Bage Terbaru

Merindui Malam


Catatan : Husaini Muzakir Algayoni*

Malam pekat telah masuk dengan hadirnya angin malam yang sejuk, kesunyian mulai terasa dengan suara-suara hening. Bagi penikmat senja, pantai adalah tempat paling indah sementara bagi penikmat sunyi; malam adalah suasana penantian dalam kerinduan. Bagiku malam adalah menyatunya pikiran dan perasaan, seperti halnya ajaran tasawuf falsafi al-Ittihad Abu Yazid al-Busthaamy penyatuan batin dengan Tuhan.

Dengan malam, aku menambah gizi pemikiran lewat kata-kata yang tersusun rapi dan kalimat penuh makna yang tersembunyi dalam lembaran-lembaran buku, membebaskan pikiran lewat goresan pena yang terurai dalam letusan kata. Entah kenapa, malam begitu mengasyikkan. Apakah ini terkait dengan masalah hati yang terkoyak mewarnai kisah cinta pada masa lalu? Ah, kalau-kalau di ingat-ingat, setelah pemutusan hubungan; malam memang menjadi teman paling setia menemani hari-hari dalam pelipur lara.

Suasana malam yang hening dan jauh dari hiruk-pikuk kebisingan menjadikan waktu ini sebagai istirahat dan mencari ketenangan, sebagaimana firman Allah Swt dalam surat al-An’am ayat 96: “Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah takdir (ketetapan) Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.”

Merindui malam adalah merindukan kehadirannya dengan suasana hening layaknya cinta yang selalu dinantikan kehadirannya, walaupun cinta membawa tangisan dan pilu dalam hati namun cinta selalu dinantikan kehadirannya bagi setiap insan yang mempunyai jiwa pencinta.

Malam memberikan sentuhan yang nyaman layaknya seorang ibu memberikan sentuhan kasih sayang kepada anaknya, malam begitu dirindukan oleh penikmat-penikmat sunyi dengan sentuhan heningnya.

Malam bagi jiwa yang mempunyai keridhaan, ia menggambarkan malam bagaikan memandang bunga-bunga tulip di negeri kincir angin atau bunga sakura mekar di negeri matahari terbit. Dengan kesunyian malam ia layaknya berada di negeri atas awan menikmati secangkir kopi Gayo dengan rasa bahagia, kebahagiaan terpancar dari jiwa yang ridha karena keindahan alam merupakan nikmat yang diberikan Allah Swt kepada orang-orang yang mau berpikir.

Namun beda halnya bagi jiwa-jiwa yang mempunyai rasa benci, baginya malam tak ubahnya seperti penjara yang tak bebas kemanapun akan pergi tanpa memikirkan manfaat dalam malam itu sendiri. Seperti kata Buya Hamka “Matahari begitu berfaedah membawa terang, si pembenci tak dapat menghargai matahari lantaran panasnya. Bulan begitu indah dan nyaman, si pembenci hanya ingat bahwa bulan itu tidak tetap memberi cahaya, kadang-kadang kurang. Bagi orang pembenci semuanya cacat di matanya.”

Desahan angin malam jika dipadukan dengan rintikan air hujan menyempurnakan alam renungan dan menenangkan jiwa-jiwa gersang, malam memberikan warna tersendiri bagi jiwa yang ingin menenangkan jiwanya. Para sufi misalnya, dengan seteguk air hitam (kopi) melewati malam dengan romansa cinta bersama Maha Pencipta dan Maha Keindahan yang merupakan cinta hakiki dalam pandangan sufi.

Malam dipadukan dengan rintikan air hujan menyempurnakan alam renungan, dalam hal ini; maka aku pun menguraikan sajak-sajak malam:
Malam saat kehujanan
Jantung berdetak dalam kesendirian
Berpayungkan rumput dalam rerimbunan
Dingin dengan air tetesan

Mengasingkan seorang diri
Jauh dari keramaian hati
Air terus berjatuhan ke bumi
Merajut cinta indah dalam mimpi

Suasana malam banyak memberikan ide dan inspirasi bagi pemburu motivasi dalam hidupnya, para penulis misalnya; banyak meluangkan waktu malam sebagai waktu kerja untuk menulis atau hanya sekedar membaca dalam keheningan. Para penyair pun dalam mengeluarkan syair-syair indahnya menempatkan malam sebagai objeknya, seperi penyair ternama Ibn Hazm dalam syairnya berikut ini:

Ia tebarkan aroma ketenteraman pada mereka
Sementara sang mentari mulai tenggelam di ufuk sana
Kesejukan dan ketenteraman pun menyergap dada
Manakala malam mulai menapakkan kakinya

Selamat merindui malam dan menikmati indahnya malam bagi jiwa-jiwa yang mempunyai keridhaan, janganlah kau hinakan malam dengan rasa bencimu tapi cintailah malam suatu ciptaan Allah Swt yang mencintai keindahan. []

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *