Komunitas Sepeda di Tengah Pandemi

oleh

Oleh : Agung Pangeran Bungsu S.Sos*

Pandemi tidak menyurutkan keinginan masyarakat untuk tetap produktif melakukan kegiatan yang positif, salah satunya dengan cara berolahraga. Bersepeda atau gowes menjadi olahraga yang banyak diminati masyarakat di masa pandemi.

Mulai dari anak-anak, kalangan dewasa, orang tua bahkan bagi kalangan lansia. Olahraga gowes ini tidak hanya didominasi para lelaki bahkan kalangan perempuan yang terdiri dari emak-emak juga turut meramaikan lintasan dan juga jalanan.

Pesepeda yang hadir pun kini dari berbagai strata sosial yang ada di masyarakat, dimulai dari masyarakat biasa, para pejabat publik bahkan juga kalangan artis.

Komunitas sepeda dianggap sebagai wadah yang tepat bagi kaum urban, terlebih pada masa pandemi. Aturan pemerintah yang membatasi ruang gerak masyarakat kini tentu saja menimbulkan rasa bosan bagi banyak orang.

Intensitas berkegiatan di dalam rumah atau (WFH) work from home kini lebih tinggi dibandingkan kegiatan yang dilakukan di luar rumah. Dengan bersepeda masyarakat mampu tetap menjaga keseimbangan tubuh, menghirup udara segar serta membantu mempercepat proses metabolisme tubuh.

Bersama komunitas pula para pesepeda bersosialisasi satu sama lain, saling mengenal orang-orang baru dengan kesatuan hobi yang sama. Karena sejatinya manusia sebagai makhluk sosial memiliki kecenderungan untuk berkumpul dan senantiasa ingin berbagi satu sama lain, salah satu cara untuk mengekspresikan rasa senang dan bahagia yang dirasakan para pesepeda adalah dengan terbentuknya komunitas.

Hadirnya komunitas-komunitas goweser tentu saja menimbulkan perhatian di tengah masyarakat, pasalnya tingkat penjualan sepeda kini meningkat drastis hampir di seluruh penjuru tanah air. Hal ini terbukti dengan meningkatnya penjualan sepeda yang ada di outlet resmi sampai pada pasar sepeda second (bekas).

Bahkan di sebagian tempat sempat terjadi kekosongan stok hingga para pecinta sepeda harus rela untuk inden (menunggu) hingga berbulan-bulan lamanya. Permintaan yang ada juga sangat bervariasi, dimulai dari harga satu jutaan, belasan juta bahkan hingga puluhan juta rupiah.

Merk yang ditawarkan juga beragam, tidak hanya merek lokal yang diperjual belikan akan tetapi pabrikan sepeda luar negeri turut meramaikan pasar.

Motivasi yang menancap dalam pikiran masyarakat untuk bersepeda tentu saja berbeda-beda, ada yang bersepeda dengan tujuan untuk menjaga kebugaran tubuh, adapula yang bersepeda hanya ingin tetap sesalu eksis di sosial media dan masih ada banyak motivasi lainnya yang melatar belakangi para goweser (pesepeda).

Dilansir dari sebuah hasil penelitian jurnal yang berjudul “Karakteristik Motivasi Pengendara Sepeda” tahun 2019 silam disimpulkan bahwa diantara motivasi para pesepeda pada masa kini adalah sebagai bagian dari kebutuhan psikologis, kebutuhan memiliki dan juga sebagai kebutuhan aktualisasi diri (Hierarki Maslow).

Komunitas sepeda yang hadir pada hari ini sudah menjadi life style. Tak sedikit orang-orang yang berada di sebuah komunitas saling menunjukan gengsi dan kelebihan yang dimiliki pada anggota komunitas yang lainnya, hal ini tentunya kerap membuat anggota komunitas lainnya merasa tidak nyaman.

Dibalik itu semua ada juga komunitas yang tidak hanya sekedar bersepeda namun juga melakukan kegiatan kemanusiaan seperti penggalangan dana, turut serta membantu recovery peristiwa bencana alam serta masih banyak kegiatan sosial yang lainnya.

Hal ini tentunya menjadi tantangan bagi para goweser, bersepeda tidak hanya untuk menyalurkan hobi menapaki rintangan semata, bahkan hanya karena ingin mendapatkan pengakuan dari khalayak akan tetapi yang terpenting adalah tetap menjaga hubungan baik antar anggota komunitas dan satu komunitas dengan komunitas yang lainnya serta tetap menjaga keseimbangan alam dengan tidak merusak lingkungan yang ada.

Pada hakikatnya tujuan dari pembentukan komunitas pesepeda yang ada tentunya lebih dari sekedar berbagi, saling mengenal, memenuhi kebutuhan aktualisasi diri akan tetapi sejatinya adalah untuk tetap menjaga kesehatan, karena menjaga kesehatan adalah kewajiban bagi setiap insan sebagai wujud rasa syukur atas karunia kehidupan yang Allah berikan.

Hal ini merupakan perintah agama sebagaimana sabda rasulullah :

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah dari pada Mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan”. (Hr. Muslim 2664)

Dengan demikian sudah sepantasnya kita menyadari bahwa mukmin yang kuat adalah mukmin yang jauh lebih Allah cintai dari mukmin yang lemah, adapun cara mewujudkan diri dan pribadi yang kuat adalah dengan tetap menjaga kesehatan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara berolahraga yang salah satunya dengan bersepeda bersama komunitas-komunitas yang ada.

Apabila kita menjadi bagian dari komunitas sudah sepatutnya kita selalu menjaga akhlak dalam pergaulan, tidak menyinggung personal yang lainnya dengan lisan maupun perbuatan yang dilakukan. Tetap memperhatikan protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah, menjaga adab ketika berkendara serta menjaga kelestarian lingkungan alam sekitar.

*Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Comments

comments