudian melengos, dia malas menanggapi provokasi si Amerika yang merasa dirinya paling tahu segalanya ini. Sejak pertama kali melihatnya, dua hari yang lalu, Win sudah bisa membaca karakter Travis. Si Amerika ini adalah tipikal orang yang percaya bahwa perdebatan hanya bisa dimenangkan dengan suara keras dan sikap intimidatif.

“Dan kamu tahu apa yang lebih bodoh lagi?” Tanya Travis lagi sambil menghembuskan asap dari rokok yang dia hisap.

Win kembali menoleh ke arah Travis, lalu menggelengkan kepala, tapi kali ini wajahnya tak lagi acuh tak acuh, sebaliknya, wajahnya menunjukkan ekspresi ingin tahu. Gianna juga menunjukkan reaksi yang sama.

“Yang paling bodoh itu….” Lanjut Travis, “larangan makan babi. Itu larangan yang bodoh sekali!”

“Kamu tahu kenapa?” tanyanya dengan nada yang lebih intimidatif lagi. Dia berhenti sebentar lalu melihat ke arah Win dengan sorot mata tajam. Tapi Win tidak menjawab. Karena tidak ada respon, dia melanjutkan dan langsung menjawab sendiri, “Sebab daging babi itu daging paling enak sedunia. Dan juga murah!” tegasnya. Rasa bangga terbaca jelas dari nada bicaranya.

Mendengar itu, Jack yang berdiri di samping Gianna mengernyitkan dahi. Wajahnya menunjukkan raut kurang senang.

“Melarang orang makan daging babi membuat banyak orang kurang gizi, makanya orang yang tidak makan babi itu bodoh-bodoh. Kekurangan protein. Lihat saja, semua negara maju yang masyarakatnya pintar-pintar itu, negara yang rakyatnya makan babi,” tukas Travis melanjutkan khotbahnya.

“Sementara di sini, kau bisa lihat, babi begitu banyak. Di bawah bungalowku, setiap malam ada beberapa kawanan babi liar datang sendiri. Kalau orang sini cukup pintar, seharusnya babi-babi itu langsung ditembak saja lalu dipanggang. Anak-anak dapat protein dan otaknya berkembang. Ini kok malah dilarang?! Bodoh!” katanya dengan sikap melecehkan sambil kembali mengisap rokoknya.

Jack yang tadinya asyik bercengkerama dengan Gianna, mukanya memerah, dia sudah tidak tahan mendengar komentar Travis yang melecehkan ajaran agama yang dia anut. Wajahnya yang tak bisa dikatakan tampan, tampak semakin mengkerut dan masam.

“Kamu tahu daging babi itu ada ‘band worm,’ makanya kami orang Islam dilarang makan babi!” Cetus Jack lantang, dia nekat membantah pernyataan Travis dengan menggunakan bahasa Inggris seadanya, karena memang cuma itu yang dia bisa. Dengan bahasa yang patah-patah, dia ingin menunjukkan bahwa Travis lah yang bodoh karena mengkonsumsi babi, sebab dalam pandangannya, sebagaimana kesan yang dia terima sejak lahir melalui pandangan orang-orang di sekitarnya, babi adalah binatang jorok yang dagingnya mengandung banyak penyakit.

Jack seperti orang Aceh manapun, sebandel bahkan sejahat apapun dia, meskipun dia minum alkohol, berhubungan sex sebelum menikah dan perbuatan lain yang sangat dilarang oleh agama, tapi urusan makan daging babi, baginya tidak ada tawar menawar, hukumnya haram dan tak ada ruang sekecil apapun untuk bertoleransi dalam urusan ini.

Dia benar-benar tidak bisa menerima ketika ada yang mengatakan larangan makan daging babi itu bodoh. Ini menantang prinsip terkuat yang dia anut. Untuk menyatakan bahwa sebaliknya, pengkonsumsi daging babilah yang bodoh. Dia ingin mengatakan pada Travis, sebuah fakta yang menurutnya tak terbantahkan, yaitu, daging babi mengandung cacing pita. Sebagaimana selalu dia dengar dari para tengku guru mengajinya di kampung dan juga guru agamanya di sekolah. Penjelasan yang selalu sukses diterima tanpa pertanyaan lanjutan oleh murid-murid, baik di sekolah maupun di tempat mengaji. Penjelasan yang diterima dengan rasa syukur dan bangga bahwa Islam, agama yang dia anut adalah agama yang punya pandang jauh ke depan, agama yang sudah melarang umatnya memakan daging babi meski waktu Islam turun belum ada penelitian ilmiah yang menyatakan daging babi mengandung cacing pita yang berbahaya.

