[Bag.15] Kisah Burung Mergah dan Gelingang Raya : Lelaki yang Bertepuk Sebelah Tangan

oleh

Diceritakan kembali oleh  : Aman Renggali

“Setiap syair didong selalu mengandung kisah, amanat juga pesan yang disampaikan para ceh-nya melalui lagu. Lagu-lagu itupun selalu diiringi dengan tepukan tangan secara beraturan agar terdengar lebih berirama dan menyenangkan. Agar lebih menyatu dan saling melengkapi sebagai sebuah nyanyian sejati. Anak muda, akulah lelaki yang ber-didong itu yang mengisahkan sebahagian riwayat pada masa kami masih remaja dulu. Anak muda, didong-ku memang tidak terlalu menarik mungkin bagimu karena tidak diiringin dengan tepuk tangan berirama seperti kisahku dengan perempuan itu yang bertepuk sebelah tangan”.

Mendengar cerita Kasha Gelingang Raya juga semakin larut, seolah ia juga berada dalam waktu dan pada masa dimana kakek tua itu tengah kasmaran. Tetapi Gelingang Raya belum sepenuhnya mengerti alur cerita yang dikisahkan karena sosok-sosok yang ada dalam cerita itu masih ia raba-raba siapa gerangan yang dimaksud.

Meski demikian ia seperti menemukan benang merah dari sosok yang dimaksud oleh kakek tua itu. Gelingang Raya tidak yakin dengan pikirannya, namun dari ekspresi sang kakek bercerita tentang rumah tua di ujung jalan orang yang dimaksud tentulah orang yang sangat berkesan besar dalam hidupnya.

Dengan sisa kesopanan yang dimilikinya, Gelingang Raya mencoba bertanya untuk ketiga kalinya tentang sosok yang ada dalam cerita Kasha.

“Siapa nama perempuan itu?”, tanya Gelingang Raya sambil terus menatap ke arah rumah tua di ujung jalan.

Lagi-lagi Kasha hanya dapat menghela nafas dalam-dalam mendengar pertanyaan itu. Seolah ia semakin terdesak untuk meneruskan kisahnya dengan menyebut nama tokoh yang ada di dalamnya. Terlebih pendengar cerita Kasha hanya seorang saja yaitu Gelingang Raya, yang bisa saja diujung kisah akan ada pragmen yang tidak menyenangkan justru terkait dengan orang bertanya tadi.

Kasha menyadari itu sebagai sebuah jebakan atau sebagai sebuah apresiasi dari orang pendengarnya yang penasaran. Tetapi bukan tidak mungkin pertanyaan itu justru adalah sebuah ajakan agar ia menuntaskan cerita masa remajanya itu dengan penuh tanpa melebihi juga tanpa mengurangi sebagaimana yang sebenarnya terjadi. Sesaat kemudian Kasha melanjutkan kisahnya tanpa menjawab pertanyaan Gelingang Raya sebelumnya.

“Ya, akulah seorang pe-didong yang bertepuk sebelah tangan itu. Jadi tidak ada iringan musik tepuk tangan sebagai pengiring lagu. Karena tidak mungkin bertepuk melahirkan suara jika dilakukan hanya dengan sebelah tangan. Aku tidak meyesalinya juga tidak menyalahkan siapa pun, bukankah setiap tepukan tidak harus melahirkan suara dan bukankah setiap didong harus terus didendangkan meski tanpa iringan tepukan tangan agar kisah dapat tersampaikan kepada siapa saja. Ya. Setidaknya ia akan menjadi bagian dari hidupku yang patut dikenang. Sebab coba kau bayangkan bagaimana seseorang hidup sampai usia senja tanpa kenangan, bagaimana rasanya? Tentu tidak akan menyenagkan dan tidak akan menarik bukan? Aku bersyukur diberi berkah umur dapat hidup hingga usia setua ini”.

Seketika Kasha mengusap kedua belah telapak tangannya ke mukanya sendiri seperti baru saja menyelesaikan lafal doanya kepada Allah SWT. Dalam hati Gelingang Raya juga turut mengaminkan doa kakek tua penjual itu, tetapi rasa penasarannya tidaklah selesai dengan turut mengaminkan doa.

