[Bagian 14] Kisah Putri Burung Mergah dan Gelingang Raya : Mengenang Masa Kanak Dimasa Tua

oleh

Diceritakan kembali oleh: Aman Renggali

Setelah beberapa lama mereka saling bertatapan tanpa berucap sepatah kata pun.
“Tidak, aku tidak tersinggung kek”, kata Gelingang Raya sambil membetulkan kembali tempat duduknya. Sementara orang-orang yang semula memperhatikan mereka seolah akan terjadi huru-hara kembali pada kegiatan masing-masing.

Demikian juga Kasha, penjual renta itu kembali menata sejumlah dagangannya dari bakul penyimpanan. Tetapi pikirannya tidak sepenuhnya pada barang-barang yang ia tata.

Dalam benaknya ada sesuatu yang aneh pada diri tamunya yang ini, sepanjang waktu yang cukup lama berdagang di pasar kerajaan baru kali ini ada orang yang demikian tersentak ketika sebuah nama disebut.

Kasha semasa muda juga pernah mengalami hal sama sebenarnya, tetapi bukan pada nama ayah kita yang disebut orang. Tetapi lebih sering ketika nama kekasih kita yang disebut orang, atau pada satu bentuk ungkapan yang dapat menghantarkan ingatan seseorang pada peristiwa tertentu atau sejenisnya.

Hal ini tentu membuat Kasha bertanya-tanya dalan hati. “Ini tentu seorang anak yang amat kehilangan atas kepergian ayahnya”, pikir Kasha.

Lalu sambil menuang kembali segelas air putih yang tertumpah dan mengambil posisi duduk di samping Gelingang Raya, Kasha memulai obrolan dengan topik pembicaraan baru.

“Anak muda, sekali lagi saya mohon maaf. Saya tidak bermaksud menyinggung perasaanmu dengan menyebut nama ayahmu. Tetapi bagaimana sebuah cerita kita bisa sampaikan kepada orang tanpa menyebut nama, tempat atau bahkan peristiwa dan waktu”, jelas Kasha sambil memandang jauh ke ujung jalan.

Lelaki muda yang duduk di sampingnya pun tanpak bereaksi dengan mengangkat muka dan menegakkan lehernya ikut memandang ke arah ujung jalan yang sama. Kedua lelaki berbeda usia itu seolah sedang memperhatikan sesuatu di sudut ujung jalan dimana sebuah bangunan dari kayu-kayu pilihan berlantai dua berdiri. Pada salahsatu tiang dari bangunan itu berkibar kain lusuh ukuran setelapak tangan orang dewasa berkibar.

Kain seperti itu biasa ditaruh pada ujung sebuah tiang saat pembangunan sebuah rumah. Orang-orang tua menyebutnya sebagai penguat sekaligus sebagai pemberkat dan kokohnya rumah yang sedang dibangun.

Warna kain lusuh itu awalnya putih, namun akibat kerap dihampiri debu yang ditiup angin pada setiap musim kemarau lama-kelamaan warnanya berubah menjadi coklat kekuning-kuningan.

“Kau tau itu rumah siapa?, tanya Kasha
Lelaki di sampingnya mengangkat tangan lalu menunjuk rumah yang dimaksud. Kasha mengangguk pasti sambil menoleh kearah muka Gelingang Raya.

“Disitulah terakhir kali aku melihat seorang perempuan berkerudung itu. Aku masih ingat ia berdiri persis di sudut bawah tiang yang di ujungnya ada sehelai kain putih itu. Ia berdiri menghadap ke jalan pasar sambil memegangi ujung kerudungnya yang segi tiga”, Kasha memulai ceritanya.

Antara kedua lelaki yang berbeda jauh usia itu seakan saling mengerti dan faham tentang apa yang telah mereka dialogkan dalam keheningan tanpa kata saat mereka berdua saling bertatap-tatapan beberapa saat yang lalu.

“Perpisahan kami saat itu kuanggap sementara saja, meski kutau ia telah menentukan pilihan hidupnya yang tidak kupercaya. Perempuan itu tersenyum dan akupun tersenyum. Sebagai sahabat bermain sejak kecil hal tersebut biasa kami lakukan bila hari sudah senja, permainan harus diakhiri dan kami pulang ke rumah masing-masing.

Tetapi ternyata lambaiannya saat itu adalah lambaian terlembut dan yang terakhir kusaksikan, apalagi sambil memegangi ujung kerudung segi tiganya sambil tersenyum.

Hingga usiaku yang memasuki angka tujuh puluhan seperti saat ini aku tidak pernah bertemu dia lagi. Itulah salah satu alasan mengapa aku memilih toko persis di tempat kita duduk saat ini, agar setiap waktu aku dapat memandang kenangan di ujung jalan itu.

Agar setiap pagi aku dapat melihat rumah tua berlantai dua itu sebagai harapan, sebagai album”, kenang Kasha seolah tidak pernah menyesali waktu-waktu pada masa kanak dan remajanya.

Dengan tanpa memandangi sumber cerita, lelaki di sampingya kembali bertanya secara spontan.

“Siapa perempuan itu?”
Kasha menghela nafas dalam-dalam, seolah apa dan siapa yang ia ceritakan adalah juga orang yang sama seperti dalam pikiran lelaki di sampingnya.

Tetapi Kasha tidak menjawab pertanyaan itu meski ia tau reaksi pemuda itu akan demikian. Selain itu Kasha juga merasa terjebak dengan kisahnya sendiri yang selama berpuluh tahun ia pendam sendiri, dan kini harus terungkap di hadapan seseorang yang mengaku sebagai anak dari sahabatnya.

Sambil menghela nafas lagi ia melanjutkan kisahnya.

“Aku mengenal perempuan itu sejak masih kanak. Kami sering bermain bersama di sepanjang pelataran toko sambil berlarian menghitung orang-orang yang lalu-lalang. Setiap sore kami membantu para pedagang memasukkan barang-barang dagangan ke dalam toko sebelum ditutup karena malam akan tiba. Masa kanak kami sangat ceria dan tanpa beban sama sekali, tulus dan penuh kesahajaan”.

Kasha masih terus memandangi ujung jalan itu tanpa menoleh sedikitpun sambil bercerita. Matanya demikian berbinar seolah adegan demi adegan ia saksikan berkelibat di hadapannya. Namun sesekali bibirnya juga tersenyum seolah ada kelucuan yang menggelitik hatinya.

“Perempuan itu sangat baik hati. Terkadang ia membawa makanan untuk kami santap bersama di ujung jalan itu. Bahkan terkadang ia juga membawa buah-buahan dan membaginya pada anak-anak lain, ahk. Pada waktu-waktu tertentu kami akan duduk melingkar di sudut halaman rumah itu untuk mendengarkan dongeng yang dituturkan oleh bapak pemilik rumah.

Inilah saa-saat dimana semua anak-anak akan terdiam dan kaku, khusuk menyimak cerita. Bila bapak sang pemilik rumah tidak ada karena suatu pekerjaan atau kesibukan lainnya, perempuan itu yang maju ke depan dan

menceritakan dongengnya dengan ceria”.
Ketika Kasha semakin khusuk dengan ceritanya lelaki yang di sampingnya kembali bertanya dengan suara agak lirih.

“Siapa perempuan itu, siapa namanya?, tanyanya.

Kasha merasa semakin terjebak dalam kisahnya sendiri. [SY] Bersambung…

 

Comments

comments