Sensasi Buka Puasa di Alam Terbuka Pantan Terong yang Eksotis

oleh

Catatan : Darmawan Masri*

Buka Puasa Pantan Terong 3

Bulan suci Ramadhan, selain menyimpan seribu berkah bagi yang menjalankannya, juga menjadi sumber rejeki bagi para penjaja tempat berbuka puasa.

Buka puasa di cafe-cafe atau tempat-tempat tertentu yang sudah disiapkan sedemikian rupa adalah hal yang biasa. Cara memesan tempatnya pun tak perlu rumit-rumit.

Adakah tempat yang berbeda?. Jawabannya adalah ada. Dengan keindahan alam dataran tinggo Gayo yang begitu eksotis, banyak tempat yang dapat dijadikan alternatif. Salah satunya adalah berbuka puasa di alam terbuka.

Sambil beribadah, alam terbuka juga menawarkan keindahan dan keasrian. Menyatu dengan alam adalah konsep sederhana yang ditawarkan.

Salah satu tempat yang begitu eksotis dijadikan tempat berbuka adalah Bur Salah Niama atau saat ini dikenal dengan nama Pantan Terong. Lokasinya pun tak jauh dari Pusat Kota Takengon, hanya butuh 20 menit menuju lokasi.

Seperti yang dialami penulis, Selasa 21 Juni 2016. Salah seorang senior dibidang tulis menulis yang kaya akan ide, Muhammad Syukri menawarkan Pantan Terong sebagai tempat.

Ajakan itu tercetus tak terencana hanya beberapa jam dari waktu berbuka puasa saat itu. Saya bersama Pemimpin Redaksi LintasGayo.co, Khalisuddin adalah orang beruntung yang diajak. Ditambah dengan owner Bayakmi Coffee, Maharadi, dan dua teman lainnya Mahlizar Safli dan Mulyadi.

Kami pun tak pergi berbarengan, Pak Syukri dan Maharadi berangkat menyusul. Saya dan bang Khalis lebih awal tiba di lokasi. Sedangkan Mulyadi dan Mahlizar datang paling akhir.

Seperti diketahui, Pantan Terong merupakan salah satu objek wisata andalan di tanoh Gayo. Pemerintah Aceh Tengah juga sudah membangun ala kadarnya objek wisata ini. Awalnya, saya kita kami akan berbuka di tempat yang paling sering dikunjungi wisatawan lokal dan luar daerah tersebut.

Ternyata, saya salah. Pak Syukri memilih tempat yang jaraknya kira-kira kurang 500 meter sebelum sampai ke tempat utama objek Pantan Terong.

“Disini lebih pas, kalau di puncak yang biasa dikunjungi orang itu sudah biasa, kita disini saja,” kata Pak Syukri menerangkan.

Kami pun mengiyakan pilihan tempat tersebut. Sebuah view yang luar biasa eksotis, pemandangan langsung ke Kota Takengon dan Danau Lut Tawar disis timur terpampang jelas. Betapa anugrah luar biasa yang diciptakan Allah SWT kepada tanoh Gayo.

Buka Puasa di Pantan TerongMaharadi sang barista Bayakmi Coffee ternyata telah menyiapkan semuanya, mulai dari meja dan beberapa kursi. Ditambah dengan peralatan penyeduh kopi arabica Gayo dengan citarasa mendunia.

Sore itu, menjelang berbuka suhu udara tampak dingin. Segera ku cek accuweater di HP, suhu berada di 10 derajat celcius. Bisa dibayangkan dinginnya sore itu.

Bang Khalis segera mengambil inisiatif. Dia, mengumpuli ranting kayu-kayu kering yang banyak dijumpai di daerah tersebut. Sebeluk berangkat dia juga mengusul kepada saya untuk membawa kayu bakar (Gayo : utem). Dia beralasan di lokasi pasti cuaca lebih dingin dari pada tempat kami tinggal.

Secara geografis memang Pantan Terong terleak di ketinggian 1800 meter diatas permukaan laut (mdpl). Ketinggian ini jika dikonversi kira-kira 6000 kaki (1 kaki 30 cm). Otomatis tingkat kedinginan suhu sangat berbeda di Pusat Kota Takengon yang rata-rata ketinggiannya 1200 mdpl.

Inisiatif Bang Khalis membawa utem saya abaikan. Saya katakan, dilokasi pasti asa ranting kayu kering yang bisa dibakar guna menyulut dinginnya cuaca sore itu.

Cuaca mulai gelap waktu berbuka pun tiba. Kami menyeruput hangatnya kopi arabica Gayo sebagai pembuka, ditambah beberapa kue jajanan khas berbuka di tanoh Gayo.

Di sisi timur, terlihat kerlap-kerlip cahaya lampu yang menerangi pusat kota Takengon. Dikejauhan, terlihat juga Kampung Bintang, yang nyala lampunya seakan meredup, menambah eksotisnya tempat yang kami jadikan sebagai tempat berbuka puasa sore itu.

Tak lama dari itu, adzan Magrib tiba terdengar dari kampung terdekat dibawahnya. Kami pun segera menuju sebuah mushala yang dibangun pemerintah di objek wisata tersebut.

Usai menunaikan shalat magrib, kembali kami ke tempat dimana kami berbuka tadi. Hari semakin gelap, namun waktu Isya belum tiba, ditemani suara jangkrik dan seset (bahasa Gayo) menambah moment berbuka kami semakin indah.

Kami lanjutkan dengan makan malam. Ditemani api yang membara menghapus kedingian saat itu. Kerlap-kerlip lampu perkotaan mulai tampak jelas terlihat. Sebagian dari kami tampak berselfi ria.

Beberapa kenderaan hilir mudik. Mungkin mereka bertanya dalam hati, apa yang kami lakukan, seolah tak open kami pun asik menikmati tempat berbuka puasa kami petang menjelang malam itu.

Berbuka di alam terbuka adalah konsep sederhana sungguhan tempat baru bagi kami. Hal ini merupakan kali pertama saya berbuka di alam terbuka yang begitu eksotis yang sudah direncanakan sebelumnya.

Menanggapi hal tersebut, owner Bayakmi Coffee mulai berinisiatif menciptakan menu dan tempat berbuka puasa bersama di alam terbuka. Maharadi sang owner mulai menyiapkan langkah-langkah, bagi yang ingin berbuka puasa di alam bebas. Kini dia suda menyiapkan paketnya. Bagi yang ingin, silahkan datang langsung memboking terlebih dahulu ke Bayakmi Coffee di jalan RSU Datu Beru, Kebayakan, Aceh Tengah. Soal harga, silahkan disepakati bersama.

Berbuka puasa cafe-cafe atau warung-warung sudah biasa. Di alam bebas merupakan hal yang luas biasa, patut untuk di coba. Beribadah sekaligis berwisata. Tapi jangan lupa, tetap menjaga kelestarian lingkungan, jangan tinggalkan sampah, jaga kebersihan, agar tempat tersebut tetap terjaga dan asri.

Selamat mencoba. Salam lestari….!!!

*Sekretaris Redaksi LintasGayo.co

Buka Puasa Pantan Terong 5

Comments

comments