Waladan Yoga*

MENGAMATI banyaknya pemberitaan tentang ALA, Saya pribadi tertarik untuk sekedar bercerita tentang gerakan mahasiswa Gayo di Banda Aceh.
Saat itu saya masih berstatus mahasiswa Fakultas Hukum Unsyiah, teringat saat Matrikulasi seorang dosen menanyakan kepada mahasiswa “siapa yang dari Gayo”, saya tunjuk tangan “saya dari Gayo Pak”, kemudian sang dosen bertanya lagi untuk apa Pemekaran ALA, secara spontan saya menjawab “untuk mengurus satu surat saja kami butuh waktu 8 jam menuju Banda Aceh” kemudian sang dosenpun mengalihkan pembicaraannya ke hal lain. Itulah hal pertama yang paling saya ingat ketika pertama kali saya diterima kuliah di Universitas Syiah Kuala Aceh.
Terkadang sambil kuliahpun, saya secara pribadi sering mengajukan protes kepada dosen-dosen yang menggunakan Bahasa Aceh didalam ruang kelas “mohon maaf pak, saya tidak mengerti dengan bahasa Aceh, saya dari Gayo” sebagian dosen yang memberi kuliah seringkali menantang, sebenarnya berapa banyak orang yang tidak mengerti bahasa Aceh dalam ruangan ini, dengan spontan beberapa orang menunjuk tangan, sangat minoritas memang tapi harus diluruskan.
Dalam berbagai perjalanan berorganisasi saya juga dengan bangga memperkenalkan diri dari wilayah Gayo. Bahkan dalam pertarungan pemilihan Ketua BEM dan Presiden Mahasiswa saat itu saya tanpa ragu sedikitpun meneguhkan kepada teman teman saya waktu itu bahwa perjuangan ALA itu adalah sesuatu yang harus senantiasa dihargai, sebenarnya jika diajak dengan berdiskusi banyak teman-teman yang memahami perjuangan ALA itu sendiri.
Saya sendiri ingin sekali turut ambil bagian dalam menulis pengalaman saya dalam menunjukan identitas ke”Gayo”an di Kota Banda Aceh, pandangan saya waktu sangat sederhana jika Gayo ingin lebih dihargai dan bermakna dimata lawan maka harus menunjukan perlawanan dikandang mereka sendiri, dengan beberapa mahasiswa Gayo saat itu kami bersepakat dan nekat akan menggelar aksi-aksi mengatasnamakan Gayo.
Target kami saat itu, setidaknya identitas Gayo di Banda Aceh harus muncul dari sisi gerakan, terlepas perpecahan yang terjadi diantara mahasiswa itu sendiri, itu hal yang lumrah. Dalam evaluasi gerakan, kami selalu meneguhkan hati bahwa dengan cara gerakan ini Gayo akan lebih diperhitungkan, seringkali kami mengabaikan nasehat “tetue” saat itu. Ada yang melarang dan ada juga yang mendukung, setahu saya banyak tetue yang melarang gerakan yang kami bangun, alasannya Gayo tidak pernah berbuat demikian.
Akhir-akhir ini banyak opini, komentar dan pemberitaan yang menunjukan eksistensi pro dan kontra pemekaran ALA, ketika membaca media cetak dan media online pemuda-pemuda yang masuk dipemberitaan tersebut adalah orang yang sangat saya kenal dan sering berjuang bersama dalam berbagai isu, saat itu kami masih sama- sama dalam berbagai organisasi paguyuban Mahasiswa.
Sederhananya, masing masing dari gerakan pro dan kontra tersebut sedang menunjukan eksistensi perjuangannya. Sudah pasti ada motivasi yang mendorong gerakan itu muncul, tentunya sulit untuk mengukur baik burukanya motivasi yang mendorong sebuah gerakan itu lahir, sangat subjektif jika harus menilainya secara pribadi. Masing masing dari kita sudah pasti punya keyakinan sendiri dalam mencapai tujuan masing masing.
