Oleh: Husaini Muzakir Algayoni*
INDONESIA merupakan Negara yang menganut Paham Demokrasi dalam menjalankan roda pemerintahan, dan Pemilu/Pemilukada itu merupakan salah satu syarat menjadi Negara demokrasi.
Dalam menjalankan demokrasi, di Indonesia setiap lima tahun sekali mengadakan pesta Pemilu. Para pemain Pemilu dan diikuti dari klub-klub partai yang di bintangi oleh orang-orang pintar dan bersekolah jenjang tinggi tapi dalam prakteknya mereka hanya mencari kekuasaan abadi bukan mencari kesejahteraan abadi.
Mereka membawa nama rakyat, bersuara atas nama rakyat, Pemilu diwarnai dengan kerusuhan dan intimidasi mewarnai Pemilu di negari berdemokrasi ini, slogan-slogan Pemilu Damai hanya sebagai simbol dari KPU, masyarakat sebagai korban dari demokrasi ini yang mayoritasnya tidak paham apa itu demokrasi, sungguh tragis lagi para politisi yang paham betul tentang demokrasi justru mereka-merekalah yang menghancurkan demokrasi itu sendiri.
Coba kita lihat fenomena-fenomena yang ada di negeri ini saat terjadinya pemilu kerusuhan, pembakaran serta bentrok antar pendukung mewarnai jalannya pesta demokrasi. masyarakat yang menjadi korban, masyarakat yang menjadi sasaran tersangka jika ada kerusuhan sedangkan para petinggi pengurus partai enak tenang melihat rakyatnya saling serang.
Kalau kita lihat pengertian Demokrasi, bahwa Demokrasi itu berasal dari bahasa Yunani Kuno, Demokrasi kalau kita artikan secara harfiah ialah, demokrasi berasal dari kata demos yang berarti rakyat dan kratos yang bermakna aturan atau pemerintah. Jadi, demokrasi adalah pemerintahan rakyat, dikalangan masyarakat kita sering menyebutnya dengan dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Demokrasi ini dicetuskan oleh Aristoteles.
Sedangkan pengertian dari KBBI Demokrasi yaitu: (1) (bentuk atau sistem) pemerintahan yg seluruh rakyatnya turut serta memerintah dengan perantaraan wakilnya; pemerintahan rakyat; (2) gagasan atau pandangan hidup yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi semua warganegara.
Salah satu cara orang kafir menghancurkan Agama Islam adalah dengan menerapkan paham demokrasi. Demokrasi menyuruh kita untuk saling fitnah, fanatik kelompok sehingga kelompok lain menjadi lawan, adu domba dan saling menebar ancaman demi memenangkan kelompoknya.
Dalam hal ini saya membuat sebuah sajak yang berjudul demokrasi;
Demokrasi
Demokrasi dinegeri demokratis
Kekerasan dan kerusuhan menyelimuti pemilu
Kebencian dan permusuhan memisahkan persaudaraan
Tipu daya dan kebathilan memproses kekuasaan.
Demokrasi
Kampanye dengan janji-janji manis, menang pemilu hanya mengurusi diri dan kelompoknya masing-masing.
Demokrasi dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat,katanya ?
Tapi faktanya tanpa opini
Demokrasi hanya untuk bagi yang memegang kekuasaan
Itulah Ilusi demokrasi, kita dibodohi oleh demokrasi.
Mahalnya Demokrasi!
Demokrasi juga menghancurkan kehidupan bermasyarakat, katanya demokrasi itu menghargai persamaan serta hal-hal kebaikan lainnya padahal sebenarnya demokrasi itu merugikan banyak hal, sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Muhammad Rusyid al-bengkuluwi tentang Mahalnya Demokrasi, beliau menyebutkan bahwa Mahalnya Demokrasi Mahal Secara Finansial. Mahal Secara Sosial dan Mahal Secara Agama.
Mahal Secara Finansial
Pada Pemilu 2009 ketika itu Ketua KPU, Abdul Hafidz menyebutkan bahwa total anggaran KPU untuk melaksanakan pemilu 2009 berjumlah 47,9 triliun. Dana itu belum lagi dana yang dikeluarkan oleh partai dan calon anggota dewan.
Mahal Secara Sosial
Masalah sosial dalam pemilu ini sangat berbahaya, persoalan yang paling krusial adalah rusaknya persatuan Indonesia yang berpotensi menyebabkan konflik, bahkan antar sesama Muslim. Beberapa konflik yang muncul meliputi: Pertama, konflik antar partai dan calon anggota dewan. Kondisi ini sangat berbahaya karena mereka sebagai elit bisa menggerakkan masyaakat awam sehingga konflik semakin luas dan masyarakat dibuat bingung. Kedua, konflik horizontal antar masyarakat, masyarakat di adu domba untuk mendukung partai dan calon yang mereka unggulkan. Ketiga, konflik secara vertikal yaitu antara wakil yang sudah terpilih dengan rakyat yang mendukung mereka. Hal ini terjadi setelah pemilu selesai dilaksanakan, para anggota dewan lupa dengan masyarakat yang memilih mereka dan seringkali memaksakan kehendak dengan mengeluarkan kebijakan yang merugikan bahkan menyakitkan rakyat (kasus menaikkan harga BBM baru-baru ini contohnya).
Mahal Secara Agama
Pertama, Demokrasi meletakkan agama pada posisi sub-ordinat, sementaraordinatnya adalah Negara dan Negara harus diatur sesuai dengan keinginan masyarakat. Jika masyarakat menginginkan sesuatu yang tidak sesuai dengan ajaran agama, maka hal itu dibolehkan atas nama demokrasi. Hal itu pula yang menyebabkan mengapa dinegara ini masalah minuman keras dibiarkan, lokalisasi pelacuran masih menjamur (khususnya di negeri Syari’at Islam ini). Kedua, Demokrasi tidak menghargai orang berilmu apalagi ilmu wahyu dan yang Ketiga bahwa Demokrasi melahirkan Sekularisme.
Dalam kondisi Demokrasi Indonesia saat ini, kita jangan terbuai dan tertipu dengan manisnya kata Demokrasi. Persamaan, kesejahteraan dan keadilan hanyalah bayangan semu, semoga wakil-wakil rakyat yang akan menuju kesingga sana istana mewah pada 2014 nanti tidak lupa dengan janji-janjinya sehingga demokrasi tidak rusak ditangan mereka yang paham demokrasi.(delungtue26[at]yahoo.co.id)
* Peminat Politik dan Pendidikan