Tunah (Kubangan Kerbau)

oleh
Sisa-sisa Kerbau yang masih berkeliaran di Kecamatan Teragun, berkurangya hewan ternak raksasa itu diyakini akibat pemilik kerbau banyak beralih menanam Nilam, Sere dan Jagung. (LGco : Anuar)

Oleh : Johansyah*

Kehidupan dunia ini terkadang persis seperti tunah (kubangan). Salah satu hewan yang suka bermain di kubangan ini adalah kerbau. Dia begitu menikmati kehidupan dikubangan.

Tidak peduli badannya dipenuhi dengan lumpur, digigit lintah, diganggu nyamuk, ditimpa hujan, dan lain sebagainya. Dia tetap nyaman berada dalam kubangan tersebut.

Poin yang ingin saya sampaikan adalah terkadang manusia hidup di dunia ini bagaikan kerbau di tunah. Dia lalai dengan kehidupan dunia. Sesungguhnya manusia itu senantiasa menjerumuskan dirinya dalam tunah tersebut.

Johansyah (Dok. Pribadi)

Suka dengki, mengambil hak orang lain, membuat kegaduhan, kehadirannya selalu dikhawatirkan orang sekitar, dan seterusnya. Itu semua adalah tunah yang membuat orang kotor. Hatinya penuh dengan lumpur dan menutupi cahaya, namun begitu dia tetap nyaman dan terlena dalam tunah tersebut sebagaimana kerbau. Manusia lalai.

Kiranya inilah salah satu analogi al-Qur’an yang menyamakan manusia dengan hewan atau bahkan lebih sesat lagi. Sebagaimana firman-Nya; “dan sungguh kami isi neraka jahannam itu kebanyakan dari golongan jin dan manusia. mereka memiliki hati, tapi tidak mau memahami ayat-ayat-Nya.

Mereka punya mata, tapi tidak mau melihat tanda kebesaran Allah. Mereka punya telinga, tapi tidak mau mendengar ayat-ayat Allah. Mereka seperti hewan, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. al-A’raf: 179).

Ketika manusia terjerumus ke dalam tunah kehidupan, kenapa kemudian Allah menegaskan mereka lebih sesat dari hewan? Sangat wajar. Hewan dalam tunah itu memang membuat kehidupan mereka nyaman. Meski berlumpur, tapi ketika dijual harganya tetap mahal.

Namun ketika manusia menjerumuskan diri dalam tunah kehidupan yang penuh salah dan dosa, akan membuatnya tidak berharga di mata orang lain. Ini dikarenakan manusia sudah difasilitasi beberapa potensi istimewa; hati, mata, dan telinga, yang sejatinya dengan fasilitas itu dia tidak terjerumus dalam tunah kehidupan.

Lalu bagaimana agar manusia tidak terjerumus ke dalam tunah tersebut? Sebenarnya al-Qur’an sudah begitu sempurna dan jelas memberikan formulasi hidup yang ideal pada manusia jika kita mau memedomaninya.

Salah satunya seperti ditegaskan dalam firman-Nya; “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. al-Qashash:77).

Ayat di atas menekankan tiga pesan tentang kehidupan yang sejatinya kita jadikan sebagai panduan agar tidak terlena dalam tunah. Pertama, menjaga keseimbangan hidup antara dunia dan akhirat. Kehidupan dunia harus diraih, tapi kehidupan akhirat jangan sampai terabaikan. Kehidupan dunia harus dijadikan jembatan untuk mencapai kehidupan akhirat.

Hingga KH. Zainuddin MZ mengatakan; carilah dunia seperlunya, dan kejarlah akhirat sepenuhnya. Dunia adalah permainan dan senda gurau. Apapun ceritanya akhirat lebih baik bagi orang-orang yang sadar akan makna dan tujuan kehidupan (QS. al-An’am: 32).

Bukan berarti menjalani kehidupan dunia tidak boleh kaya, mengejar jabatan, atau kemewahan dunia lainnya. Silakan semua dinikmati selagi hidup. Sekali lagi silakan asal jangan sampai seperti kerbau dalam tunah. Orang lalai dan melupakan tujuan kehidupan yang lebih utama, yakni kehidupan akhirat.

