Opini Sara Sagi Tafakkur Terbaru

Menyoal Keberadaan Jurnalis Muslim

Oleh Mahbub Fauzie*

Ulama Kharismatik Gayo, Mahmud Ibrahim dan Mahbub Fauzie
Ulama Kharismatik Gayo, Mahmud Ibrahim dan Mahbub Fauzie

TIDAK bisa kita pungkiri, munculnya banyak mass-media atau media massa di tengah-tengah kita, dipastikan membawa pengaruh dan dampak dalam pembentukan dan penggiringan opini publik atau pendapat umum. Baik ke arah positif maupun ke arah sebaliknya, negatif. Tergantung pada eksistensi media itu dan siapa di belakangnya . Termasuk siapa pemilik dan para ‘kuli tinta’ atau motivasi jurnalis dan juga reporternya.

Media, baik cetak maupun elektronik dan juga on-line, sampai saat ini sudah tidak begitu asing muncul berebut di ruang publik memberikan info-info terbaru tentang peristiwa atau kejadian di berbagai tempat dengan beragam macam bentuk dan cara penyajiannya. Ada yang menyampaikan ‘apa adanya’ serta santun, dan penuh edukasi. Namun tidak jarang yang penyajiannya bombastis, ‘ada apanya’ dan juga tidak jarang yang cenderung provokatif, memancing emosi massa.

Itulah kenyataan, yang tentu saja membuat kita maklum dan mafhum, mengapa begitu adanya. Pertanyaannya sekarang adalah, selaku bagian dari masyarakat yang secara jujur harus mengakui, langsung atau tidak langsung ikut melihat dan merasakan dampak dari keberadaan media-media itu, apakah kita perlu tinggal diam dan manggut-manggut tanpa perlu mengingatkan sesama?

Berangkat dari kesadaran tersebut, izinkan penulis merangkaikan kata demi kata, kalimat demi kalimat dalam artikel sederhana ini. Yakni tentang Menyoal Keberadaan Jurnalis Muslim. Tentu saja, yang ditulis ini bukan hal-hal baru.

Sebagaimana diketahui, bahwa bagian tak terpisahkan dari keberadaan sebuah media  adalah adanya para reporter, jurnalis atau wartawan selain komponen lain seperti tim redaksi.  Sosok seorang wartawan, baik keilmuan dan moral  kepribadiannya serta niatannya memilih profesinya itu sangat mewarnai cara bagaimana menulis atau melaporkan liputan dan investigasinya seiring dengan kadar idealisme yang dimilikinya.

Ketika berbicara mengenai jurnalis Muslim, maka arah tulisan ini ingin memaparkan bagaimana idealnya peran yang musti dimainkan oleh ‘pahlawan pena’ dalam melakoni profesi sebagai ‘ratu dan raja’ dunia itu.

Jurnalis Muslim hendaknya bisa memerankan diri sebagai seorang juru dakwah. Dalam aktifitas jurnalistik-nya selalu membawa misi-misi amar ma’ruf dan nahy munkar  seperti diamanatkan dalam Surah Ali Imran ayat 104. Aktifitias jurnalistik Islam adalah upaya dakwah Islamiah, yakni menyebarkan informasi tentang perintah dan larangan Allah Swt. Pesan yang disampaikan hendaknya berusaha semaksimal mungkin untuk mempengaruhi komunikan (massa) agar berprilaku sesuai dengan ajaran-ajaran Islam.

Jurnalistik Islam harus memperhatikan penampilan dan ungkapan yang jauh dari nilai-nilai Islam baik akhlaq maupun syariat. Seperti misalnya pornografi, porno-aksi, fitnah, pemutarbalikan fakta, berita bohong dan lain-lain. Jurnalistik Islam musti berupaya mempengaruhi khalayak menjauhi hal-hal tersebut serta memberikan solusi Islami atas setiap masalah.

Jurnalistik Islam dan pelakunya wartawan muslim, selalu mengedepankan ‘cek dan ricek’ atau tabbayyun sebagai pedoman dalam investigasi issue atau kasus yang hendak diliputnya. Ini sesuai dengan perintah Allah Swt dalam Surah Al-Hujurat ayat 6 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang-orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah pada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya.”

Sebagai juru dakwah, para jurnalis Muslim adalah penerus risalah Nabi. Oleh karena-nya musti meneladani sifat-sifat Nabi, yakni: Shidiq, menginformasikan yang benar dengan cara dan menegakkan yang benar; Amanah, berita yang disampaikannya dapat dipercaya dan bukan berita dusta; Tabligh, menyampaikan dengan sebenarnya, bukan memutar-balikkan fakta dan peristiwa; serta yang terakhir Fathanah, cerdas mencerdaskan dan berwawasan luas.

Menurut Asep Syamsul M Romli dalam bukunya Jurnalistik Dakwah (2003:38) dikatakan bahwa Jurnalis Muslim dituntut mampu menganalisis dan membaca situasi termasuk membaca yang dibutuhkan umat. Jurnalis muslim bukan saja para wartawan yang  beragama Islam dan comitted dengan ajaran agamanya, melainkan juga para cendikiawan Muslim, ulama, Mubaligh dan umat Islam pada umumnya yang cakap menulis di media massa.

*Penulis adalah Wartawan Lintasgayo.co dan selaku Kepala KUA Kec. Linge Kab. Aceh Tengah

Comments

comments