Hal lain yang membuatnya semakin tidak senang, karena soal daging babi ini dia merasa Travis telah menyinggung soal SARA. Sesuatu yang sangat ditabukan oleh pemerintah Indonesia. Dia benar-benar marah kepada Travis yang berbicara seperti orang yang tidak mengenal bangku sekolah, sampai tanpa tedeng aling-aling menyerocos hal berbau SARA. Jack yang selalu menghindari pembicaraan soal-soal berbau SARA di ruang publik, menganggap sikapnya itu adalah etika yang bersifat universal.

Tapi hal yang sama sekali tidak dia sangka, terjadi. Pernyataan yang dia sampaikan, justru membuat Jack menjadi bulan-bulanan Travis.

“Band worm? Kamu sedang bicara bahasa Inggris? Dalam bahasa Inggris hanya ada tape worm, cacing yang katanya ada dalam daging babi. Itu maksud kamu? Kalau iya, dari situ saja sudah terbukti, bagaimana bodohnya kalian orang-orang yang tak makan daging babi. Tape worm saja dibilang band worm,” ujar Travis terang-terangan merendahkan Jack. Nada bicara dan raut wajahnya benar-benar menunjukkan sikap pandang rendah dan melecehkan.

Sudahlah tak punya etika dan kemudian pernyataannya direspon dengan cara seperti itu, muka Jack langsung merah, sorot matanya menatap dengan sengit ke arah Travis. Tapi hanya ternyata hanya sebatas itu saja reaksinya. Selanjutnya dia tidak membantah lagi. Dia mengangguk dengan segan.

Melihat kemarahan Jack, Gianna juga ikut-ikutan terlihat tidak senang, dan sejatinya sejak awal dia memang sudah jijik melihat gaya petentengan si Amerika ini.

“Tape worm itu omong kosong,” ejek Travis dengan santai sembari mereguk birnya langsung dari mulut botol, sama sekali tidak peduli pada apa yang dirasakan Jack.
Kening Jack semakin mengkerut.

“Itu yang saya dengar dari semua orang Islam yang saya temui di semua negara berkembang, setiap kali mereka bicara tentang babi,” tambah Travis dengan nada suara semakin meremehkan..

“Dengan teknologi peternakan dan pengolahan pangan yang modern seperti sekarang, bahaya tape worm itu sudah bisa diatasi, jadi kamu tahu, yang kamu katakan soal tape worm itu, semuanya omong kosong! Bullshit!” Sambungnya mempertegas pendapatnya sembari menatap mata Jack dengan tajam, “Orang Islam seperti kamu, mengarang cerita itu untuk membenarkan kebodohan.”

“Heh… jaga mulutmu!” pekik Jack, sambil bangkit dari kursinya. Dia benar-benar marah.

“Apa? Mau ngomong apa kamu? Memang faktanya itu cuma propaganda orang Islam untuk membenarkan mitos agamanya. Memang faktanya, kalian orang Islam itu dibodoh-bodohi oleh agama. Kalau memang babi sumber penyakit, kenapa penduduk di negara pemakan babi tingkat harapan hidupnya lebih tinggi dibanding negara yang penduduknya tak makan babi?” lanjut Travis dengan nada menantang.

“Heh….kamu, jaga mulutmu!” seru Jack setengah berteriak. Tangannya meraih botol bir dengan niat memukulkannya ke kepala Travis. Dia benar-benar sudah di luar kendali. Dia sudah lupa kalau Travis sebenarnya adalah orang yang paling dia idolakan.

Gianna yang belum pernah melihat laki-laki yang sudah berhari-hari bersamanya mereguk kenikmatan dunia ini, semarah itu. Perempuan Italia ini tersentak kaget dan segera merangkul Jack ke dalam dekapannya.

