Harga Kopi Anjlok dan Toke Stop Pembelian, Pemerintah di Gayo Diminta Hidupkan Resi Gudang

oleh
Waladan Yoga

TAKENGON-LintasGAYO.co : Terkait dengan anjloknya harga kopi Gayo, Bupati Bener Meriah dan Aceh Tengah diminta segera bersikap untuk membantu menstabilkan kembali harga kopi Gayo di Kabupaten Bener Meriah. Rampung Institute ikut menanggapi dan memberi saran kepada Gubernur Aceh, Bupati Bener Meriah dan Bupati Aceh Tengah.

“Status Resi Gudang di Bener Meriah tidak jelas lagi siapa pengelolanya, maka sebaiknya Bupati Bener Meriah bisa berkoordinasi cepat dengan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI) Kementerian Perdagangan untuk meminta pengelolaan Resi Gudang untuk sementara waktu diambil alih Pemda Bener Meriah,” kata Direktur Ramung Institute,  Waladan Yoga, Jum’at 20 Maret 2020.

Terkait : Petani Kopi Gayo Menjerit, Harga Jatuh dan Toke Tak Mau Beli di Tengah Krisis Corona

“Lain dengan Resi Gudang Kabupaten Aceh Tengah karena pengelola Resi Gudang oleh pihak ketiga jelas, ini juga perlu langkah cepat pengelola untuk berkoordinasi dengan perbankan, mengambil langkah langkah antisipatif,” terang Waladan.

Waladan mengatakan, Bupati Bener Meriah diminta untuk segera memanggil pihak perbankan..”Dengan begitu Bupati juga bisa memanggil pihak perbankan di Bener Meriah untuk membiayai pembelian kopi dengan metode Resi Gudang ini, resiko perbankannya juga relatif kecil. Apalagi Pemkab Bener Meriah juga pemilik saham di Bank Aceh, dengan sedikit intervensi Bupati dapat lakukan hal hal teknis untuk keperluan masyarakat Bener Meriah,” kata Waladan.

Hal ini katanya lagi, selaras dengan perintah Plt Gubernur kepada Bank Aceh untuk tidak menumpuk uang pada hal komsumtif semata, seperti kredit kepada PNS/ASN, sisi produktifnya juga harus selaras. Perintah Gubernur ini pintu masuk untuk melakukan dan memberdayakan pembelian Kopi secara produktif.

“Diyakini situasi sulit yang dihadapi saat ini sifatnya tentative, dimasa masa sulit ini Pemkab harus mampu lakukan intervensi dan mengambil langkah langkah antisipatif ditengah mewabahnya Covid-19 hampir diseluruh negara,” terang Waladan.

Terkait : Dampak Covid-19 Terhadap Kopi Gayo

“Bahwa fakta jika harga kopi gayo hari ini turun, salah satu dugaan saya karena merebaknya Virus Covid-19 (corona virus), akibatnya permintaan kopi Gayo rendah, tentu berefek pada harga kopi,” tambahnya.

Kenaikan harga kurs dolar sama sekali tidak berefek pada kenaikan harga kopi Gayo. “Jikapun harga kurs dolar naik juga tidak akan berimbas pada kenaikan harga kopi Gayo, dugaan saya para Buyer Kopi juga kesulitan untuk menjual kopi Gayo kepada Roaster diseluruh dunia,” kata Waladan.

“Starbucks saja sampai kelimpungan menghadapinya, bayangkan saja gerai gerai kopi mereka sepi pengunjung bahkan ada yang sampai tutup, seperti gerai mereka di Bandara, ini mengindikasikan situasi yang sangat sulit,” timpalnya.

Lanjutnya lagi, situasi lebih sulit dihadapi oleh pembeli kopi lokal. Menurutnya, para pembeli kopi lokal (toke) juga tidak berani mengambil resiko terlalu jauh, jika kemudian kopi terus dibeli dari petani tapi kopi tersebut tidak dapat dijual kembali, inikan resiko yang sangat besar. Bahkan ada toke kopi yang berhenti membeli kopi karena rasa khawatir terhadap situasi sulit ini.

“Harus ada koordinasi cepat. Gubernur Aceh, Bupati Aceh Tengah dan Bupati Bener Meriah dalam waktu singkat harus bertemu dan berkoordinasi dengan cepat untuk menyelamatkan komoditas Kopi Gayo, setidaknya Bank Aceh harus diintervensi untuk melakukan pembiayaan pembelian Kopi Gayo melalui Resi Gudang,” ungkapnya.

Terkait : Pelaku Kopi Gayo Benarkan Toke Pengumpul Banyak Menyetop Pembelian dari Petani

“Situasi ekonomi saat ini memang sangat sulit, kita berdoa agar situasi ini cepat berlalu, Kota Wuhan China sudah berangsur membaik dan kita yakini negara kita juga akan membaik, kita doakan yang terbaik,” tutup Waladan.

[Darmawan]

Comments

comments