Menikah Setiap Hari

oleh

Oleh : Roni Haldi*

Menikah itu ibadah yang sebut banyak dalam Al- Qur’an dan hadits Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam. Menikah adalah proses perkenalan terlama yang sulit di tebak ujungnya, bukan sehari dua hari dan tak cukup hafal nama pasangan lengkap dengan silsilah keturunan. Tujuan menikah untuk meraih sakinah dalam rumah tangga bukan sebaliknya.

M. Quraish Shihab dalam bukunya Pengantin Al-Qur’an : Kalung Permata Buat Anak-anakku mengatakan, “menikah itu tujuannya mendapatkan sakinah. Sakinah itu berarti ketenangan atau anonim dari keguncangan. Ketenangan itu bersifat dinamis dalam setiap rumah tangga ada saat dimana terjadi gejolak, namun dapat segera tertanggulangi dambakan melahirkan sakinah.

Sakinah itu tidak hanya tampak pada ketenangan lahir, tetapi harus disertai dengan kelapangan dada, Budi bahasa yang halus dilahirkan oleh ketenangan batin akibat menyatunya pemahaman dan kesucian hati dan bergabungnya kejelasan pandangan dengan tekad yang kuat. Kehadiran sakinah tidak datang begitu saja, tetapi ada syaratnya, hati harus disiapkan dengan kesabaran dan ketaqwaan.

Karena menikah menyatukan dua orang yang punya karakter fisik dan jiwa berbeda. Coba perhatikan, biasanya karakter pasangan sebelum menikah nyaris berbeda bila dibanding dengan setelah menikah, apalagi sudah lama menjalani bahtera rumah tangga.

Hanya kesamaan arah tujuan saja lah yang mampu menjaga kestabilan dalam bahtera cinta tersebut, yaitu sakinah. Bagi yang belum percaya coba saja ikat janji pernikahan terus naik pelaminan.

Menikah yang diawali dengan ijab qabul antara wali dengan laki-laki yang berubah status dari jejaka jadi kawin (begitu tertera pada Kartu Tanda Penduduk alias KTP).

Setelah sah dihadapan dua saksi dan dicatatkan oleh Petugas Pencatat Nikah atau Kepala Kantor Urusan Agama, kemudian tinggal bersama dalam satu rumah, satu kamar bahkan satu kasur dengan orang yang sama selama bertahun-tahun tentulah bisa mendatangkan perasaan bosan dan jenuh.

Melihat ke depan seperti itu, tengok ke samping masih yang itu, memutar ke belakang ketemu lagi yang itu juga, bedanya makin berkerut bertambah angka pada bilangan usia. Menghadapi kenyataan itu, diperlukan kiat supaya perasaan cinta kepada pasangan tetap tumbuh dan terawat sepanjang perjalanan rumah tangga. Agar cinta di mahligai rumah tangga tetap bersemi sepanjang masa.

Cinta adalah kebutuhan primer (ingat bukan sekunder apalagi tersier) dalam sebuah rumah tangga. Sebuah rumah tangga tak bisa mampu menghadirkan cinta, pastilah rasa hambar dan hampa. Seakan semuanya berjalan masing-masing dengan sendirinya. Jadi cinta dalam rumah tangga tak bisa ditawar-tawar mesti ada dan berkekalan selamanya.

Jatuh cinta pada pasangan ibaratnya seperti mendengarkan sebuah lagu hits baru yang penuh gairah bersemangat. Mulanya terasa enak untuk terus menerus didengarkan sepertinya tak akan pernah bosan dan tak mau berhenti memutarnya.

Namun seiring waktu, adalah hal yang lumrah jika sesuatu yang sama terus menerus didengar dan masuk ke gendang telinga lama-lama bisa mendatangkan kebosanan dan kejenuhan, hingga tak bergairah lagi untuk mendengarkannya. Hilang sudah pengaruhnya, tak ada lagi daya tarik yang membuat otak dan jiwa terpancing menghadirkan kebahagiaan.

Tapi syukurlah, manusia bukanlah sebuah lagu yang bersifat statis. Manusia adalah makhluk yang terus bertumbuh, berkembang dan berubah mengikuti alur dan riak zaman. Setiap waktu yang dilalui akan membawa perubahan dan pertumbuhan pada diri manusia. Setiap peristiwa yang dialami bisa membuat manusia berubah dan berkembang dari sebelumnya.

Suami atau istri harus menyadari bahwa yang namanya perubahan yang pasti terjadi pada pasangannya, baik perubahan secara fisik maupun psikis.

