DUDUK bercerita dengan seorang pekerja entertainer di Banda Aceh, penuh tawa. Soalnya, beberapa pengalaman unik menyangkut seniman terjadi, semisal tentang seniman yang tidak dapat “jatah” di Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-6, omongan yang keluaradalah keluhan dan “sok” pengakuan.
Tapi aneh, walau sok kemudian dia mengeluh lagi, tidak beres pemerintah ini,nasip seniman tidak ada yang peduli.
Seharusnya kesadaran itu bukan lahir sekarang tapi dari dulu. Kalau kita mau jujur,seniman manapun di Aceh, tidak ada yang peduli. Pengisi acara pada PKA nanti pun 80 persen bukan seniman, karena kebayakan mereka berasal dari pelajar atau pegawai, ogah untuk membicarakan nasip seni sebenarnya, karena pasca PKA mereka akan kembali ke habitatnya sebagai pelajar atau PNS.
Anehnya, setelah mempelajari sebuah kesenian, baik tari,musik, dan seni tradisi lainnya,lantas kedepan kelompok ini kembali lagi–bahkan menjadi pelatih. Akibatnya sedikit demi sedikit kewajaran seni mengendur, dan setelah itu sang pelatih lagi-lagi kembali pula ke habitat semula.
Jadi apa kesimpulan dari perbincangan itu? jawabnya sederhana saja, hampir tidak ada kesimpulan, karena cuma berbicara diwarung kopi. Satu hal yang patut di catat, bahwa seniman hanya memiliki sebuah profesi bernama seni.
Lalu kajian berkembang, siasat sederhana untuk mendapatkan dana berkesenian rupanya terletak pada profesi seniman di seni,karena Dinas Kebudayaan anggap saja tidak mampu menampung “kesejahteraan” seniman,sehingga perlu dipecahkan kalau profesi seniman bisa beragam seperti halnya Satuan Kerja Perangkat Kerja (SKPK) yang berada di berbagai porsi juga.
Semisal, seniman bisa kriteriakan menjadi seniman sosial, seniman ekonomi, seniman politik, seniman kesehatan, seniman pariwisata, seniman ekonomi, seniman hukum, dan seniman apapun profesi lainnya,kalau sudah begitu barangkali mulai jelas, dimana peran seniman yang pantas.
Sambil tertawa sahabat entertaimen tadi mengangguk-angguk karena dia yakin, dirinya bukan seniman, hanya sebagai entertain dia butuh seniman. Dan itu pula alasan kenapa seniman kurang dihargai, karena banyak even yang digelar, dan tidak terkait kebudayaan, seniman cuma berada di posisi menghibur saja, sehingga kejadian alam sedahsyat apapun haruslah perjanjian di jalankan,sehingga tidak heran sekelompok gadis cantik harus basah kuyub hanya untuk menyambut tamu khusus dari pemerintah.
Jadi jangan heran, kalau kemudian Aceh Tengah dan Bener Meriah membatalkan kontingen seni menjadi peserta PKA-6 gara-gara pandangan “seni” hanya hura-hura. Tidak cocok dalam situasi musibah orang Gayo berhura-hura. Ini berarti cara pandang dua bupati di Gayo itu masih sejalan dengan cara pandang Dinas yang bukan dinas Kebudayaan. Jadi maklumi sajalah.
Yang penting sekarang, bagaimana memperoleh posisi yang tidak membuat lapar, karena baik di pesisir Aceh dan pegunungan Gayo, kesempatan kerja sulit, menjadi seniman punperlu berlagak bak kontraktor,dekat kekuasaan dan mendapat uang, caranya tinggal dipikirkan yang terbaik. Kalau sudah begitu, ya perkuat olah, jangan tipu, karena tipuAceh sudah tidak berlaku, yang berkembang pasca bencana tsunami adalah “olah”, seniman ikut membangun jembatan dan rumah, atau kontraktor yang beralis sebagai organize even. Kalau sudah begitu, ayo kita pulang kampung dan berdo’a, Kiranya Aceh diberi kelapangan dan kemudahan Rezeki. Amin.
*Penulis adalah pemikir seni, tinggal di Banda Aceh







