[Bag.2] Deddy “Dewa” Corbuzier Sang Greatest Showman Indonesia : Unjuk Kemampuan Sang Dewa

oleh
Deddy Corbuzier (Sumber : internet)

Oleh : Win Wan Nur*

Dengan plot yang persis sama seperti yang pernah dibuat tim salah satu capres belasan tahun yang mengantarkan capresnya menduduki kursi kepresidenan di negara ini, lalu juga kembali dipraktekkan oleh salah seorang calon gubernur, plot drama orang lemah tak berdaya yang dizalimi yang ditulis Ali Akbar dengan menjadikan Dewa Kipas sebagai sosok sentralnya, terbukti membangkitkan semangat nasionalisme, ghirah berbangasa Indonesia.

Nama Dewa Kipas viral. Seperti pecinta tinju Amerika yang dimanipulasi oleh Rev. Fred Sultan yang mulai percaya kalau Conklin sang petiunju antah berantah ini akan mampu mengalahkan juara dunia. Masyarakat Indonesia yang 99,99% tak paham dinamika dunia catur professional, juga sama, malah hype yang tercipta melebihi hype yang digambarkan di film itu.

Dewa Kipas menjadi local hero. Netizen Indonesia mulai melecehkan para pecatur pro karena dianggap kurang jauh mainnya, sehinga tak tahu di pos-pos ronda Indonesia, bertebaran mutiara terpendam yang tak pernah muncul ke permukaan.

Dewa Kipas dibicarakan di mana-mana, dengan berbagai nada kekaguman berbau hiperbola. (Mereka sama sekali tidak tahu, kalau dulu untuk melatih mentalnya, Irene Kharisma Sukandar sewaktu masih bocah berusia 8 atau 9 tahun, justru oleh bapaknya rutin dibawa berkeliling dari satu lapak catur ke lapak lain, dari satu pos ronda ke pos ronda lain untuk melawan pecatur paling jago di setiap lapak)

Sudah begini, seperti biasa. Waktu untuk Deddy Corbuzier mengambil peran.

Sejak meninggalkan dunia sulap dan memilih jalur karir baru sebagai host bincang-bincang. DC dengan acara hitam putihnya, memilih ceruk baru yang belum digarap oleh acara bincang-bincang yang sudah ada.

Pilihan segmen pasar acara bincang-bincang yang dipilih DC cukup menarik. Dia tidak mengambil segmen bincang-bincang yang sangat cerdas ala Larry King yang sudah identik dengan Najwa Shihab, atau model humanis yang host begitu akrab dengan nara sumber ala Oprah Winfrey yang sudah identik dengan Andy F. Noya atau model lucu pol yang sudah identik dengan Tukul Arwana yang gaya konyol sampai model rambut plek ketiplek meng-copy Arsenio Hall.

DC memilih ceruk pasar yang khas dengan mengundang tokoh yang sedang hit atau bahasa sekarang viral. Baik itu sosok yang sudah terkenal atau baru viral di YouTube, dan terbukti acaranya ini sukses, karena acaranya ini dapat dicerna semua kalangan.

Sebab bincang-bincang DC, meski banyak mengeluarkan pertanyaan cerdas, tapi tidak terlalu canggih sehingga sulit dicerna awam, begitu juga dengan kekonyolan tidak sampai ditampilkan dengan dosis maksimal seperti yang ditampilkan Tukul Arwana dengan Bukan Empat Matanya.

Belakangan, dunia bisnis pertelevisian arah-arahnya mulai menuju senjakala. YouTube mulai diminati orang dan dalam beberapa hal, mulai menyaingi pengaruh televise.

Sukses di Hitam Putih, mengikuti trend yang berkembang di tengah senjakala dunia bisnis pertelevisian. Deddy Corbuzier, dengan sigap segera menangkap platform baru ini. Di sinipun, DC tetap tidak mengikuti format yang sudah memberikan sukses besar bagi YouTuber sebelum dia, mulai dari prank, pamer kekayaan atau memberi « give away »

DC membuat channel YouTube dengan format bincang-bincang, podcast istilahnya. Sebuah istilah yang sebenarnya rancu, karena podcast artinya adalah bincang-bincang ala radio, di internet, tidak ada gambarnya. Tapi DC, merevolusinya dan menjadi trend.