“Sudah, tidak usah dilayani manusia sampah yang arogan seperti itu,” kata perempuan pirang ini mencoba menenangkan.

Tapi kemarahan Jack tampaknya tak sepenuhnya bisa dia redam. Si gondrong kekar ini menatap sengit ke arah Travis. Dalam pikirannya kalaupun harus berkelahi, dia sangat yakin akan menang. Kalaupun kalah, bahkan matipun, dia rela. Tapi Travis si biang kerok sama sekali tidak merasa takut.

“Apa? Kamu mau pukul saya? Kamu tahu saya orang Amerika? Kami dilindungi negara kami dimana pun kami berada. Kamu berani sentuh saya, Indonesia berhadapan dengan negara terkuat di dunia! Kamu tahu, Jepang hancur karena negara itu berani menyerang warga Amerika” seru Travis dengan sikap pongah dan gaya menantang.

Wajah Jack semakin merah. Matanya menatap tajam ke arah Travis, seolah dia mau menelannya bulat-bulat.
Padahal sebelumnya, dia sangat mengagumi Travis. Karena kekagumannya, sebenarnya Jack tidak akan peduli kalau Travis menghinanya sebagai pribadi. Tapi kali ini, orang Amerika ini benar-benar telah melewati batas toleransi. Dia menghina agama yang dianut Jack. Ini yang dia tak bisa terima. Untuk hal seperti ini, jangankan berkelahi, mati pun dia rela. Mati dengan cara seperti ini dia yakini sebagai mati syahid karena membela agama.

Merasakan kemarahan Jack belum reda setelah dia dekap. Gianna langsung mencium bibirnya untuk meredakan kemarahannya. Dan tampaknya usaha itu berhasil. Merasakan kehangatan bibir Gianna, Jack jadi lebih tenang.

Melihat Jack diam, Travis semakin jumawa, “Kamu bisa jawab? Kenapa negara yang penduduknya makan babi justru harapan hidupnya lebih tinggi?” Cecarnya.

Jack semakin marah, tapi untuk kesekian kalinya Gianna berhasil membuatnya tetap diam.

Tensi pembicaraan yang meninggi ini menarik perhatian banyak orang. Para pengunjung restoran yang baru datang ikut merapat dan turut serta mendengarkan perbincangan yang mulai memanas. Ada yang setuju dengan Travis. Tidak sedikit juga yang merasa argumennya dangkal, tapi jengah mendebat. Melihat suasana percakapan yang hidup di dalam restoran, orang-orang yang berada di luar juga semakin banyak yang tertarik untuk ikut bergabung. Mereka satu persatu memesan minuman. Rata-rata memesan bir.

“Kamu sendiri, tidak makan babi juga?” Travis yang merasa di atas angin, melirik dan bertanya ke arah Win ketika melihat Jack sudah tidak mampu menjawab pertanyaannya.

“Tidak,” tukas Win.

“Karena alasan agama juga?” tanya Travis lagi.

“Utamanya itu.” jawab Win singkat, seolah tidak peduli. Dia memang malas memperdebatkan masalah kepercayaan. Karena berdasarkan pengalamannya, debat seperti ini tak pernah berakhir menjadi sebuah kesimpulan bersama yang memuaskan kedua belah pihak, sebab keduanya berangkat dari sudut pandang yang berbeda.

Dalam debat agama, tak ada alat bukti yang bisa dipakai untuk membenarkan salah satu pendapat. Benar atau salah dalam debat soal agama, bergantung dari dalil agama mana yang dipakai sebagai titik tolak. Karena itulah, debat seperti ini tak jarang berujung saling caci maki.

“Bodoh!” seru Travis lagi, tanpa sedikitpun menyembunyikan ekspresi melecehkannya.

Win mendengar apa yang dikatakan Travis, tapi tidak melayani provokasi itu dengan sikap emosional. Dia lebih memilih menjawab argumen Travis dengan jawaban logis, “well, masalah babi dengan agama ini nggak bisa juga dipandang sesederhana itu, Travis. Tingkat harapan hidup orang di suatu negara, kan disebabkan banyak faktor. Mana bisa diukur hanya menggunakan parameter makan babi atau tidak,” urai Win dengan nada yang datar dan sikap tenang, dia bermaksud menurunkan tensi pembicaraan yang mulai memanas.

