Sastra Terbaru

[Cerpen] Memeluk Impian

HUJAN belum juga reda, saat Seruni masih menangis di sudut ujung kamarnya.  Melihat putra kecilnya tertidur dengan lelap membuat hatinya bertambah miris. betapa tidak, kini  gelar yatim melekat padanya. Diusianya, yang baru kemarin genap lima tahun.  Fikri, anak satu-satunya, harus menatap keras cakrawala kehidupan tanpa bimbingan seorang ayah.

Ramadhan tinggal hitungan hari, tak terasa tetesan bening air mata kian bertambah deras mengalir dipipinya. Nyaris, semenjak pencarian jasad suaminya tiga hari yang lalu dan kini telah menyatu dengan bumi. Tak sekalipun Seruni dapat memejamkan mata disaat malam. Bayangan, Bardan, Suaminya selalu diraskannya datang memeluk dan mengecupnya mesra seperti biasanya.

“Dik, ramadhan ini kita ajarkan Fikri untuk saum bersama ya, kita ajarkan Fikri sedari kecil mengenal Tuhan.Dan, setiap shubuh abang akan ajak Fikri shalat berjamaah bersama kita.”

Seruni hanya mengganguk lembut kala itu, tanda setuju akan rencana dan misi keluarga kecilnya  mengisi Ramadhan tahun ini. Ah, waktu begitu cepat mengambil Bardan dari hidup kami pikirnya. Belum lagi sempat salam perpisahan terucap di bibir Bardan.

Seminggu Sebelumnya…

Siang  itu, Bardan hanya diam duduk di depan tv sambil meminum kopi buatan Seruni. Pikirannya menerawang memikirkan Fikri yang tadi sore menangis karena berebut mainan dengan anak tetangga sebelah rumah. Telah lama, Bardan menjanjikan akan membeli  sebuah mobil mainan yang berukuran besar untuk Fikri, anak semata wayangnya. Bardan hanya dapat meringis pilu melihat Fikri menangis dan akhirnya tertidur di pangkuan ibunya, membawa angan memiliki mobil mainan itu dalam mimpinya.

Sebenarnya, kebun kopi yang selama ini menjadi  tumpuan harapan penghidupan keluarga  mereka tengah panen raya. Tetapi, harga kopi yang merosot turun membuat miris hati siapa saja. Bahkan, upah untuk memetik kopi pun jauh lebih mahal dari pada harga kopi saat ini. Harga kopi sangat tidak sebanding dengan jerih payah yang dikeluarkan Bardan dan Seruni. Tapi, apalah daya. Mereka hanya pasrah pada keadaan. Hasil panen kopi kebun mereka hanya bisa untuk menutupi hutang yang telah telanjur dibuat kepada toke Dahlan karena tak ada lagi barang apapun yang layak dijual atau digadaikan untuk menutupi kebutuhan mereka sehari-hari.

Kata telah telanjur terucap. Di suatu senja, saat Bardan dan Seruni pulang dari kebun kopi. Bardan berjanji pada anaknya, bahwa saat panen kopi tiba. Ia akan membelikan sebual mobil mainan besar sekaligus sebagai hadiah ulang tahun Fikri yang kelima. Ibarat bumerang yang dilempar jauh dan kemudian berbalik mengejar sipelempar. Serupa itulah Bardan saat itu. Setiap waktu, Fikri selalu menagih janjinya untuk membelikan mobil mainan baru. Dan melihat Bujang kecilnya menangis adalah hal tersakit yang disakan Bardan saat itu.

Sebenarnya, Seruni telah mendidik Fikri, untuk tidak meminta apapun yang diinginkan jika keperluannya tidak terlalu mendesak. Keadaan, telah membuatnya  menjadi anak yang tidak terlalu memaksakan kehendak. Tapi kali ini, keinginannya untuk memiliki mainan itu kian meledak karena Bardan telah berjanji membelikannya disaat usianya telah lima tahun. Dan, ulang tahun Fikri tinggal tiga hari lagi.