Seperti sewaktu menjadi pesulap, sebagai host pun DC melakukannya benar-benar dengan serius, memulai karyanya dengan riset yang matang. Mulai dari gaya penampilan sampai format acara, tema, sampai siapa yang diundang terlihat benar-benar dikonsep dengan serius.

Sebagai acuan, Deddy Corbuzier memilih The Joe Rogan Experience , sebuah acara podcast milik Joseph James “Joe” Rogan, seorang podcaster, komentator olahraga, dan komedian stand up, yang mengundang orang-orang dari berbagai latar belakang. Mulai dari bentuk studio, kepala botak sampai badan kekarnya, DC mengacu pada Joe Rogan.

Seperti podcast Joe Rogan, format bincang-bincang DC masih tidak jauh dari format Hitam Putih di TV, bedanya ini dilakukan ala studio radio dan apa yang diobrolkan, jauh lebih bebas dibandingkan di televisi, karena YouTube ada di luar wewenang KPI.

Begitulah, dengan format seperti ini podcast Deddy Corbuzier dengan cepat menjadi salah satu channel YouTube paling banyak ditonton di Indonesia.

Dalam perkembangannya, selain mengundang tokoh-tokoh viral, podcast Deddy juga sering menjadi ajang klarifikasi bagi tokoh-tokoh yang entah kelakuan ataupun ucapannya menjadi kontroversi di masyarakat.

Dan ini yang menurut saya sangat menarik dari podcast DC, berbeda dengan Najwa atau Andy Noya yang terlihat begitu menguasai tema, materi dan segala seluk beluk tokoh yang diundangnya. DC, seringkali bukan hanya terlihat tidak menguasai tapi juga kadang menunjukkan dia tidak tahu apa-apa mengenai tema yang dibahas di podcast-nya.

Tapi hebatnya, ketidaktahuannya itu tidak membuatnya terlihat bodoh, tapi sebaliknya membuatnya seperti orang yang benar-benar belajar.

Begitulah, ketika kontroversi Dewa Kipas viral, Deddy masuk. Dia mengundang Dewa Kipas dan sang penulis skrip drama kita Ali Akbar di podcast nya.

Wawancara ini ditonton lebih dari 4 juta orang. Skrip drama yang tadinya hanya ditulis Ali Akbar di media sosialnya, jadi teramplikasi jauh lebih masif. Mendengar kombur Dewa Kipas dan Ali Akbar di podcast DC, masyarakat Indonesia yang 99,99% tak paham dalamnya laut dan tingginya langit dunia catur professional semakin menggila mengagungkan Dewa Kipas, sampai keluarlah ungkapan itu « Di atas langit, ada Dewa Kipas »

Tapi, bagi orang-orang yang mengerti catur, kombur Dewa Kipas dan anaknya tentu bikin panas kuping.

Lalu muncullah surat terbuka dari Irene Kharisma Sukandar, pecatur perempuan dengan Elo Rating tertinggi di Indonesia. Di surat terbuka itu, Irene dengan jernih menggambarkan bagaimana tidak mengenakkannya situasi yang dihadapi Indonesia, atlet-atlet catur yang sudah berulangkali mengharumkan nama negara, di hadapan para pecatur dari belahan dunia lainnya akibat kontroversi yang diciptakan Dewa Kipas dan anaknya si penulis skrip drama.

Seperti sudah diduga, masyarakat Indonesia yang sudah mabuk dalam plot drama yang dibuat Ali Akbar. Plot drama yang dengan plot seperti yang dibuat Ali Akbar memang terbukti mematikan. Contohnya, belasan tahun yang lalu dimainkan oleh seorang menteri pecatan yang mencalonkan diri jadi presiden dan sukses menduduki jabatan tertinggi itu selama dua periode. Kemudian, beberapa tahun yang lalu, seorang menteri pecatan lain, juga memainkan plot drama yang sama, berhasil mengantarkannya ke kursi gubernur.