Dengan sedikit menghembuskan nafas Gelingang Raya mencoba memancing dan berharap agar sang kakek dapat melanjutkan cerita masa remajanya hingga selesai.

Seketika Kasha sang kakek pun menoleh kepada Gelingang Raya, seolah ia mengerti apa yang ada dalam hati dan pikiran Gelingang Raya. Kasha mengerti, tetapi untuk menyebut nama perempuan yang tinggal di rumah tua di ujung jalan itu sangat berat baginya.

Selain telah menjadikannya sebagai lelaki yang berjiwa besar dengan menangis tanpa air mata, perempuan itu ternya juga telah menjadikan Kasha kehilangan kesempatannya untuk menjadi tentara kerajaan karenanya.

Saat itu ada sebuah rekrutmen bagi seluruh pemuda untuk menjadi tentara kerajaan. Juru penerangan kerajaan berkeliling kota hingga ke kampung-kampung mengumumkannya sambil mengendarai kuda. Menjadi tentara keraajaan adalah sebuah kebanggaan bagi setiap lelaki, karena hanya dengan cara demikian mereka dapat mengabdi dan menunjukkan cintanya bagi negeri.

Tetapi disaat yang sama aku harus menemui perempuan penghuni rumah tua di ujung jalan itu di tepi danau. Janji ini tidak mungkin tidak aku penuhi sebab sepanjang perkenalan kami hanya kali ini saja ia berjanji bertemu denganku.

Ini sungguh peluang sekaligus harapan yang mungkin akan berbuah baik, meski diwaktu yang sama pendaftaran untuk menjadi tentara kerajaan berakhir pada saat itu juga. Daripada untuk sebuah prestise menjadi tentara kerajaan aku lebih mengikuti kata hatiku, yaitu menepati janji dan menemui perempuan penghuni rumah di ujung jalan itu di tepi danau.

Subhanallah, saat itulah yang paling indah dalam hidupku. Rasanya tidak ada yang dapat menggantikan dan mewakilinya hingga aku setua ini. Aku dan perempuan penghuni rumah tua di ujung jalan itu duduk berdua menghadap matahari terbenam.

Ia begitu anggun dengan kerudung ungunya yang melambai lembut dihembus-hembus angin. Matanya hanya menatap dua arah saja, kearah matahari yang akan tenggelam di sebelah barat dan ke arah tanah dimana ia duduk bersimpuh dengan kedua lutut ditutupi kain sarung batik coklat. Ah, cantik sekali ia saat itu.

Saat itu adalah saat dimana masa remajaku tengah mekar. Syair-syair didong tak ada yang dapat mewakilinya sebagai sebuah keindahan suasana. Aku terhanyut sehanyut-hanyutnya di sana, meski tidak saling bersentuhan. Tepukan tanganku dalam ber-didong tanpaknya akan melahirkan irama yang indah, runcang dan syahdu.

Dan aku memang benar-benar hanyut sehanyut-hanyutnya. Karena ia membuat janji bertemu di tepi danau yang menghadap ke arah matahari tenggelam itu adalah untuk menyampaikan bahwa ia telah menetapkan pilihannya, ia telah meneguhkan hatinya dan ia telah memutuskan keputusannya di riak air danau dengan hamparan bunga enceng gondok yang tengah bersemi-seminya.

Tetapi, tetapi bibir lembut dan kerudung ungunya telah menjadikan pandanganku pada bunga berwarna putih enceng gondok yang sedang mekar menjadi kelabu, tangkainya patah lalu mengapung dan terombang-ambing hingga akhirnya hanyut ke sungai Pesangan. Didong-ku tak bersyair, tepukan pengiringnya tak bersahut.

Mata Kasha seketika berkaca-kaca, tatapannya mengarah ke rumah tua di ujung jalan. Seolah disanalah album indahnya itu tertimbun, lusuh. [SY] Bersambung…

Baca Juga :

Comments

comments