Puisi] Senja Gerimis

oleh

[Puisi] Senja Gerimis
Vera Hastuti

Di malam selepas gerimis
Kutulis sajak tentang rindu
Aku merenungkan kenangan
Menerjemahkannya dalam sebait doa

Dari setapak kesunyian
Kenangan-kenangan kegembiraan semasa bocah dulu
Menari-nari dalam pualam waktu
Ah…
Begitu ingin kembali
Menjadi anak kecil
Menghabiskan separuh waktu dengan bermain
Di sore yang ritmis
Saat matahari tergelincir ke ufuk Barat

Malam merakit cerita petang
Terbayang rumah masa kecil
Ruang-ruangnya berisi banyak kasih sayang
Simponi cinta dan kebahagiaan
Terbayang ibu menyeduh Arabika
Bertahun-tahun ia menanak rindu
Pada kehangatan tungku-tungku dapur yang basah
Ah..masa kecil selalu membuat rindu.

Kampung Halaman
Pada semua kenangan
Ada yang lepas dan ada yang bertunas
pada desir waktu yang meruas
saat kemarin yang telah berlalu
dan cerita tentang hari ini
saat kita saling mengisi dan menghidupi

Saat senja masih berwarna kuning keemasan
Hijau pegunungan Birah Panyang masih lekat dalam pandangan
sawah, bukit dan gunung juga masih mendiding di hati kita
dan juga deretan pohon kopi Arabika
yang padanya kita berharap
tentang cita-cita dan harapan

pada kampung halaman
Selalu saja menoreh rindu
Pada suling gembala dan lenggun kerbau
kokokan ayam jantan di pagi hari
yang membuat kita gegas di pagi hari

Ah…
Teringat akan gadis kampung yang berwajah polos
berkerudung lusuh tanpa lispstik, bedak apalagi eye shadow
dan kita
saat itu adalah lelaki kampung
yang selalu termenung
memandangi pematang sawah
sampai ke ujung kampung
ah…
ada kah tanah kelahiran kita kini masih memupuk rindu [SY]

*Dipetik dari draf buku antologi Puisi “Lima Penyair Gayo. GERGEL” TGI, 2021.

Comments

comments