Memahami Hari Raya Idul Fitri

oleh
Drs Jamhuri (foto:tarina)

Oleh : Drs. Jamhuri Ungel, MA*

Sebulan penuh telah melaksanakan puasa, sebulan penuh telah melaksanakan latihan untuk tidak makan dan minum pada siang hari (mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari), telah sebulan penuh melaksanakan ibadah sunat yang tidak dilaksanakan pada bulan-bulan yang lain.

Dalam sebulan ini juga kita telah berlatih menjadi orang yang hidup berada kendati semua orang secara lisan mengatakan gara-gara corona keadaan menjadi lebih susah, biktinya kita membayar zakat fitrah, bisa makan makanan yang lebih bergizi (baik ketika berbuka atau ketika sahur) dan terakhir dapat membeli baju lebaran.

Allah SWT. Menyebutkan dalam potongan surat al-baqarah ayat 185, yang artinya :
“…Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadam, supaya kamu bersyukur )

Rasulullah memberi petunjuk kepada ummatnya supaya merayakan dua hari raya yakni hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, mengeraskan takbir, bersilaturrahmi (saling memaafkan) dan lain-lain anjuran Rasulullah dalam rangka menyambut selesainya pelaksanaan ibadah puasa.

Bermacam-macam bentuk kegembiraan yang diekspresikan oleh kaum muslim diseluruh dunia, ada yang menyiapkan makanan untuk para tamu yang berkunjung selama hari raya dengan jumlah yang banyak dan dengan beragam makanan, mulai dari makanan tradisional sampai kepada makanan moderen.

Tapi terkadang kita merasa sayang karena dengan munculnya makanan-makanan moderen makanan tradisional sudah mulai hilang dari masyarakat, dan yang lebih kita takutkan lagi satu saat makanan tersebut akan hilang dan mereka yang mampu membuatnya juga tidak ada lagi, kalau hal ini terjadi maka identitas yang dimiliki akan hilang dan beras kemungkinan bahwa keberagaman yang dikehendaki Allah tidak ada lagi.

Kegembiraan lain yang dilakukan masyarakat adalah melaksanakan takbir bersama dengan baik di tempat-temat ibadah (mushalla atau mesjid) atau juga dengan cara berkeliling kampung atau kota dengan cara berjalan kaki dan juga dengan menggunakan sepeda motor dan mobil.

Kegembiraan seperti ini mendapat sambutan baik dari Pemerintah sehingga setiap tahun Pemerintah mempasilitasi acara takbir keliling ini. Untuk takbir ini juga ada tradisi yang hilang di dalam masyarakat, dimana pada tahun 80-an setelah shalat isya masyarakat takbir di menasa kemudian dilanjutkan di rumah masyarakat secara bergantian setiap tahun.

Karena ajaran Rasulullah masyarakat tetap melaksanakan makan sahur sebelum berangkat melaksanakan shalat ‘id sebagaimana hari-hari selama buram ramadhan ini juga memberi hikma karena shalat ‘Idul Fitri berbeda dengan ‘Idul adha, kalau ‘Idhul Adha lebih awal dimulai untuk mempercepat kaum muslimin memotong hewan qurban sedang ‘Idul Fitri lebih lama dimulai untuk memberi kesempatan kepada kaum muslimin untuk membayar zakat fithrah yang merupakan kewajiban kaum muslimin sebelum melaksanakan ibadah shalat ‘Idul Fitri.

Rasulullah mensunnahkan kepada kaum muslimin yang akan melaksanakan ibadah shalat untuk berpenampilan bersih, karena itu kaum muslim sunnah untuk mandi dan mengenakan baju baru untuk menuju lapangan tempat melaksanakan ibadah shalat hari raya. Ulama menulis dalam kitab-kitabnya tentu dengan dasar dari hadis Nabi kalau shalat ‘id itu dilaksanakan dilapangan terbuka berbeda dengan shalat jum’at yang dilaksanakan di masjid.

Beda lain dengan shalat jum’at adalah pelaksanaan shalat ‘id mendahului khutbah sedang pada shalat jum’at pelaksanaan khutbah mendahului shaat, sehingga banyak jamaah dalam shalat ‘id sebelum selesai khutbah mereka sudah meninggalkan jamaah pada hal khutbah itu sendiri menjadi rukun dalam pelaksanaan shalat ‘id.

Pernah terjadi pda masa pemerintahan Turki Usmani dimana pana pasa saat itu karena banyaknya mereka yang shalat ‘id meninggalkan jamah maka Pemerintah menetapkan pelaksanaan shalat ‘id disamakan dengan shalat jum’at sehingga pada saat itu dinyatakan datangnya bencana dan itu salah satu bentuk skulernya pemerintahan Turki Usmani.

Untuk itu kita ingatkan kepada para ulama untuk tidak bosan memberi tau kepada masyarakat tentang kebenaran hukum agama, karena kalau terus dibenarkan hal itu terjadi maka kebenaran akan hilang dan bencana dengan mudahnya akan datang. []

Comments

comments