“Tapi kenyataannya begitu, kan? Bukti yang tidak terbantahkan. Kami di negara yang penduduknya makan babi, harapan hidupnya lebih tinggi dibandingkan dengan kalian yang mayoritas tidak makan babi,” bantah Travis dengan keyakinan tinggi.

“Ah tidak juga,” bantah Win dengan sikap santai.

“Apa yang tidak, buktinya kami yang tinggal di negara pemakan babi, memiliki harapan hidup lebih tinggi!” sergah Travis dengan nada tinggi.

“Itu karena kamu tidak membandingkan kami dengan negara-negara yang tingkat kesejahteraannya setara. Yang kamu bandingkan, negara maju dan negara dunia ketiga,” sanggah Win.

“Pembandingnya bukan cuma Amerika, tapi juga Jepang, Australia, negara-negara Eropa…” ujar Travis ngotot mempertahankan pendapatnya.

“Oke, kalau dengan negara-negara yang kamu sebutkan, aku akui harapan hidup penduduk kami lebih rendah,” sahut Win mengakui pendapat Travis.

“Nah? Jadi benar kan apa yang kubilang. Orang yang makan babi itu lebih sehat. Harapan hidupnya lebih tinggi!

Kamu tidak bisa membantahnya kan!” cecar Travis dengan nada sinis yang kentara sekali.

“Ya, tidak juga,” kata Win kalem, “untuk bisa sampai pada kesimpulan kalau tingginya tingkat harapan hidup itu karena mengkonsumsi daging babi, kamu kan juga harus memper-timbangkan tingkat distribusi air bersih, akses kepada pelayanan kesehatan, faktor sanitasi dan hal-hal seperti itu. Kalau semuanya sudah setara, tapi tetap saja orang yang makan daging babi tingkat harapan hidupnya lebih tinggi, baru bisa disimpulkan makan babi lah yang menjadi penyebab tingginya harapan hidup.” Urai Win.

“O.K, coba kamu tunjukkan negara mana yang penduduknya makan babi, tapi tingkat harapan hidupnya lebih rendah dibandingkan dengan penduduk yang tidak makan babi?” tantang Travis.

“Ya contohnya tidak usah jauh, di kawasan ini saja, Indonesia, Malaysia dan Brunei. Tiga negara yang mayoritas penduduknya tidak makan babi, tingkat harapan hidup penduduknya lebih tinggi dibandingkan Laos, Myanmar dan Kamboja yang penduduknya makan daging babi,” jawab Win.
Travis terdiam. Apa yang dikatakan Win memang benar, tapi dia tidak senang karena tidak bisa membantah pemuda lokal yang dipandangnya rendah ini.

“Tapi secara ilmiah tak ada bukti yang benar-benar kuat kalau babi itu berbahaya. 38% daging yang dikonsumsi manusia itu daging babi. Tapi kamu lihat sendiri, kami para pemakan babi sehat-sehat saja. Kalian dikuasai mitos!” kilah Travis membelokkan pokok pembahasan.

“Ya, memang begitulah manusia, Travis. Tidak selamanya tindakan kita didasari pikiran logis. Kadang ada nilai-nilai yang sudah tertanam yang tidak lagi kita pertanyakan, tapi kita terima begitu saja menjadi bagian dari kebiasaan kita. Itu yang terjadi dengan kami soal daging babi ini.” jelas Win.

“Omonganmu berputar-putar. Tidak jelas. Apa kamu tidak bisa menjelaskan langsung pointnya saja?” Ujar Travis sembari menenggak birnya.

“Maksudku, dalam urusan daging babi ini, betul awalnya kami tidak memakannya karena larangan agama. Tapi dalam perkembangannya, larangan ini sudah menjadi budaya dan kebiasaan. Kami yang secara turun-temurun dibesarkan dengan pandangan bahwa babi itu bukan makanan, tidak bisa lagi memandang babi itu sebagai makanan.” terang Win dengan sabar.

“Ya, makanya kubilang bodoh,” sergah Travis.

“Kan sudah kubilang, kenyataannya secara ilmiah daging babi tidak berbahaya asal ditangani dengan benar.

