Filosof Nietzsche Menyeruput Secangkir Kopi di Wisata Kopi

oleh

Oleh: Husaini Muzakir Algayoni*

“Panorama alam yang eksotis mendamaikan jiwa dalam kesendiriannya, aromanya menjadi asmara, dan dari cita rasa kopi menjadi jiwa seniman.”

Kabupaten Bener Meriah baru saja dideklarasikan sebagai wisata kopi pada November Kopi Gayo 2020 di Taman Budaya Gayo Arboretum Bener Meriah, 11 November 2020. Dengan statusnya sebagai wisata kopi tentunya para wisatawan semakin intim datang ke Bener Meriah.

Dengan begitu pelaku usaha kopi dan cafe menyambut bahagia dan antusias dengan hadirnya wisata kopi di Negeri Kopi tercinta, walaupun begitu harapannya pemerintah tidak tutup mata dan mau melihat keadaan petani kopi yang semakin menangis di tengah-tengah guyuran hujan di bulan November ini.

Nah, salah satu wisatawan yang ingin menikmati panorama alam wisata kopi yang eksotis, aroma dan cita rasa kopi Gayo adalah filosof Nietzsche. Panorama alam yang eksotis mendamaikan jiwa dalam kesendiriannya, aromanya menjadi asmara, dan dari cita rasa kopi menjadi jiwa seniman.

Dengan cita rasa kopi mengandung kenikmatan dan kesenangan, sebagaimana dari fungsi seni itu sendiri yaitu fungsi hedonistik. Dari itu Bener Meriah yang terkenal dengan taman harmoninya, inspirasi Nietzsche keluar seperti mekarnya bunga kopi di musim hujan dalam menuangkan gagasan filosofisnya dalam wadah aforisme-aforisme puitis.

Bagi pegiat literasi filsafat dan sastra, tentunya tidak asing lagi dengan nama Nietzsche, hubungan filsafat dan sastra ibarat dua hati yang terpatri dalam ikatan cinta, dan itu ada pada Nietzsche dalam karyanya Demikian Sabda Zarathustra.

Nama Nietzsche sendiri merupakan filosof paling populer dan sering dikaji pemikiran filosofisnya yang unik dan membinggungkan. Nama lengkapnya adalah Wilhelm Friedrich Nietzsche, lahir pada 15 Oktober 1844 dan meninggal pada 25 Agustus 1900.

Nietzsche adalah filosof yang mengkritisi abad modern, dari itu ia merupakan orang pertama yang membuka gerbang dunia menuju abad post modern. Gaya filsafat Nietzsche sendiri berciri aporistik seperti dalam karyanya Demikian Sabda Zarathustra.

Pemikiran-pemikiran filosofis Nietzsche, pernyataan-pernyataan pendek yang membinggungkan dan manakala membaca karyanya bagi sebagian orang sungguh mengesalkan dan bagi yang puitis sangat menarik dan menyenangkan. Filosof yang satu ini, lain dari yang lain karena tidak mudah memahami Nietzsche dengan mudah.

Untuk memahami Nietzsche harus mengenal diri sendiri ‘kenalilah dirimu sendiri’ dari itu Robert John Hollingdale dalam roman Zarathustra menyatakan “Menyelam di lautan sendiri merupakan julukan bagi pengikut Nietzsche.”

Nietzsche sudah lama meninggalkan dunia ini. Namun pemikiran filosofisnya masih relevan hingga sekarang ini, jika dipahami dengan sungguh-sungguh maka kita akan mendapatkan bahwa jauh-jauh hari Nietzsche sudah mengkritik manusia yang hidup hari ini.

Nah, filosof Nietzsche menyeruput secangkir kopi di wisata kopi tentunya bukan Nietzsche sendiri yang datang melainkan seseorang yang ingin menikmati panorama alam yang eksotis, aroma, dan cita rasa kopi Gayo. Resah, kreatif, dan kegairahan intelek dalam kesendirian ‘dahsyatnya kesendirian’ memunculkan ide dan inspirasi aforisme puitis.

Menyeruput secangkir kopi Gayo di kabupaten wisata kopi, berselimutkan awan dan bernuansakan eksotis dalam menikmati seruputan kopi dan diakhiri di malam pekat yang dingin dan sunyi. Kepedihan dan kesulitan ekonomi yang mendera dihilangkan dengan perenungan-perenungan dan mencintainya.

*Penulis, Mahasiswa Prodi Ilmu Agama Islam (Konsentrasi Pemikiran Dalam Islam) Program Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Comments

comments