Sebagai catatan penting juga, terkadang pemahaman kehidupan dunia dan akhirat juga keliru. Karena Tuhan menekankan kehidupan akhirat, lalu orang sukanya menyendiri, shalat, puasa, hidup terbatas, dalam pemerintahan enggan menjabat, dan sebagainya. Bukan begitu memahami kehidupan akhirat.

Kehidupan yang berorietasi ukhrawi itu pada hakikatnya kehidupan dunia yang semuanya berbasis pada kebaikan. Kaya, lalu memanfaatkan kekayaannya untuk membangun lembaga pendidikan, menyantuni anak yatim, dan sebainya. Intinya kekayaannya untuk kebaikan.

Sama halnya ketika dia diamanahi jabatan strategis di pemerintahan yang digunakan sebaik-baiknya untuk menolong kelompok yang lemah dan menegakkan keadilan.

Kedua, agar tidak terjerumus ke dalam tunah kehidupan, maka pesan kedua dari ayat di atas adalah supaya manusia berbuat baik kepada manusia sebagai Allah berbuat baik kepadanya. Bagaimana melukiskan kebaikan Allah? Setiap nikmat yang dicurahkan, Allah tidak pernah menuntut itu semua dikembalikan. Bayarannya sangat sederhana, yakni mengingat Allah, memuji, dan senantiasa bersyukur kepada-Nya.

Sejatinya begitulah ketika manusia sesama kita berbuat baik. Ketika melakukan kebaikan, jangat harap kebaikan dari orang yang kita berbuat baik kepada-Nya karena balasan kebaikan yang berlipat ganda itu akan datang dari berbagai arah. Maka sebagai kuncinya adalah ketulusan dalam melakukan kebaikan.

Tidak ada kebaikan yang dilakukan sia-sia. Mungkin kita sering mengeluh ketika begitu susah payah menolong seorang sahabat yang dulunya susah. Setelah sukses persis seperti pepatah katakan; ‘kacang yang lupa akan kulitnya’. Seolah-olah tidak pernah kenal dan dibantu.

Hidup mengeluh seperti itu hanya akan membuatnya lelah dan susah hati. Oleh sebab itu berusahalah melapangkan diri dengan prinsip bahwa balasan kebaikan itu hanya dari Allah. Kalau pun diperoleh dari manusia, itu bukanlah yang menjadi tujuan utamanya.

Ketiga, jangan membuat kerusakan di muka bumi karena sesungguhnya Allah tidak menyukai kerusakan. Berbuat kerusakan itu adalah seluruh akhlak tercela. Tidak hanya dimaksudkan merusak alam; menebang pepohonan atau menggunduli hutan maupun pencemaran air laut dnegan limbah maupun sampah.

Itu sudah terlalu jauh. Dalam lingkup yang kecil saja seperti keluarga, jangan sampai seseorang berbuat kerusakan. Minsalkan seorang suami berlaku kasar pada isterinya. Demikian halnya kepada anak, sungguh dia tidak mencurahkan kasih sayang sepenuh hati. Atau sebaliknya, ketika istri durhaka dan tidak patuh kepada suami, bahkan mengatur suami, itu adalah bentuk-bentuk perbuatan merusak yang dibenci oleh Allah.

Demikian halnya dengan saudara dan tetangga, jangan sampai kehadirannya meresahkan, menjadi dalang pemecah belah persatuan karena sering provokatif, mengambil milik orang lain, sering membicarakan kejelekan orang lain dan sebagainya.

Itu semua adalah perilaku merusak yang merupakan tunah-tunah kehidupan yang membuat hati manusia penuh dengan kotoran sehingga jauh dari kebenaran dan kebaikan. Semoga kita tidak terjebak dalam tunah (kubangan) kehidupan dunia yang melalaikan. Wallahu a’lam bishawab!

*Ketua STIT Al-Washliyah Aceh Tengah

Comments

comments