Syari’at dan Adat

oleh

Oleh : Drs. Jamhuri Ungel, MA*

Syari’at asal katanya adalah syari’ (شريع ) yang berarti jalan. Pada awalnya orang Arab memaknai kata syari’ untuk jalan yang dilalui oleh air, kemudian berkembang menjadi jalan seperti yang kita pahami sekarang ini yaitu jalan yang dilalui oleh orang, kenderaan dan lain-lain.

Dalam artian hukum syara’ kata syari’at yang berasal dari kata syari’ tersebut digunakan untuk menyebut ayat al-Qur’an dan Hadis Nabi (apa yang tertulis di dalam al-Qur’an dan Hadis). Selanjutnya untuk pelaksanaan syari’at Islam di Aceh, kata syariat dimaknai dengan pelaksanaan dari pemahaman tentang al-Qur’an dan Hadis yang dituangkan dalam Qanun.

Kata adat berasal dari bahasa Arab yang mempunyai arti kebiasaan atau tingkah laku seseorang yang terus menerus dilakukan dengan cara tertentu dan diikuti oleh masyarakat luar dalam waktu yang lama.Artinya adat itu merupakan kebiasaan perorangan (person) lalu diikuti oleh orang lain sehingga menjadi kebiasan bersama di dalam masyarakat tertentu.

Dalam sebagian masyarakat tertentu menyamakan adat dengan adab atau moral, sehingga mereka yang melanggar moral dianggap dengan “tidak beradat”.

Dua istilah “syari’at dan adat” bila kita lihat dari sumbernya maka bisa dipahami kalau syari’at itu berasal dari Allah dan Rasul-Nya yang termuat di dalam al-Qur’an dan hadis, untuk selanjutnya dilaksanakan menjadi aktivitas dan rutinitas sehari-hari.

Seperti, prilaku kepatuhan dan tidak membuat tersinggung orang tua, ini merupakan syari’at dengan mengamalkan ayat al-Qur’an yang melarang mengatakan “up atau ah”, menyuruh anak-anak untuk bangun pagi mendirikan shalat, ini sebagai perbuatan dan pelaksanaan supaya anak beribadah. Menikah, selanjutnya suami memberi nafkah kepada para istri dan anak-anak adalah anjuran Allah secara langsung.

Ketika anak lewat di depan orang tua menundukkan badan dengan menurunkan tangan sebagai tanda menghargai dan menghormati, melayani orang tua dengan membantu dan menyiapkan makanan, mencuci baju orang tua dan lain-lain, ini merupakan adat yang berlaku di masyarakat.

Juga mengadakan walimah (penikahan) dengan susunan atau tata tertib acara, memakai pakaian khas daerah tertentu, mengadakan acara keluarga sebelum aqad nikah dimulai dan seterusnya merpakan adat.

Dalam memahami hubungan antara syari’at dan adat ini ada dua pola pemikiran yang berkembang, satu pola pikir adalah mereka yang tidak pernah mempersatukan antara syari’at dan adat, keduanya berjalan masing-masing walaupun dengan tujuan akhir adalah sama, mereka yang berpikir seperti ini biasa dalam menjalani tata kehidupan bermasyarakat dilakukan dengan upaya pendekatan kepada alam, karena alam dan semua yang ada di alamnya merupakan ciptaan allah.

Seperti ketika ada musibah (hama) memakan tanaman padi atau tanaman-tanaman lain, terlebih dahulu berupaya mencari sebab-sebab dari terjadinya musibah, karena kemungkinan adanya ulat pemakan tanaman disebabkan karena waktu menanam bertepatan dengan hari lahirnya ulat sehingga ketika tanaman menjadi besar sekaligus dengan besarnya ulat atau ketika menyemai bibit bertepatan dengan banyaknya ulat sehingga bibit yang ditanam habis dimakan ulat, karena itu dalam masyarakat ini penanaman tanaman harus disesuaikan dengan siklus ulat.

Demikian juga dengan kecocokan tanaman, tidak semua tanaman cocok untuk semua tempat. Dalam ilmu antrpologi tumbuhan ada yang namanya tanaman domistik yang merupakan tanaman asli suatu daerah dan ada juga tanaman domistikasi yaitu tanaman yang sebenarnya tanaman di daerah lain tetapi kemudian dijadikan tanaman di daerah tersetentu lainnya.

Demikian juga dengan hewan, adanya yang namanya hewan domistik dan ada juga hewan domistikasi. Dalam menangan tumbuhan dan hewan domistikasi tentu berbeda dengan tumbuhan dan hewan domisti, bagi tanaman domistik tentu lebih mudah dalam merawatnya dibanding dengan tanaman domistika. Sama halnya dengan hewan, tentu hewan domistik lebih mudah.

Untuk mengetahui mana tumubuhan yang domistik dan mana tumbuhan yang domistikasi tertu diperlukan pengetahuan yang palinggi sampai ilmu yang paling sederhana, menurut penulis untuk membuktikan tumbuhan domisti lebih mudah dari segi penggunaan untuk obat-obatan, karena tumbuhan obat-obatan telah digunakan oleh masyarakat setempat semenjak lama mungkin beribu atau beratus tahun yang lain, juga dengan hewan.

Lebih mudah mengetahuinya dengan hewan apa yang digunakan untuk menebus kesalahan yang dilakukan seseorang atau denda sebagai ganti mereka yang melakukan kejahatan, umpamanya ayam dijadikan sembelihan tahunan bagi mereka yang mempunyai Sali sayam, kerbau dijadikan sebagai sembelihan pelanggar adat yang menikah satu kampung.

Pola pikir yang kedua adalah menggabung antara syari’at dan adat, dalam pola ini mereka tidak memisahkan antara syariat dan adat, bila ada adat yang tidak bertentangan dengan syari’at dan perbuatan itu berasal murni dari masyarakat maka dilakukan islamisasi adat, seperti peusijuk dalam masyarakat Aceh Pada awalnya peusijuk merupakan praktek adat yang dilakukan oleh masyarakat Aceh sebelum datangnya Islam, dengan menggunakan bacaan-bacaan dan gerakat-gerakan tertentu.

Lalu bacaan-bacaan yang lama diganti dengan bacaan ayat-ayat tertentu, shalawat dan do’a tergantung dengan kegiatan yang dilakukan. Demikian juga dengan kenduri turun kesawa, pergi kelaut, dan lain-lain. Dengan pelaksanaan sesuai dengan tata cara asalnya dan dengan bacaan yang diganti dengan bacaan-bacaan agama Islam.

*Penulis adalah Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry dan Penguru Adat pada Majelis Adat Aceh (MAA) Banda Aceh.

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.