Sejarah Singkat Penghulu Kebet

oleh

Oleh : Azman, MA*

Pengulu Kebet merupakan salah seorang raja yang berkuasa di salah satu bagian wilayah administratif Gayo pada masa penjajahan Belanda dan Jepang.

Pengulu Kebet merupakan seorang raja yang sampai anak keturunannya masih mampu menjaga, mempertahankan sekaligus melestarikan simbol-simbol kepemimpinannya hingga saat ini.

Salah satu tinggalannya yang paling nyata dan bersejarah di Gayo adalah berupa bangunan untuk urusan administratif pemerintahan ketika itu, meskipun bangunan tersebut sudah berusia 96 Tahun.

Namun, sampai saat ini wujudnya masih bisa kita saksikan berdiri kokoh di daerah Kampung Kung Kecamatan Pegasing Kabupaten Aceh Tengah, masyarakat Gayo sering menyebut tinggalan bangunan Pengulu Kebet tersebut dengan sebutan “UMAH KANTUR”.

Arsitektur Umah Kantur hampir menyerupai Rumah adat Gayo (Umah pitu ruang), yang berbentuk panggung dengan beberapa tiang penyangga yang besar dan kokoh, ruangan, jumlah pintu, serta jendelanya.

Umah Kantur merupakan tinggalan bersejarah dari Pengulu Kebet (Nyak Ali Bin Adam) yang dibangunnya pertama kali saat beliau berusia 45 Tahun ketika itu, yaitu tepat pada tahun 1925.

Pengulu Kebet merupakan seorang raja yang berkuasa di seputaran wilayah administratif Pegasing ketika itu sebagai kepala pemerintahan.

Selain sebagai tempat kediaman keluarga Pengulu Kebet, Umah Kantur juga sekaligus sebagai pusat administrasi Pemerintahan di seputaran wilayah Pegasing ketika itu.

Berikut silsilah singkat Pengulu Kebet yang disampaikan oleh Meriem (Istri dari M. Yusuf Bin Husin). Beliau merupakan generasi ketiga keluarga keturunan Pengulu Kebet di Kampung Kung Kecamatan Pegasing Kabupaten Aceh Tengah :

  • NYAK ALI Bin ADAM (Pengulu Kebet)
    Lahir: 1880
    Wafat: 1950
  • HUSIN Bin NYAK ALI (Generasi ke 2)
    Lahir: 1918
    Wafat: 22-1-1993
  • M. YUSUF Bin HUSIN (Generasi ke 3)
    Lahir: 1-7-1945
    Wafat: 21-9- 2015

Ditengah keterbatasannya, sampai saat ini keturunan Pengulu Kebet masih mendiami dan menjaga bangunan tinggalan sejarah Moyang mereka tersebut dengan penuh tanggungjawab dan dedikasi.

Ada banyak cerita dan sejarah tentunya yang belum tergali dari Umah Kantur. Penghulu Kebet dan juga keturunanannya, tentu ini menjadi tugas kita semua sebagai generasi muda untuk terus menuliskan dan mendokumentasikannya, agar satu persatu khazanah identitas sejarah ini betul-betul menjadi bagian dari kita.

Alm. Tengku Ilyes Lebe pernah menyampaikan bahwa “siapa-siapa yang betul-betul mampu mengenali dirinya maka dia akan mengenali siapa tuhannya”.

*Pamong Budaya Aceh Tengah, Ditjen Kebudayaan RI

Comments

comments