Oleh : Fauzan Azima*
Wahai generasiku,
Sudah menjadi pengetahuan bersama, kita sedang mengalami krisis kepemimpinan. Penyebabnya adalah tidak ada regenerasi oleh orang-orang tua kita dan kuatnya di antara mereka melakukan pembunuhan karakter serta akses generasi hijau kepada ekonomi ditutup.
Kita kehilangan satu generasi yang tidak “nyambung,” sehingga ke atas tidak berpucuk dan ke bawah tidak berakar. Generasi sekarang adalah generasi yang membangun kreatifitasnya sendiri yang bukan kader dari generasi sebelumnya.
Selama ini kita diperdaya “Pak Tua” dengan bahasa, “Kalau saya jadi pejabat, kamu kurus.” Mereka bermain dengan kata “ku urus” menjadi “kurus.” Lupakanlah mereka! Mari kita menulis skenario film kita sendiri yang bercerita tentang generasi sekarang membangun generasi berikutnya.
Generasi kita bukan generasi yang menggurui, tapi support kepada generasi berikutnya yang tidak saja mengkader, tetapi juga melahirkan politisi yang baik, ilmuwan yang baik, birokrat yang baik, pengusaha yang baik, polisi yang baik, tentara yang baik, hakim yang baik, jaksa yang baik, penulis yang baik, seniman yang baik, olah ragawan yang baik, bahkan preman yang baik.
Bagi saya, dalam mengatasi krisis tokoh dan pemimpin ini, kita jangan terlalu sektarian. Kalau ada orang Arab, China, Eropa sekalipun kalau benar-benar akan memperbaiki negeri ini akan saya terima dengan lapang dada. Kita harus berdamai dengan situasi yang kalau kita biarkan akan seperti katak dalam tempurung yang terpuruk.
Berdasarkan keadaan ini, kita bisa klaim generasi sekarang adalah generasi yang tumbuh sendiri. Generasi yang terputus dari generasi sebelumnya dari sudut pengkaderan menjadi orang yang tidak biasa-biasa saja.
Kita bisa menuduh mereka “membunuh” bibit kreatifitas generasi kini karena tidak ingin dan iri melihat kalau generasinya lebih pinter, lebih berjaringan, lebih berpangkat, lebih kaya, lebih dipuji, lebih berkarya, dan lebih dicintai masyarakat.
Mewaspadai kebangkitan “Pak tua” untuk mengorbankan generasi hijau kembali sangat penting. Karakter mereka tidak mungkin berubah dengan “lagu lama”. Kita perlu “lagu baru” yang tidak menipu dan tidak menjadikan kita sebagai jembatan untuk kesuksesannya, namun setelah sampai ke seberang lalu memutusnya.
Memberikan kesempatan kepada mereka berarti melegalkan kembali “pembunuhan” terhadap generasi berikutnya. Sudah cukup pengalaman satu periode generasi yang ogah biasa-biasa saja telah hilang. Jangan sampai dua generasi kita menjadi krisis kepemimpinan.
Kalau sempat berulang, maka kita telah menjalani kutukan yang “keledai pun tidak jatuh ke lubang yang sama.” Tentu saja sebagai manusia yang berakal budi harus malu jatuh ke jerat yang dibangun “Pak tua.”
Kepada “Pak Tua” pun sudahlah. Istirahatlah! Di luar banyak angin. Jaga kesehatan dan jaga jarak untuk tidak memimpin kembali. Sesungguhnya kami bosan dengan cerita pemekaran dan klenikmu yang sebenarnya aib yang harus ditutupi. Ini zaman “google map” yang menuntun generasi hijau ke alamat langsung. Pakailah aplikasi itu “Pak Tua” agar jangan terlalu jauh tersesat.
Rekam jejak tidak akan hilang. Setiap kita terbuka lebar mempelajarinya. Hilangkan fanatisme ketokohan yang seolah tanpa “Pak Tua” kita tidak ada dan tidak mampu.
Negeri ini sudah patut dipimpin oleh generasi yang energik pada zaman ini. Jangan pernah lagi kepemimpinan negeri ini diberikan kepada orang yang mengaku “turunan asli” tetapi menjualnya daerahnya dengan sekeping emas.
(Mendale, Selasa, 21 Juli 2020)





