Wah! 1 Batang Kopi Arabica Gayo Bisa Menghasilkan Uang Rp. 700 Ribu, Jika 1 Hektar?

oleh
Kopi Arabika Gayo di tepi danau Lut Tawar. (LGco-Kha A Zaghlul)

Oleh : Darmawan Masri*

Kopi Arabika Gayo di tepi danau Lut Tawar. (LGco-Kha A Zaghlul)
Kopi Arabika Gayo di tepi danau Lut Tawar. (LGco-Kha A Zaghlul)

Kopi merupakan nadir kehidupan bagi urang Gayo. Dalam kurun beberapa tahun terakhir, kopi arabica Gayo mulai menunjukkan eksistensinya. Ahli-ahli kopi bermunculan di bumi Reje Linge ini.

Sebelumnya, kopi Gayo di kirim melalui Medan-Sumatera Utara, untuk kemudian di ekspor ke luar negeri dengan nama kopi Sidi Kalang. Saat ini di daerah penghasil kopi arabica terbesar di Indonesia, daerah Gayo (Aceh Tengah, Bener Meriah dan sebagian Kabupaten Gayo Lues) mulai di lirik pangsa pasar dari mancanegara. Tak heran, setiap tahunnya permintaan terhadap kopi arabica Gayo terus meningkat.

Harga yang mulai tinggi membuat roda perekonomian masyarakat Gayo meningkat. Terlebih, saat ini pola minum kopi di Gayo sedikit sudah mulai mengalami pergeseran positif, dimana dulunya kopi robusta menjadi andalan bagi penikmat kopi di daerah berhawa dingin ini.

Pola pergeseran minum kopi yang menurut berbagai kalangan berdampak positif ini, juga ditakutkan oleh buyer (pembeli) dari mancanegara. Salah seorang pemerhati kopi di Takengon, Aceh Tengah, Muhammad Syukri beberapa waktu lalu pernah mengatakan kepada LintasGayo.co, jika konsumsi domestik bagi kopi arabica meningkat, maka menjadi ketakutan bagi buyer mancanegara.

Kenapa hal demikian dapat terjadi?, Muhammad Syukri pun memberikan pandangannya. Dkatakan, menurut logika sederhana, saat kopi pola minum kopi di tingkat lokal melonjak, dengan perkembangan banyaknya kedai-kedai kopi, bisa dipastikan kebutuhan produksi kopi arabica di tingkat domestik tidak akan mencukupi.

“Ini yang menjadi ketakutan mereka (buyer luar negeri), orang-orang yang memproduksi kopi tidak akan mau menjual lagi kepada buyer disana, karena harga di dalam negeri saja sudah jauh lebih tinggi,” ujarnya.

Dengan kondisi itu, produksi kopi akan sedikit lebih menguntungkan. Pasalnya, jika di jual ke luar negeri, harga akan lebih tinggi dari pada pasar domestik. “Dan dataran tinggi Gayo akan terkena efek dari kenaikan harga itu, karena daerah ini memiliki perkebunan kopi terluas di Indonesia,” tandasnya.

Tentu jika harga kopi meningkat, petani kopi arabica Gayo menjadi sumringah. Tak hanya itu, ternyata kopi arabica Gayo juga memiliki hitung-hitungan yang sungguh fantastis.

LintasGayo.co akan mencoba menuliskan paparan singkat hitung-hitungan satu batang kopi arabica Gayo menurut salah seorang pemerhati kopi lainnya di tanoh Gayo yang kini bekerja sebagai pengurus Koperasi Baitul Qiradh (KBQ) Baburrayan, Sahmida.

Dalam bincang-bincang santai, Sahmida memberikan pandangan yang unik tentang hitung-hitungan terhadap satu batang kopi arabica Gayo. Menurut pengamatannya selama menggeluti bisnis kopi, Sahmida menemukan hitung-hitungan yang luar biasa fantastis. Tentu hitungan ini akan menjadi penyemangat bagi petani kopi di Gayo untuk terus meningkatkan kualitas kopi yang mereka tanam.

Dikatakan, satu batang kopi arabica Gayo jenis Tim-Tim saat masa panen bisa menghasilkan 1 kaleng kopi gelondongan (1 kaleng = 10 bambu, 1 bambu = 2 liter). “Hasil ini dapat terjadi jika petani betul-betul mengurus tanaman kopinya dengan baik,” kata Sahmida.

Sahmida melanjutkan, dalam satu kaleng kopi gelondongan dapat menghasilkan 1,7 Kg grean bean, kemudian saat di roasting biasanya akan hilang sebesar 20 persennya. “Hasilnya akan menjadi 1,4 Kg atau setara dengan 1400 gram bubuk kopi yang siap saji,” rincinya.

Kemudian 1400 gram bubuk kopi yang dihasilkan dalam satu batang tadinya, diolah kembali menjadi black coffee maupun espresso. Biasanya, kata Sahmida satu gelas kopi hanya membutuhkan 10 gram bubuk. “Jika kita bagikan, 1400 gram dengan 10 gram maka akan menghasilkan 140 cangkir kopi. Harga satu cangkir di daerah Gayo di jual dengan harga rata-rata Rp. 5 ribu Rupiah, kita kalikan dengan 140 cangkir, penghasilan kita akan menjadi Rp. 700 ribu,” kata Sahmida.

Dalam satu batang kopi, petani di Gayo bisa menghasilkan uang sebesar Rp. 700 ribu rupiah, Sahmida melanjutkan, jika petani kopi rata-rata memiliki kebun seluas satu hektar saja, dengan tanaman maksimal 1100 batang kopi/hektar, maka dalam setahun petani kopi di Gayo bisa menghasilkan uang sebesar, Rp. 770 Juta.

“Wah, tentu ini hasil yang sungguh fantastis saya kira. Sangat jauh berbeda dengan penghasilan petani di Gayo yang dalam setahun penghasilannya hanya mencapai kisaran 100-200 Juta Rupiah, jika mereka menjual kopi dalam bentuk gelondongan dan grean bean,” ujarnya.

Disampaikan, hitung-hitungan ini dalam faktualisasinya dilapangan tidaklah mudah. Sahmida mengatakan, pola minum kopi di Gayo yang belum merata secara menyeluruh menjadi kendala berarti. “Hitung-hitungan yang kita bahas tadi dapat terjadi jika konsumsi kopi di tingkat lokal meningkat, dan petani harus tetap menjaga kualitas kopinya agar tetap bagus,” katanya.

Sahmida pun sepakat dengan pernyataan dari Muhammad Syukri di atas, dengan meningkatnya konsumsi kopi di tingkat domestik, akan menjadi ketakutan tersendiri bagi buyer-buyer asing yang menginginkan kopi Gayo, karena memiliki cita rasa yang khas dan aroma yang luar biasa. Jika itu terjadi, dapat di pastikan harga kopi Gayo akan melambung tinggi, karena kabutuhan kopi dunia akan kopi Gayo saat ini juga cukup tinggi. Tinggal bagaimana lagi, petani dan pemegang kebijakan di tanah yang katanya kepingan tanah surga ini di kelola dengan baik, dalam upaya menjaga kualitas dan mutu. [] 

Comments

comments