Kembali ke Fitrah : Refleksi Hari Guru 2020

oleh

Catatan: Indah Mayasary*

Tujuan pendidikan nasional dinegeri kita adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya, agar memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

Semua hal tersebut harusnya menjadi ruh dalam setiap pelaksanaan proses pendidikan di sekolah. Dapat kita garis bawahi bahwa, pendidikan nasional mengharapkan setiap anak mampu secara mandiri untuk tumbuh sesuai fitrahnya sebagai manusia pembelajar sepanjang hayat untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki.

Namun apa yang kita rasakan saat ini, agaknya masih bertolak belakang dengan harapan tersebut. Dimana kita menyaksikan betapa pemuda pemudi kita saat ini terseret oleh arus teknologi yang tak terbendung. Berhenti guru mengajar, maka berhentilah mereka belajar.

Krisis kemanusiaan dan degradasi nilai moralitas semakin masif dalam masyarakat kita. Dimana sejalan juga dengan meningkatnya perilaku kekerasan dan sopan santun, cacian, makian dan celaan baik di media sosial maupun kehidupan nyata semakin hari semakin menjadi karater, meningkatnya kasus sex, pemuda dan pemudi yang marak menjadi perokok aktif, memakai obat-obatan terlarang, rendahnya rasa hormat pada orang tua dan guru serta berkembangnya rasa curiga, saling membenci dan memusuhi sesama.

Perilaku negatif tersebut semakin menunjukkan bahwa pendidikan di Indonesia belum berhasil membentuk manusia seutuhnya yang memiliki budi pekerti yang luhur. Hal ini menjadi masalah kita bersama yang membutuhkan keterlibatan dalam menciptakan solusinya. Begitulah sebuah bangsa akan menghadapi perubahan atau memilih kehancurannya.

Faktanya, saat ini orang tua, para guru, kepala sekolah, instansi terkait tidak memiliki benang merah bagaimana dan kemana hendak dibawa pendidikan kita.

Jenjang-jenjang pendidikan tak terhubung dan tak saling sinergi.
Paud, SD, SMP, SMA/SMK, kampus, dunia kerja tidak saling bersinergi dalam upaya pembentukan generasi. Pembelajaran di sekolah sering tak relevan dengan masalah dan perkembangan teknologi yang ada. Semua seolah hanya mengikuti arus semata. Hanya menjalankan tugas dan perannya masing-masing, tidak terkecuali para siswa yang hanya menjalankan kegiatan sekolah sebagai pemenuhan tugas dan peran anak.

Dalam aplikasi pendidikan sangat tampak bahwa tolak ukur pendidikan formal bukan pada personal anak, tapi pada pencapaian masing-masing kepentingan. Sehingga anak seringkali hanya menjadi objek, bukan subjek. Memperparah keadaan lagi ketika anak tidak mampu mencapai kriteria pendidikan yang ditetapkan masing-masing instansi, dikorbankan secara mental lalu kemudian menjadi objek yang disalahkan.

Melalui tulisan ini, saya mengajak semua pihak kembali merefleksi kesenjangan pendidikan yang terjadi, antara harapan dan kenyataan yang ada serta mari mencoba berbenah untuk menyelamatkan generasi bangsa yang sudah sangat memprihatinkan.

Beberapa hal yang mungkin dapat kita lakukan diantaranya :
1. Kembali kepada fitrah
Sebagaimana Ki Hajar Dewantara mengatakan bahwa “pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai dengan kodratnya sendiri, pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu”.

Orang tua sebagai guru di rumah dan guru di sekolah, dimana kedua belah pihak seharusnya bersinergi.

Kembali meyakini bahwa setiap anak memiliki potensi kebaikkan yang tak terbatas. Anak dibekali fitrah-fitrah yang sudah di berikan oleh Sang Pencipta untuk menunjang kesuksesannya. Kita yang harus terus belajar bagaimana merawat dan menumbuhkan fitrah tersebut. Tanpa keyakinan tersebut, maka pendidikan hanya akan menjadi usaha yang absurd, tampak seperti melakukan tindakan yang sedari awal sudah diniatkan untuk gagal.

2. Menambahkah kurikulum personal
Sekolah memiliki pilihan dalam upaya membenahi sistem pendidikan, dengan memiliki kurikulum personal bagi tiap anak.

Catatan-catatan perkembangan, tujuan belajar anak secara personal, potensi-potensi yang mungkin dikembangkan, keadaan psikis dan sosial juga keterampilan-keterampilan hidup secara individual, teknikal dan sosial yang harus dan sudah dikuasai anak serta kesulitan-kesulitan yang dihadapinya terekam dengan baik.

Kemudian kurikulum dan catatan ini sedapat mungkin sampai ke jenjang selanjutnya, untuk ditindaklanjuti agar perkembangan anak tetap terarah. Ini menjadi konteks pengembangan yang bersinergi. Artinya, setiap jenjang memiliki peran penting untuk menentukan karakter yang terbentuk dan menjalankan pendidikan yang berkesinambungan.

3. Penerapan managemen approach
Instansi dari atas ke bawah menerapkan sistem dukungan, bukan ancaman. Baik peran sebagai kepala dinas untuk memunaikan tugas kepada kepala sekolah, kepala sekolah ke guru serta tentunya guru ke peserta didik. Dukung setiap pihak untuk merdeka, fokus pada solusi bukan masalah. Mengurangi kompetisi dan menyuburkan kolaborasi antar dinas, antar sekolah, antar guru dan antar orang tua juga antar anak.

4. Berpihak pada anak
Mengajak semua pemangku kepentingan pendidikan untuk memenuhi hak anak sebagai warga negara dan berpihak pada masa depannya. Setiap keputusan, kebijakan dan anggaran ditetapkan jika dan hanya jika bisa menjawab pertanyaan sederhana, apa manfaatnya program dan pengeluaran anggaran tersebut untuk peserta didik?.

Begitu banyak keputusan mulai dari keputusan harian di rumah dan kelas, keputusan penetapan anggaran setiap tahun hingga keputusan lima tahunan terkait pimpinan dan kebijakan nasional masih jauh dari percakapan yang berpihak pada peserta didik. Masih terlalu banyak pertimbangan yang lebih mementingkan kenyamanan dan keamanan pribadi. Begitulah pendidikan mengambil perannya dalam menghancurkan generasinya sendiri, untuk menhancurkan masa depan bangsanya.

Pada moment hari guru, penting bagi semua pihak merefleksikan diri untuk menjadikan keberpihakan pada anak sebagai prioritas utama. Sudah saatnya kita bergotong royong demi masa depan anak Indonesia dan siap menyongsong generasi emas 2045. Setiap pribadi kita adalah guru. Guru yang menjadi contoh serta panutan perilaku bagi generasi selanjutnya.

NB:
Tulisan ini adalah bentuk refleksi dalam memperingati haru guru pada tanggal 25 November 2020.

*Penulis adalah guru SMKN 5 Bener Meriah

Comments

comments