Keduanya harus mengupayakan perubahan dan pertumbuhan ke arah yang lebih baik supaya masing-masing dapat menemukan ke’baru’an yang lebih baik dari pasangannya, sehingga yang terdengar dan ditemui setiap hari adalah sesuatu yang baru, istri atau suami yang ‘baru’ dalam tubuh yang lama dan sama, bukan suami atau istri “benar-benar baru” karena penambahan bilangan semata.

Hal ini akan meningkatkan produktifitas akal dan ketenangan jiwa yang pada akhirnya melahirkan dan mengekalkan kebahagiaan.

Agar mendapat “perasaan baru selalu” yang membahagiakan diri dan pasangan, maka fokus saja pada kebaikan-kebaikan pasangan bukan disibukkan mencari mengumpulkan kekurangan dan keburukan pasangan. Selalu berpikir positif dan tumbuhkan kepercayaan penuh pada pasangan.

Buang jauh semua pikiran negatif dan “perasaan lama” yang selalu fokus pada kekurangan dan keburukan pasangan.

Kepercayaan yang utuh terhadap pasangan akan membawa mereka pada cinta yang unik dan tidak akan pernah kehilangan gairah cinta dalam kehidupan rumah tangga.

Terbuka, terima dan dukung segala bentuk kepribadian diri pasangan. Seorang suami akan memiliki keinginan untuk menjadi “Lelaki sejati” bagi istrinya. Supaya seorang suami dapat menjadi “Lelaki sejati” bagi istrinya bukanlah dengan ungkapan yang menunjukkan sifat kelelakiannya, seperti suami menganggap dirinya lebih punya power sebagai kepala rumah tangga, suami adalah seorang yang paling berkompeten dan berprestasi di luar rumah, sangat percaya diri dan bergengsi, jika nyata telah melakukan kesalahan namun enggan mengawali meminta maaf, selalu mengambil jarak dengan pasangan sebagai bentuk pertahanan akan harga diri.

Sifat dan sikap ini hanya melahirkan reaksi takjub atau segan sesaat, tapi lama kelamaan akan berubah pencibiran dan sedikit penghargaan. Dimana leta salahnya, pada diri suami yang menempat diri tidak sepatutnya sebagai qawwam dalam rumah tangganya.

Sampaikan ungkapan-ungkapan anda cinta sesuai dengan bahasa cinta pasangan, ungkapan perasaan saling memiliki dan saling bergantung, ungkapan ingin hidup selalu bersama sampai ajal memisahkan, ungkapan masalah mu adalah juga masalah ku ungkapan semua waktuku akan ku habiskan membersamaimu, justru hal ini akan mendorong seorang suami dapat menjadi “Lelaki sejati” bagi istrinya.

Sebaliknya bagi seorang istri, menjadi “Bidadari surga” bagi suami pasti impian sepanjang hidupnya menjalani peran istri. Seorang suami tidak mengharapkan sifat dan sikap yang terlalu mandiri, tegas, penuh percaya diri dan sangat berdaya pada sosok “Bidadari surganya”.

Sifat-sifat ini hanya akan mendatangkan perasaan bahwa “dirinya tidak dibutuhkan oleh sang istri”. Sesaat suami akan merasa kagum dengan hal ini, “wow..istriku seorang yang mandiri.” Namun, bila ini berlangsung sepanjang kehidupan rumah tangganya, lama-lama suami akan kehilangan gairah cinta kepada pasangannya, karena tidak ada lagi perbedaan di antara mereka, sejatinya sifat-sifat ini adalah sifat hakiki seorang laki-laki.

Perbedaaan karakter dan sikap laki-laki dan perempuan itulah yang justru akan mendorong menguatkan rasa cinta diantara keduanya. Seperti ibarat magnet, hanya ketika dua kutub yang berbeda disandingkan justru dapat mendekatkan mereka. Ketika kutub yang sama disandingkan, jangankan mendekat, yang terjadi justru saling menolak satu sama lain.

Mendukung dan menerima keunikan, perbedaan dan keaslian pasangan yang dapat memelihara bahkan membangkitkan ketertarikan dalam hubungan cinta pasangan suami istri, sehingga keduanya bisa jatuh cinta pada pasangannya senantiasa setiap hari. Cinta setiap hari yang dibutuhkan dari sebuah pernikahan.

Cinta yang tak pudar walau perubahan fisik menjelma. Cinta kini yang sama tak berkurang seperti cinta dulu saat pertama bertemu. Cinta yang mengantarkan dua hati disatukan dalam satu ikatan suci mitsaqan ghaliza.

Sudahkah setiap hari menikah dengan pasangan anda?

*Penghulu Ahli Muda/Kepala KUA Susoh, Aceh Barat Daya

Comments

comments