Sama dengan daging apapun. Sapi, kambing, domba, sama saja. Apalagi sekarang babi diternakkan secara modern, kesehatannya dikontrol dengan baik, makanan yang dimakan jelas. Aman! Tak ada alasan logis apapun yang membuat babi tak boleh dimakan,” Travis berkata ketus.

“O.k, soal itu aku tak akan bantah, cuma aku mau tanya sama kamu, apakah secara ilmiah daging tikus berbahaya?” ujar Win balik bertanya.
– Hmm….
– Kurasa tidak ada bukti kalau mengkonsumsi daging tikus berbahaya, tapi apa dengan begitu lantas kamu mau makan tikus? Apa karena tak ada bukti daging tikus berbahaya untuk kesehatan, dengan begitu kamu bisa terima kalau di rak-rak supermarket di Los Angeles, Boston, Houston, Dallas sana memajang daging tikus untuk dijual?
– Tapi itu kan bukan makanan. Tikus itu binatang menjijikkan. Manusia tidak makan tikus.
– Tepatnya, manusia yang dibesarkan dengan nilai-nilai yang kamu anut. Tapi manusia yang dibesarkan dengan nilai yang berbeda seperti di Indochina bahkan di sini di Sumatera dan Sulawesi Utara, ada orang yang makan tikus. Mereka sehat-sehat saja dan mereka tidak merasa jijik.
Travis terdiam.

– Yang kamu rasakan terhadap daging tikus itu, sama seperti yang kami rasakan terhadap babi. Kami yang dibesarkan dalam tradisi Islam sudah sejak kecil ditanamkan kalau babi itu bukan makanan, tentu tidak bisa lagi melihat babi sebagai makanan. Sama seperti kalian yang tidak bisa melihat tikus, kecoa dan kucing bahkan belalang sebagai makanan.

“Ya, tapi tikus dan kucing kan memang tidak umum. Beda dengan babi. Babi itu makanan orang kebanyakan.

Cuma orang bodoh yang tidak makan babi,” sergah Travis, masih saja ngotot dengan pendapatnya.

“Mungkin ini juga yang dikatakan orang yang biasa makan tikus dan kucing terhadap kita. Kita yang tidak makan tikus dan kucing ini adalah sekumpulan orang bodoh,” balas Win, kali ini juga dengan nada sama sinisnya seperti nada Travis sebelumnya. Dia tak mau pura-pura bersikap sopan pada si Amerika arogan ini.

Travis terdiam tapi tampak jelas kalau dia sama sekali tidak senang. Mana mungkin dia, orang Amerika, negara paling maju di planet ini, bisa kalah berdebat dengan manusia dari dunia antah berantah.

Travis belum puas, dia ingin membantah. Tapi sebelum dia sempat bicara, Gianna yang merasa mendapat angin, lebih dahulu menyambar, “soal babi aku setuju dengan anak tampan ini. Argumenmu tentang orang makan babi itu harapan hidupnya lebih tinggi, terlalu dangkal! Bukan kualitas argumen dari orang yang pernah duduk di bangku kuliah” serunya sambil menunjuk ke arah Travis.

Travis akan menjawab, tapi Gianna sudah terlebih dahulu melanjutkan, “tapi aku setuju. Banyak ajaran konyol dalam Islam. Contohnya dalam ajaran Islam itu perempuan sangat rendah posisinya, tidak bisa bersuara, selalu harus menurut laki-laki.” Ujarnya.

Belum sempat Gianna melanjutkan, tiba-tiba si Jerman berambut pirang memotong pembicaraan, “Hey..hey, kurasa di kebudayaan kita di Barat lah yang sudah terlalu berlebihan memberi keistimewaan pada perempuan. Kamu tahu? Berlebihan!”

Gianna, yang merupakan satu-satunya perempuan di sini, naik pitam mendengar komentar si Jerman yang tiba-tiba terlibat dalam pembicaraan. Dia tidak bisa terima pernyataan laki-laki pirang ini.

“Hei…hei mister, hati-hati kalau bicara, bisa kamu jelaskan di mana letak berlebihannya?” semburnya dengan suara meninggi. Raut wajahnya jelas menunjukkan sikap tidak senang.

“Ya…perlakuan istimewa terhadap perempuan di negeri Barat memang sudah berlebihan,” kata si Jerman yang usianya sepantaran dengan Gianna.