Alih-alih menerima penjelasan Irene yang begitu jelas latar belakang caturnya, begitu jelas jejak prestasi dan penghargaan yang dia terima. Rakyat Indonesia malah menghujat Irene, demi membela seorang “jagoan” yang sama sekali belum pernah mereka ketahui jejak permainannya di dunia nyata. Yang sepenuhnya mereka kenal hanya berdasarkan skrip drama yang ditulis anaknya.

Situasi ini diperparah oleh media. Bukan hanya media abal-abal yang mengandalkan click bait, bahkan media resmi anggota Dewan Pers, memframing berita ini dengan mengabaikan aturan dasar etika jurnalistik, cover both sides. Media-media ini seperti berlomba-lomba menampilkan judul bombastis dan isi berita yang tidak menyeluruh. Ketika berita ini (seperti biasa) dikutip beritanya di WAG dan media sosial, Irene benar-benar menjadi bulan-bulanan.

Dalam situasi seperti inilah Deddy Corbuzier mengundang Irene ke podcast-nya.

Tapi segala penjelasan Irene yang begitu jernih, professional dan berbasiskan data, bahkan Gotham Chess ikut memberi klarifikasi, hal itu tak mampu memperbaiki citra Irene di mata masyarakat Indonesia. Masyarakat tetap melihat Irene dan para pecatur Indonesia yang sudah mengharumkan nama bangsa kemana-mana, seperti pengkhianat bangsa yang menzalimi Dewa Kipas sang pahlawan bangsa.

Dan inilah yang menjadi pemicu terjadinya duel catur fenomenal itu, dimana kita semua melihat kapasitasnya sebagai Dewa Entertainment “The Real Greatest Showman Indonesia.”

Setelah podcast itu, masyarakat yang sangat yakin Dewa Kipas sedemikian saktinya, menuntut Irene untuk melawannya. Ketika Irene yang harus meminta izin Percasi belum langsung menyanggupi, di masyarakat beredar kalau Irene takut dan lebih jauh lagi, para pecatur professional dan percasi takut mukanya tercoreng karena jagoannya kalah oleh pecatur antah berantah.

Di sisi lain, Dewa Kipas sendiri yang tahu kemampuannya sendiri menolak untuk bertanding, karena merasa tak ada lagi yang perlu dibuktikan.

Ketikas situasi deadlock, seperti Rev. Fred Sultan yang begitu yakin akan bisa menjadikan pertarungan juara dunia sejati dengan petinju antah berantah menjadi pertandingan tinju paling ditunggu dunia, Deddy pun demikian, dia yakin bisa menjadikan pertandingan catur Dewa Kipas sang pecatur antah berantah ini untuk menjadi sebuah pertandingan catur yang paling diminati dan ditunggu masyarakat, hadir menawarkan pertandingan dengan iming-iming hadiah fantastis.

Tidak tanggung-tanggung, sebelum dia tahu akan dapat sponsor atau tidak. Deddy menawarkan uang hadiah 200 juta dari kantongnya sendiri untuk dibagi dua, tidak peduli siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Menariknya, tidak seperti Rev. Fred Sultan yang sangat paham dunia tinju profesional, Deddy Corbuzier sang Greatest Showman ini tidak, dia sama awamnya tentang dunia catur professional dengan 99,99% rakyat Indonesia.

Dalam kasus hype-nya Dewa Kipas ini, sisi licik dan manipulatifnya Rev. Fred Sultan diwakili oleh Ali Akbar, sang penulis skrip drama, anak semata wayang Dadang Subur yang berada di balik akun Dewa Kipas.

Dan benar saja, ketika pertandingan ini terlaksana, tayangan langsungnya saja diklik orang sebanyak 1,2 juta kali. Terbanyak dari pertandingan catur manapun di dunia yang disiarkan langsung di YouTube. Fenomena ini sampai membuat FIDE (FIFA-nya catur) mengulasnya.

Potensi yang dilihat Deddy juga dilihat oleh sponsor, sehingga hadiah yang tadinya dijanjikan 200 juta, naik jadi 300 juta. 200 juta untuk pemenang dan 100 juta untuk yang kalah.

