Apa Pentingnya Generasi Muda Jadi Pemimpin?

oleh

Oleh : Ramli P*

Ibarat manusia, usia 19 tahun sudah memasuki usia dewasa. Di mana seorang manusia sudah disebut akil balig karena sudah berakal, memahami atau mengetahui segala sesuatu, baik benar maupun salah. Usia 19 tahun tak ada lagi toleransi dari keluarga, jika salah maka sudah saatnya dibilang salah. Jika memang melakukan kebenaran, maka sudah saatnya memberikan apresiasi.

Demikian halnya Gayo Lues di usia yang ke-19 tahun ini sudah saatnya memberikan penilaian yang objektif dari berbagai sisi kehidupan, baik pembangunan infrastruktur maupun non infrastruktur. Konsep pembangunan pentahelix sudah mulai berjalan dengan baik, yakni pemerintah menggandeng akademisi, media, masyarakat (komunitas), dan pengusaha dalam pengambilan kebijakan.

Dilihat dari indeks pembangunan manusia (IPM), Gayo Lues selalu mengalami kenaikan. Tahun 2017 IPM Gayo Lues 65.01 persen, 2018 menjadi 65,88 persen, 2019 menjadi 66,87, dan 2020 menjadi 67,22 persen. IPM mengukur pencapaian hasil pembangunan dari suatu daerah/wilayah dalam tiga dimensi dasar pembangunan, yaitu lamanya hidup, pengetahuan/tingkat pendidikan dan standar hidup layak.

Pencapaian ini adalah hasil dari kepemimpinan Bupati Gayo Lues periode 2012-2017 H. Ibnu Hasyim dan Bupati Gayo Lues periode 2017-sekarang. Selain menaikkan IPM, para bupati sejak dari almarhum Muhammad Ali Kasim, Ibnu Hasyim, dan Muhammad Amru telah melakukan berbagai inovasi dalam membangun Gayo Lues.

Dalam hal transparansi dan akuntabilitas penggunaan keuangan negara, Pemerintah Kabupaten Gayo Lues sudah berkali-kali menerima opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Inti dari tulisan singkat ini adalah, bagaimana membuat Gayo Lues ke depan semakin memiliki daya saing dibanding daerah tetangga. Pemimpin seperti apa yang cocok untuk memimpin Gayo Lues di masa yang akan datang. Saya tertarik membaca sebuah tulisan salah satu tokoh Gayo Lues, Bapak Buniyamin dengan judul ‘Gayo Lues Krisis Kepemimpinan?’

Ia mengulas dan perihatin, bahwa seolah-olah daerah yang memiliki penduduk 95.370 jiwa dan luas wilayan 5.720 km² tersebut hanya memiliki tiga sosok pemimpin untuk masa yang akan datang, yakni H. Ibnu Hasyim, H. Irmawan, dan H. Muhammad Amru.

Memang harus diakui bahwa mereka adalah tokoh ulung dalam berpolitik, sehingga masing-masing mereka memiliki karir yang cerah hingga saat ini. Misalnya, Irmawan yang dulunya gagal meraih kursi BL 1 B akhirnya sukses sebagai anggota DPR RI dua periode.

Muhammad Amru yang dulunya sebagai anggota DPRA sukses meraih BL 1 B. Ibnu Hasyim yang dulunya sebagai bupati dua periode, kini memilih karir sebagai anggota DPRK. Banyak yang menyayangkan, harusnya sebagai eks bupati dua periode yang memiliki segudang pengalaman bisa meraih jabatan di tingkat provinsi atau nasional. Sehingga penguatan jaringan dalam hal pembangunan Gayo Lues semakin lengkap di masa yang akan datang.

Melihat dari posisinya, mereka yang disebut ‘trio’ oleh Bapak Buniyamin sudah seharusnya menjadi inspirasi generasi muda di masa yang akan datang. Mereka adalah mentor handal yang bisa dijadikan panutan dalam pembangunan Gayo Lues ke depan. Namun ada benarnya bahwa Gayo Lues tidak memiliki sosok pemimpin ideal masa yang akan datang. Buktinya, setiap akan ada pesta demokrasi maka yang selalu muncul adalah Ibnu Hasyim, Irmawan, dan Muhammad Amru.

Dengan demikian, regenerasi kepemimpinan di Gayo Lues seolah berhenti hanya di tiga tokoh itu. Hak politik memang ada di tangan mereka, apakah mereka akan berebut BL 1 B di tahun 2024 itu tergantung mereka. Namun jika boleh memberi saran, sebaiknya beri kesempatan dan kepercayaan kepada generasi muda untuk memimpin Gayo Lues.

Ada banyak daerah di Indonesia yang memiliki pemimpin muda dan milenial, sebut saja Audy Joinaldy (37) – Wakil Gubernur Sumatera Barat, Emil Elestianto Dardak (36) – Wakil Gubernur Jawa Timur, Taj Yasin Maimoen (37) – Wakil Gubernur Jawa Tengah, Aditya Halindra Faridzki (28) – Bupati Tuban, Dico M Ganinduto (31) – Bupati Kendal, Gibran Rakabuming Raka (35) – Wali Kota Solo, dan masih banyak lagi.

Dunia akan terus berputar, waktu pun akan selalu bergulir tanpa pernah berhenti atau kembali. Generasi milenial yang kali ini menguasai dunia, dapat dikatakan sangat unik jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Karena teknologi telah menghiasi kehidupan mereka.

Pemimpin muda memiliki kelebihan yang dapat diandalkan dalam memimpin, di antaranya pemimpin muda memiliki semangat yang tinggi. Semangat yang menggebu inilah yang menghadirkan mimpi dan ide yang bila terlaksana akan menjadi suatu karya yang cemerlang.

Selain itu, anak muda melek teknologi. Ini adalah abad 21, abad di mana internet dan gawai canggih merajai semua aktivitas manusia, termasuk politik dan pemerintahan. Anak muda zaman sekarang sudah dipastikan memiliki kemampuan memanfaatkan teknologi informasi dengan lancar, ini dapat mendukung kebijakan dan keputusan.

Saat ini, bukan hanya era industri 4.0 yang digalakkan. Namun sudah mengarah pada society 5.0 yang lebih kompleks dalam hal teknologi. Oleh karena itu, hanya pemimpin muda yang bisa memanfaatkan peluang ini. Tujuannya, segala kebijakan akan dikolaborasikan dengan teknologi.

Selanjutnya, anak muda memiliki pemikiran yang lebih efisien, tidak ada cerita atau pendahuluan yang panjang lebar. Seorang anak muda biasanya to the point, jarang untuk basa-basi. Komunikasi bentuk ini justru lebih mudah dicerna oleh bawahan, dan dapat segera dilaksanakan. Itulah kelebihan anak muda menjadi pemimpin. Karena itu, sudah saatnya suatu daerah dipimpin oleh anak muda.

*Mahasiswa S2 Administasi Publik – Universitas Merdeka Malang asal Gayo Lues

Comments

comments