“Hey ini abad ke-20, tapi kamu berbicara seolah kamu itu manusia yang datang dengan mesin waktu dari abad pertengahan. Kamu tahu ucapan kamu ini sangat berbahaya. Kalau kamu di Eropa, sekarang ini kamu bisa dituntut ke pengadilan!” Sembur Gianna.

“Mau dituntut apa? Aku bicara apa adanya. Aku bicara fakta.” Sergah si Jerman berambut pirang.
– Fakta apa?
– Fakta, kalau sekarang, di kebudayaan Barat, perempuan sudah jadi tirani.
– Tirani bagaimana? Jaga mulutmu yang berbisa itu, mister!
– Ya, tirani. Sekarang perempuan bekerja lebih sedikit, tapi mendapat bayaran yang sama. Kalian berpenampilan seksi, tapi kami, laki-laki yang melihat dan berkomentar bisa dituntut melakukan pelecehan seksual. Aturan macam apa ini?

“Eh…kamu jangan berlebihan! Aturan itu dibuat manusia beradab yang tahu kalau perempuan dan laki-laki itu punya kebutuhan berbeda. Aturan itu sekaligus melindungi perempuan dari laki-laki cabul seperti kamu!” Cecar Gianna dengan sengit.

Melihat kemarahan Gianna yang mulai menyerang secara ad hominem si Jerman tersenyum. Bukannya langsung menanggapi, dia malah menjentikkan jarinya untuk menarik perhatian Rahma, “Rahma, give me one more beer, please!”

Rahma melongokkan kepalanya ke dapur yang terletak di bagian bawah restoran dan memintanya menyiapkan pesanan si Jerman.

“Tolong kacang juga, ya. Apalagi snack-nya yang ada di sini?” tanya pelanggan dari meja lain.

Perbincangan ini semakin menarik. Meski hanya beberapa yang terlibat langsung, tapi perbincangan ini tampaknya menarik perhatian para pengunjung lain. Kelihatannya malam ini Rahma dan Maneh akan sibuk sekali.

Selesai memesan bir, si Jerman kembali melanjutkan pembicaraan, “Ya, kamu sebut aturan itu beradab, karena aturan itu menguntungkan kalian perempuan, padahal itu jelas merugikan laki-laki. Kenyataannya, apanya yang bisa disebut beradab? Ketika laki-laki menikahi perempuan, lalu bercerai, kemudian hukum memutuskan kalau separuh harta jadi milik perempuan yang tak punya andil apapun dalam menghasilkan harta. Lalu hukum yang sama kemudian memutuskan anak-anak tidak boleh lagi dikunjungi sesukanya oleh bapaknya, karena pengadilan memutuskan hak asuh ada pada ibunya. Ini yang kamu sebut beradab? Kalau aku bilang, ini namanya bukan beradab, melainkan GILA! Sekarang di Barat, yang kita butuhkan itu gerakan untuk membela hak laki-laki, bukan perempuan,” ulas si Jerman panjang lebar.

Gianna meletakkan ujung telunjuknya di sisi kanan keningnya dan membuat gerakan berputar dengan jarinya.

“Bagaimana bisa kamu bilang hukum seperti itu tidak beradab? Ketika menikah, perempuan mengorbankan karir dan hidupnya untuk mengurus anak-anak. Perempuan kehilangan kesenangannya, hidupnya dikorbankan semata untuk mengurusi keluarga. Hanya karena pengorbanannya itulah suaminya bisa fokus pada karirnya. Jadi sudah seharusnya perempuan mendapat bagian dari harta yang didapatkan laki-laki yang dia kawini. Tanpa hukum yang dibuat seperti ini, laki-laki seperti kamu akan berbuat semaunya,” sergahnya.

Rahma datang mengantar bir yang dipesan si Jerman, dia tersenyum, dengan bahasa Inggrisnya yang ala kadarnya, dia sama sekali tak punya gambaran, apa yang sedang diperbincangkan orang-orang ini.
“Thank you,” katanya.
“Yes…” sahut Rahma, sambil meletakkan bir di atas meja lelaki berambut pirang ini.
“Aku, nasi putih satu, Kak,” kata Win sebelum Rahma berbalik ke mejanya.
– Pake telur mata sapi?
“Iya, kuningnya meler ya, Kak, sama…” kata Win sambil memberi tanda dengan menguncupkan ujung jemarinya.
“Garam? Di piring kecil?” tanya Rahma memastikan.

