Menanti Eksistensi Penulis Perempuan Gayo

oleh

Penulis-LGco

Catatan Darmawan Masri

BERBILANG yang memberi testimoni, LintasGayo.co merupakan sekolah menulis bagi penulis pemula di dataran tinggi Tanoh Gayo. Kemampuan menulis sebenarnya tak perlu kemampuan khusus dalam menjalankannya, cukup terus menulis dan menulis hingga akhirnya menemukan genre tersendiri dalam mengasah papan ketiknya.

Selasa 29 Juni 2016, di Bayakmi Coffee merupakan hari bersejarah bagi media yang eksis sejak 2009 ini. Keinginanan untuk mengumpulkan para penulis yang rajin menyumbangkan karyanya ke redaksi LintasGayo.co, bertemu sekedar silaturrahmi sambil berbuka puasa bersama. Moment bulan suci Ramadhan 1437 H waktu yang tepat mengumpulkan para penulis bersilaturahmi dengan jajaran keluarga besar media LintasGayo.co sebagai media mainstream di wilayah tengah Aceh ini.

Walau silaturahmi tersebut tidak mencakup keseluruhan penulis yang aktif mengirimkan tulisannya, lantaran ruang dan waktu yang tidak memungkinan untuk hadir, setidaknya para penulis yang selama ini hanya mengenal jajaran redaksi lewat dunia maya, bisa berinteraksi langsung sekedar melepas rindu ingin berjumpa.

Menariknya lagi, moment ini turut dihadari Bupati Aceh Tengah, Ir. H. Nasaruddin, MM beserta beberapa pejabat lainnya seperti Asisten II, Drs. Amir Hamzah, Kadis Syari’at Islam, Drs. Alam Syuhada dan Kabag Humas Aceh Tengah, Mustafa Kamal serta Kabag Humas Bener Meriah, Irmansyah.

Dalam catatan kami moment buka puasa bersama ini adalah berkumpulnya para penulis perempuan baik yang masuk dalam struktur wartawati maupun yang penulis baru yang akhir-akhir ini aktif mengirimkan karyanya.

Seperti diketahui, sangat jarang penulis perempuan di Gayo yang aktif dalam bidang jurnalistik. Namun, srikandi muda Gayo ini menunjukkan eksistensinya dalam bidang tulis menulis.

Seminsal, Zuhra Ruhmi, wartawati satu-satunya dari LintasGayo.co yang sudah memegang kartu wartawati berkompoten yang dikeluarkan Dewan Pers. Sosok guru Matematika, membawa tulisannya tentang rumus-rumus matematika.

Begitu juga dengan Zuliana Ibrahim, penyair sekaligus salah seorang redaktur budaya LintasGayo.co, sosok guru Bahasa Indonesia ini dalam berkarya khususnya dalam bidang sastra tak diragukan lagi.

Berikutnya adalah Ria Devitariska, sosok ibu 1 anak ini yang kami tau adalah penulis hebat di LintasGayo.co. Karya featurenya mengalir bagai air dan nyaman dibaca. Kesibukannya sebagai PNS di Aceh Timur serta mengurusi keluarga saat ini membuatnya vakum dalam dunia tulis menulis.

Desi Diana, yang pernah menjabat sebagai Direktur Keuangan PT Lintas Gayo Korpora juga demikian. Pernah, belajar menjadi penulis di LintasGayo.co, menjadikannya aktif diberbagai organisasi perempuan di Gayo.

Begitu juga dengan Rahmi Rizki Murti, awal-awal menulis hingga akhirnya kini konsen di dunia sineas lewat beberapa karya film dokumenternya. Terakhir, karyanya masuk 15 besar pada Eagle Award, selangkah lagi penilaian, film dokumenternya bisa saja menjadi yang terbaik. Kita, tunggu saja.

Masih ada beberapa penulis perempuan Gayo yang tak hadir dalam kesempatan ini. Seperti, Rahma Umar lewat tulisan kulinernya, Isma Ramadhani lewat tulisan menarik tentang kopi dan penulis termuda, Hilwa Fitri yang ingin belajar menjadi seorang jurnalis perempuan dalam statusnya masih pelajar di SMAN 4 Takengon, serta penulis senior yang kerap menjuarai lomba menulis, Vera Hastuti. Juga Ida Nusraini yang tulisan-tulisannya di bidang pendidikan kerap muncul yang dikemas menarik dan sangat diminati pembaca.

Tak sampai disitu, kehadiran 2 sosok penulis sekaligus wartawan baru perempuan Gayo menambah suasana buka puasa bersama semakin akrab.

Diana Seprika yang aktif diberbagai organisasi kemahasiswaan adalah salah satunya. Tulisan jurnalistik yang selalu dikirimkan terkait kegiatan-kegiatan organisasi, menambah pengetahuan tentang eksistensi organisasi tersebut di bumi Gayo.

Terakhir, Dinni Syafriyuni, penulis mungil ini kaya akan ide. Tak hanya aktif menuliskan kegiatan-kegiatan kelompoknya dalam bentuk berita, Dinni juga dikenal oleh jajaran Redaksi LintasGayo.co sebagai penulis berbakat dan beberapa kali menjuarai lomba menulis di Aceh Tengah. Jika bakat ini tak henti diasah, dirinya akan menjadi penulis handal berkelas nasional lewat tulisan-tulisan menarik, update dan enak dibaca.

Feature terakhir yang ditulisakannya adalah Goresan Pena, Membawa Manfaat atau Kerugian. Tulisan yang sangat luar biasa. Dalam tulisan ini dia membahas, dengan menulis dengan memetik apa yang dikatakan Imam Al-Ghazali, “Bila kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka menulislah”.

Begitu juga dengan petikan motivasi dari Ali Bin Abi Thalib, “Semua penulis akan meninggal, hanya karyanyalah yang akan abadi sepanjang masa. Maka tulislah yang akan membahagiakan dirimu di akhirat nanti”.

Apa yang dikatakan oleh dua tokoh Islam tersebut benar adanya. Dengan menulis cakrawala akan terbuka, kemampuan olah kata yang selama ini terpendam juga akan terbuka. Dinni, ingin namanya selalu dikenang lewat tulisan.

Lewat silaturahmi sambil berbuka puasa bersama antara keluarga besar LintasGayo.co dan jajaran penulisnya, harus dijadikan moment kebangkitan penulis perempuan Gayo. Tak hanya mereka, perempuan-perempuan hebat lainnya di Gayo yang punya bakat menulis juga memiliki kesempatan sama. Lewat acara ini juga tentunya semua pembaca media ini juga menunggu karya-karya dari penulis perempuan Gayo.[]

Comments

comments