Melihat Dakwah Syeikh Ali Jaber : Teladan dan Menyejukkan!!

oleh

Catatan: Muhammad Nasril*

Kabar duka menyelimuti umat Islam di Indonesia, Syeh Ali Shalih Muhammed Ali Jaber atau akrab disapa Syeh Ali Jaber dikabarkan meninggal dunia pagi tadi, Kamis 14 Januari 2021 di RS YARSI, Cempaka Putih, Jakarta.

Kabar duka tersebut begitu cepat menyebar luas hingga ke pelosok negeri.
Awalnya banyak orang yang terkejut dan tak percaya  bahwa ustad yang dikagumi telah tiada.

Syeh Ali Jaber lahir di Madinah pada 23 Februari 1976. Ia lahir dengan nama Ali Shalih Muhammed Ali Jaber.

Ali Jaber kemudian memilih Indonesia sebagai tujuan dakwahnya. Beliau baru mendapatkan kewarga negaraan Indonesia pada Januari 2020.

Dalam sebuah ceramahnya, ustad yang juga dikenal dalam tayangan Hafiz Indonesia itu mengaku bahwa ia mencintai Indonesia. Ia mengaku punya hubungan dan kenangan dengan Indonesia, walaupun ia lahir di Arab Saudi. Kakeknya wafat di Indonesia saat berjuang melawan penjajahan Jepang di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Syeh Ali Jaber dikenal sebagai sosok penceramah yang lemah lembut dan mengajarkan agar umat Islam tidak langsung memvonis, ia menggunakan konsep Dai yaitu mengajak umat kepada kebaikan.

Meskipun beliau berasal dari Madinah, Arab Saudi yang dikenal dengan ajarannya yang murni dan tegas, namun Syeh Ali Jaber memahami arti keberagaman Indonesia sehingga ia dengan mudah di terima di penjuru Nusantara.

Di atas mimbar ia pernah bercerita tatkala bertemu dengan seorang ustad yang berbeda pendapat dengannya tentang perayaan maulid nabi. Menurut ustad tersebut, maulid adalah bid’ah karena tidak dilakukan pada masa nabi.

Syeh Ali Jaber menjawab, bahwa perbedaan harus dihormati dan dilandasi dengan rasa saling menghargai dan menasehati.

“Walaupun dalam masalah maulid itu ada beda pendapat, tapi tidak salah kita saling silaturrahim, saling menasehati dan saling mengisi,” ujarnya.

Sosok yang menyejukkan itu telah tiada, namun dakwah-dakwahnya melalui berbagai media masih tersebar luas hingga saat ini.

Pesan dari nilai keagungan Al Qur’an ia sampaikan begitu menyentuh dan penuh dengan mauidhah hasanah. Sosok Inspiratif dan solutif terhadap persoalan yang kita hadapi saat ini. Melalui dakwahnya ia mengajak umat  ke arah kebaikan dan tidak memvonis kesalahan terhadap orang lain.

Masih terkenang dengan jelas pelajaran berharga bagi kita semua, saat peristiwa penusukan beliau pada Ahad, 13 September 2020 lalu, hampir semua kita melihat bagaimana sikap dan reaksi beliau saat itu dan setelahnya, dan juga beliau  sudah memaafkan  pelaku dengan alasan  karena meniru akhlak Baginda Nabi Muhammad SAW.

“Saya hanya ingin meniru Baginda Rasulullah, Muhammad SAW, sangbtauladan, pemaaf, ikhlas, akhlak mulia. Baginda Rasulullah 13 tahun di Mekkah, diserang, dihina, sampai dibuang kotoran unta di atas kepalanya, diancam mati,” demikian disampaikan beliau dalam sebuah program podcast.

Pada peristiwa itu beliau mengamalkan apa yang dipelajarinya, ucapan yang keluar dari mulutnya saat pertama kali mengalami musibah, adalah memuji Tuhan, alhamdulillah kemudian baru innalillah, karena menurutnya  ujian manusia datang saat dia mengalami musibah, apakah dia masih ingat untuk memuji Tuhan.

Dan beliau juga mengajarkan akhlak dalam rumah tangga, sebagai suami dan juga sebagai ayah. Bahkan beliau rela tidak menggunakan handphone selama dua tahun demi kemaslahatan bersama, dan itu bukanlah hal mudah di era serba digital sekarang ini, tapi beliau telah menjadi contoh untuk itu.

Tentu masih sangat banyak pesan dakwah dan kebaikan beliau yang masih tersimpan dalam ingatan kita dan berbagai rekam jejak digital.

Bagi masyarakat Aceh, Syekh Ali Jaber  bukanlah sosok asing, selain dai nasional ia tercatat sudah pernah beberapa kali berkunjung ke Aceh untuk berdakwah. Seperti pada tahun 2012, ia menjadi imam tarawih dan penceramah Nuzul Quran. Bahkan, saat itu, Syeikh Ali Jaber menginginkan Aceh menjadi Aceh Al-Quran’. Ia akan berjuang menjadikan putra-putri Aceh penghafal Al-Quran.

Syeikh Ali Jaber juga pernah  menyampaikan ceramah pada peringatan Maulid Baginda Rasulullah Saw di Kota Banda Aceh pada 2015, saat itu kehadirannya membawa berkah bagi tuna netra,  ia membagikan Alquran braille ke 200 tuna netra.

Sosoknya kian familiar bagi masyarakat Aceh, apalagi pada peringatan tsunami ke-16 2020, Pemerintah Aceh juga mengundang Syeikh Ali Jaber untuk mengisi tausiah, namun pada saat itu beliau berhalangan hadir.

Kini, Kamis, 14 Januari 2021 sang da’i panutan almukarram Syekh Ali Saleh Mohammed Ali Jaber telah kembali ke hadirat Ilahi, sang da’i pemersatu panutan dan menyejukkan.

Semoga Allah membalas kebaikan beliau, menjadi tambahan amal shalih dan jariah beliau. Indonesia kehilangan salah seorang dai pemersatu umat, kabar duka menyelimuti umat Islam di Nusantara.

Inna lillahi wa Inna ilaihi Raji’un. Semoga Allah menempatkan almarhum di surga-Nya bersama dengan para syuhada dan shalihin. #Alfatihah….

*Anggota IKAT Aceh

Comments

comments