Win tersenyum untuk menunjukkan bahwa apa yang dia maksud benar-benar dimengerti.

Si Jerman, dengan santai menuangkan bir yang baru diantarkan Rahma ke dalam gelasnya. Sementara Gianna terlihat tidak sabar menunggu responnya. Tapi laki-laki berambut pirang yang seumuran dengannya ini seperti tidak peduli. Alih-alih langsung menjawab, dia meminum dulu bir dingin yang baru dia tuangkan.

Melihat sikapnya, Gianna benar-benar tidak sabaran, sementara Jack, menatap ke depan sambil sesekali menenggak bir. Dia tak paham apa yang sedang terjadi. Terus terang dia kesulitan menangkap isi pembicaraan.

Mood pembicaraan di Hamdan Restaurant ini benar-benar dinamis, berubah begitu cepat, diawali dengan perdebatan antara Win dan Travis, sekarang tiba-tiba si Jerman dan Gianna mengambil panggung dan yang lain menjadi penonton.

Setelah puas meneguk birnya, si Jerman baru melanjutkan pembicaraan yang tadi sempat terinterupsi oleh kedatangan Rahma.

“Teorinya begitu, tapi kenyataannya banyak perempuan yang memanfaatkan laki-laki… dinikahi, lalu dicerai dan hartanya diambil separuh. Lihat yang dialami Mike Tyson dengan istrinya yang pertama… siapa itu namanya?” Ujarnya masih tetap dengan gayanya yang kalem seolah tidak peduli.

“Robin Givens.” Sambar Win yang dari tadi terpana menyaksikan debat dua orang ini.

“Iya…itu! Robin Givens.” Ujar si Jerman, “perempuan itu kan menikahi Tyson karena hukum memberinya peluang untuk merampok harta laki-laki secara legal.”

“Tyson…kamu bilang Mike Tyson! Si pemerkosa itu? E’ testa di cazzo!!!” Teriak Gianna dengan nada tinggi nyaris histeris.

Rahma memperhatikan semua kejadian itu sambil menyunggingkan senyum. Dia tak paham apa yang sedang mereka bicarakan, tapi yang dia tahu dan pahami dengan pasti, para pelanggannya ini jadi jauh lebih rajin
memesan makanan dan minuman.

“Neeh!” seru pemilik Hamdan Restaurant memanggil pembantunya.
-Tuaaan.

Terdengar suara sahutan dari bawah lantai. Beberapa saat kemudian, Maneh melongokkan kepalanya melihat ke arah majikannya. Hanya kepalanya yang nongol seolah muncul dari lantai.
“Bikin lagi teh setengah panas. Udah abis tu minum abang tu,” perintah Rahma setengah berbisik.

Maneh bergegas turun kembali ke dapur membuat teh setengah panas. Begitu selesai, Rahma sendiri yang mengantarkan ke meja Win. “Ini minumnya, Dik.”
– Lho, apa ini, Kak? Saya kan nggak pesan.
– Nggak apa…kalo mau tambah minum, bilang aja nanti. Nggak usah segan, ya.

Rahma berjalan kembali ke balik mejanya sebelum Win bisa berkata apa-apa.
Matahari sudah hilang sepenuhnya ke peraduan. Warna jingga yang tadinya menyelimuti langit, kini lenyap tak berbekas. Pulau Seulako yang sebelumnya menjulang tampak temaram, sekarang sepenuhnya sudah hilang dari pandangan.

Gianna dan si Jerman terus berdebat entah sampai kapan. Tiap kali Gianna mengemukakan argumen, si Jerman bisa mematahkan. Wajah perempuan Italia ini pun merah padam dan sebentar-sebentar minum. Sangat jelas kalau dia mulai sedikit mabuk, tapi begitupun Gianna tidak peduli. Ketika minumannya habis, dia pesan lagi. Rahma si pemilik warung, mengantarkan pesanan itu dengan senyuman lebar di wajah.

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.