Setelah selesai, pertandingan yang sama-sama sudah kita ketahui hasilnya ini, berbagai rekor impresif kembali tercipta. Pertandingan Magnus Carlsen vs Hikaru Nakamura, Pemilik peringkat 1 dan 2 catur dunia, di final world blitz chess Championship 2019 yang disebut sebagai Match of The Year, berhasil menarik perhatian 1.180.556 penonton setelah lebih dari satu tahun sejak video ini pertama kali ditayangkan di YouTube.

Dewa Kipas vs Irene Kharisma Sukandar, ditonton 7.387.275 orang dalam waktu 17 jam sejak video ini pertama kali ditayangkan di YouTube. Bahkan hari ini, tiga hari setelah pertandingan itu berlangsung, pertandingan itu sudah ditonton lebih dari Sembilan setengah juta orang. Lebih banyak dari pertandingan catur apapun yang pernah ditayangkan YouTube.

Tapi itu hanyalah satu hal, di balik angka-angka yang impresif itu, ada hal yang jauh lebih besar dilakukan oleh Deddy Corbuzier, sang Dewa The Greatest Showman of Indonesia ini.

Kalau Rev. Fred Sultan menyelenggarakan pertandingan tinju semata karena tujuan komersil tanpa manfaat apapun dibaliknya.

Deddy Corbuzier, melalui pertandingan caturnya, berhasil mengubah segala dampak negatif yang dihasilkan drama Dewa Kipas, mulai dari aib yang harus diterima Indonesia di komunitas catur internasional, ketidakpercayaan masyarakat pada proses yang benar dalam meraih prestasi, sikap antipati masyarakat para pecatur pro sekaligus atlet nasional. Menjadi atmosfer yang benar-benar positif.

Di samping Deddy Corbuzier sendiri mendapatkan uang luar biasa banyaknya, sesuatu yang memang sangat pantas dia dapatkan, Orang Indonesia yang sebelumnya 99,99% awam terkait catur profesional, sekarang terbuka wawasannya dan mulai tertarik mendalami catur.

Susanto Megaranto yang menjadi komentator di pertandingan ini dan Irene Kharisma Sukandar dengan prestasinya yang mendunia yang sudah berulangkali mengharumkan nama negara tapi sebelumnya tak banyak dikenal orang, sekarang sudah menjadi pesohor baru.

Terkait : [Bag.1] Deddy “Dewa” Corbuzier Sang Greatest Showman Indonesia

Chelsie Monica (ini yang paling menarik), atlit muda cantik dan berprestasi yang bersama Susanto Megaranto menjadi komentator pertandingan ini. Sebelum pertandingan Dewa Kipas melawan Irene cuma punya pengikut 4000 orang di Instagram, per komentar ini ditulis pengikutnya melonjak menjadi 140 ribu dan kemarin langsung mendapatkan endorse pertamanya. Pertandingan caturnya di Chess.com yang dia siarkan langsung yang biasanya hanya ditonton kurang dari 10 ribu orang, sekarang ditonton sampai 300 ribu orang.

Gotham Chess, orang yang paling terzalimi oleh drama ini, yang sebelumnya pernah membutuhkan waktu 5 bulan untuk mendapatkan 64 k Views di YouTubenya, sekarang hanya dalam waktu 15 jam bisa mendapatkan 194k views.

Sementara itu, Dewa Kipas masih tetap dengan dramanya, beralasan tak biasa main 10 menit, kalau waktu lebih panjang dia bisa mengalahkan Irene bla bla bla, berharap masih ada orang Indonesia yang percaya.

Ali Akbar sekarang dihujat banyak orang dan mulai menutup beberapa komentar akun media sosialnya….

Sehingga tidaklah berlebihan, jika setelah acara ini salah seorang netizen +62 berkomentar “Lebih dari menghidupkan dunia percaturan, Deddy menghidupkan indonesia. Orang seperti Deddy Corbuzier adalah sosok orang yang sangat di butuhkan di Indonesia.” []

Comments

comments