Dan Ratu Elizabeth Pun Belajar Adab ke Beutong

oleh

Oleh : Fauzan Azima*

Adab itu kurang lebih artinya sopan santun atau menjaga perasaan orang lain dan kelompok. Adab baik tertulis atau tidak mengatur hubungan manusia; Anak terhadap orang tua, murid terhadap guru, suami terhadap istri dan sebaliknya. intinya adab adalah kehalusan budi pekerti.

Biasa adab itu kental terasa di daerah terpencil. Seperti di Samarkilang, Linge dan Beutong Ateuh. Seiring dengan perkembangan zaman sedikit demi sedikit adab mulai tergerus. Akhirnya adab yang baik di masa lalu, kini tinggal cerita.

Kabarnya, pada zaman dahulu kala di Beutong, adab istri terhadap suami tidak ada bandingannya di belahan dunia manapun. Perempuan Beutong sejak dini wajib memanjangkan rambutnya dengan berbagai ramuan obat tradisional; terutama minyak kemiri. Sehingga rambut mereka panjang sampai ke betis, bahkan sebagian sampai menyentuh tanah.

Tujuan mereka berambut panjang adalah sebagai sarana penghormatan istri terhadap suami. Ketika suami lelah pulang dari ladang, sang istri telah menyiapkan air hangat di dalam tempayan dan membersihkan seluruh tubuh suaminya dengan rambut panjangnya sebelum sang suami mandi.

Konon, begitu tinggi adab perempuan Beutong kepada suami inilah yang membuat kagum Ratu Elizabeth. Dalam waktu-waktu senggang, Sang Ratu mempelajari dan mempraktekkan “kitab adab perempuan Beutong” untuk diterapkan oleh istri para bangsawan di negerinya.

Pada saat ini, tentu kita berharap, semua kita, wabil khusus kepada para perempuan untuk membangkitkan kembali adab dalam hidup dan kehidupan, terutama dalam berumah tangga agar suami istri hidup rukun damai. Apalagi untuk mendapatkan “bahan baku” adab tersebut tidak perlu jauh-jauh harus melakukan studi banding ke luar daerah. Cukup datangi daerah terpencil.

Fakta pada hari ini, perceraian terjadi di Aceh cukup tinggi. Pada tahun 2020 tercatat 6.090 perkara perceraian. Kaum istri menggugat suami sebanyak 4.532 perkara dan suami menggugat cerai istrinya sejumlah 1.558 perkara. Sejujurnya patut diakui hancurnya rumah tangga itu karena masing-masing pihak sudah meninggalkan adab.

Begitu pentingnya adab bagi sendi-sendi kehidupan, sehingga para ulama berpendapat, “Adab lebih tinggi daripada ilmu”.

Pernyataan itu bukan tidak beralasan; Orang yang sebelumnya tidak faham pengkajian alif ba ta, dalam waktu semalam bisa menjadi “rektor” karena konsisten berpegang teguh pada adab.

Seperti yang terjadi pada Syech Baba Daud, seorang santri yang paling tidak berilmu pada perguruan tinggi yang dipimpin Teungku Syiah Kuala di Kampung Mulia, Kota Raja.

Sampai pada satu saat cincin Teungku Syiah Kuala (Syechku Allah) jatuh ke dalam lubang WC. Dalam pada itu, beliau mengumpulkan santrinya dengan kerelaan untuk mengambil cincinnya, namun tidak ada yang mau, kecuali Baba Daud yang dengan ikhlas menguras lubang WC yang dipakai puluhan tahun oleh puluhan ribu santri dari seluruh dunia.

Setelah sholat subuh, Baba Daud menghadap kepada Teungku Syiah Kuala dan memberikan cincinnya. Setelah menerimanya, Mufti Sri Ratu Safiatuddin itu mengumumkan di depan ribuan santrinya; “Mulai subuh besok, para santri belajar pada Baba Daud.”

Semua santri tercengang. Bagaimana mungkin belajar pada Baba Daud yang dikenal kurang ilmu dari mereka. Namun tidak ada yang mustahil bagi Teungku Syiah Kuala dan tentu saja bertanggung jawab terhadap ucapannya.

Subuh besoknya benar Baba Daud benar-benar telah menjadi Syech (guru) yang mengetahui dan mengajarkan ilmu pengetahuan kepada seluruh santri yang tidak mereka ketahui.

Syech Baba Daud menyadari bahwa kemampuan manusia di masa depan dalam mempelajari ilmu hakikat dan ma’rifat akan sulit dijangkau akalnya. Sehingga sebagai jembatannya beliau susun kitab “Masailal Mubtadi” untuk memudahkan orang awam belajar ilmu di atas tingkatan syariat dan tarikat.

(Mendale, 7 April 2021)

Comments

comments