Matahari mulai terbenam di ufuk barat, saat Bardan berpamitan pada Seruni untuk menemani Alif adik sepupunya mencari ikan di danau Laut Tawar.  Pikiran Bardan saat itu adalah bagaimana cara agar rupiah bisa terkumpul untuk bisa menunaikan janjinya untuk putra kecilnya. masih ada tiga hari lagi waktu untuknya berikhtiar.

Suratan Takdir berkata lain. Tuhan menunaikan janji-Nya pada Bardan saat pertama kali ruh ditiupkan padanya selagi ia dikandungan sang ibu. Malam itu, ombak begitu kencang sehingga membuat oleng perahu kecil yang ditumpangi Bardan dan adik sepupunya. Ombak pertama menghantam perahu mereka dari sebelah kiri, seketika air memenuhi perahu kecil mereka. Dengan sigap tangan Alip menguras air yang memasuki badan perahu. Percikan air yang memasuki perahu itu, membasahi sebagian mesin perahu sehingga tak dapat lagi dihidupkan.

Ombak kedua kembali menerjang perahu Bardan dan Alif. Kali ini Bardan pun dengan cekatan membantu Alip menguras air dari perahu agar air yang masuk tak menenggelamkan perahu kecil yang mereka tumpangi. Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Perlahan tenaga Bardan dan Alif telah kalah cepat dengan air yang memasuki kapal. Perlahan Kapal mereka karam karena terlampau berat nya tekanan air. Bardan mencoba berenang perlahan ketepian, namun ternyata Alif tak bisa berenang. Beratnya baju penghangat yang Bardan pakai untuk melindunginya dari dinginnya malam, kelelahan yang tak terkira saat menguras air perahu, dan pelukan erat Alif yang tak bisa berenang membuat Bardan tidak bisa berbuat banyak.  Bardan hanya bisa berusaha membuat mereka tetap mengapung selama mungkin, dan saat terakhir pertahanan tubuhnya, Bardan  melihat bayangan Fikri di langit bersama taburan bintang, Fikri memelukanya dengan erat penuh bahagia karena ayahnya telah menunaikan janjinya membelikan mobil baru di hari ulang tahunnya.

Keesokan Harinya…

Berita Hilangnya Bardan dan sepupunya Alif saat mencari ikan tadi malam telah tersebar keseluruh Kota. Warga Kampung tempat tinggal Bardan, Tim SAR, TNI, masyarakat dari penjuru kota di Takengon bekerja sama untuk mencari keberadaan mereka. Bangkai Kapal dan peralatan ,mencari ikan telah berhasil ditemukan di tengah Danau Laut Tawar.

Seruni, istri Bardan. Tak lagi bisa mengeluarkan air mata. Tangisan yang tak pernah henti ketika kabar hilangnya Bardan didengarnya.  Tiga kali kesadarannya hilang. Tak sesuap nasi pun yang dapat dimakannya sehingga membuat kondisinya semakin melemah. Berteriak, meranung, meratap dan berharap Bardan akan kembali dengan selamat. Tampak salawat dan dzikir tak pernah henti terucap di bibirnya.

***

Setelah tiga hari pencarian. Bardan dan Alif berhasil ditemukan. Bardan ditemukan tidak jauh dari Alif sepupunya. Bardan didapat oleh tim pencari saat itu dengan posisi telungkup seperti tengah memeluk seseorang. Asanya untuk membelikan mobil mainan disaat ulang tahun putranya yang kelima. kini telah lenyap bersama jasadnya yang ditemukan tim SAR di dasar Danau Laut Tawar.

veraBiodata Penulis:

Nama :Vera Hastuti, M. Pd

alamat : jalan Sengeda Takengon, Aceh Tengah

pekerjaan : Guru SMAN 1 TAkengon

Comments

comments