Ketika saya dan mahasiswa Gayo lainnya mencoba untuk meneriakkan ALA di Banda Aceh banyak tantangan yang kami hadapi, mulai dari ada yang mempertanyakan alasannya apa? Kemudian ada beberapa elemen pergerakan dari wilayah ALA yang kami ajak untuk berjuang dengan jalan turun aksi tapi kebanyakan tidak mau mengikuti dengan cara yang kami ajukan dan kebanyakan lebih memilih jalan masing masing, sulit memang menyatukan gerakan untuk mencapai satu tujuan bersama, banyak muncul kecurigaan dan ketidakpercayaan.
Saya mencoba menunjukan “rasisme” terhadap suku Gayo yang dilakukan oleh Pejabat Pemerintahan Aceh saat itu, seringkali kami mendengar keluhan dari teman teman tentang perkuliahan, banyak dosen yang menggunakan Bahasa Aceh dan tidak menghargai mahasiswa dari suku minoritas, ada kesan Orang Gayo selalu mendapatkan perlakukan tidak menyenangkan diberbagai hal, hal-hal semacam ini sering kali kami terima teman-teman.
Bahkan, saat itu terjadi “penjatuhan” karakter terhadap tokoh Gayo, ada yang selangkah lagi akan menjadi Rektor di kampus ternama di Aceh namun karena dia Gayo maka dari berbagai alasan dia dijatuhkan, ada yang akan menjabat sebagai pejabat tertentu di Aceh namun karena dia Gayo maka dia Juga di geser, dipahami atau tidak banyak pejabat dari Gayo menjabat untuk sementara saja hanya untuk menyenangkan hati sebagian wilayah ALA, kemudian tanpa alasan akan “ditendang” tanpa alasan yang jelas. Setidaknya saya tidak akan terjebak pada alasan hanya karena tidak mendapat posisi yang strategis kemudian menuntut ALA lahir, jauh lebih besar dari itu ada alasan kenapa kita harus tetap berada dalam barisan ALA.
Sampailah pada satu kesempatan, saya dan teman teman membuktikan apa yang menjadi kegelisahan kami terhadap perlakuan elite Aceh kepada bangsa Gayo. Abdullah Saleh saat itu dengan sangat terang mengatakan bahwa selain suku Aceh, maka suku-suku lain di Aceh adalah suku tidak jelas, saat itu tepat dihadapan Abdullah Saleh saya sedang berorasi dalam bahasa Gayo, terlebih saat kami memprotes isi dari Qanun Wali Nanggroe yang memang sangat menyudutkan eksistensi suku minoritas di Aceh.
Waktu itu terjadi titik balik, diawal-awal banyak pihak yang menunjukan ketidaksukaannya terhadap gerakan ALA, tapi kemudian mulai menunjukan dukungannya. Sederhananya saya dan teman teman ingin sekali menunjukan kepada mereka yang membenci gerakan kami “ini lho… perlakuan elite Aceh kepada bangsa Gayo dan suku minoritas lainnya di Aceh, masih kita harus bergabung bersama mereka?”
Keyakinan kami, jauh dibawah alam sadar para elite Aceh bahwa masih ada rasa kebencian dan ketidaksukaan terhadap suku Gayo dan suku suku minoritas lainnya di Aceh. Banyak memang pemberitaan yang menunjukan Pemerintah Aceh sedang membangun wilayah tengah, tapi saya yakini itu hanya perkataan indah di media saja.
Terlalu banyak catatan, kenapa ALA itu harus tetap di jaga eksistensi perjuangannya. Ada yang pro-kontra itu hal yang biasa. Pesan saya kepada tokoh ALA yang perlu dijaga saat ini adalah perkuat barisan dan selalu menjaga soliditas gerakan dari bawah.
Itulah sedikit alasan kenapa sampai saat ini saya masih ALA. Masih banyak catatan lainnya.[]
*Alumni Fakultas Hukum Unsyiah, Penggiat GAYO Merdeka





