Gempa Gayo (bagian I)

oleh
Kampung Jaluk pascagempa.(LGco-aman zaiza)

Catatan: Aman Zaiza

Kampung Jaluk pascagempa.(LGco-aman zaiza)
Kampung Jaluk pascagempa.(LGco-aman zaiza)

NEGERI dari sekeping tanah surga itu menangis. Hentakan dahsyad 6,2 SR membuyarkan mimpi indah yang sedang dibangun. Ribuan rakyat menangis, bumi membelah, rumah-rumah porak-poranda, rumah ibadah dan tempat tinggal mereka tergantikan tenda-tenda, sekolah-sekolah luluhlantak.

Hari itu, Selasa 2 Juli 2013. Selepas siang sekitar pukul 14.35 WIB. Gempa tektonik membuyarkan mimpi itu. Negeri yang baru berusaha bangkit mengapai masa depan, dari jutaan potensi yang sempat terpendam. Gayo terluka, Aceh beduka, Indonesia mengangis. Bumi bersejarah itu dirundung nestapa.

Betapa tidak, dari bumi Gayo ini, Indonesia yang saat ini ada. Ini bisa dilihat dari Radio Rimba Raya merupakan saksi sejarah era kemerdekaan yang memberitakan tentang proklamasi Indonesia, ketika melawan Belanda tahun 1945. Pada saat itu Belanda telah menguasai ibu kota pemerintahan Indonesia. Mereka (Belanda) mengumumkan lewat radio Hilversum (milik Belanda) kepada dunia, bahwa Negara Indonesia tidak ada lagi.

Tapi dengan suara yang sayup lantang dari Dataran Tinggi Tanah Gayo, Radio Rimba Raya membatalkan berita tersebut dan mengatakan Indonesia masih ada. Siaran itu dapat ditangkap jelas oleh sejumlah radio di Semenanjung Melayu (Malaysia), Singapura, Saigon (Vietnam), Manila (Filipina) bahkan Australia dan Eropa.

Akhirnya, akibat berita yang disuarakan itu, banyak negara dunia dengan serta merta mengakui kemerdekaan Indonesia. Berita yang disiarkan Radio Rimba Raya merupakan pukulan “KO” bagi Pemerintahan Belanda.

Kini, bumi bersejarah itu terkoyak. Sebanyak 42 “syuhada” gempa meninggal dunia. Enam warga masih berstatus hilang dan lebih dari puluhan ribu pengungsi terpaksa tinggal di tenda-tenda pengungsian dank amp-kamp pengungsian.

Bisa dikatakan, gempa tektonik ini merupakan gempa tektonik terdahsyad dalam beberapa decade terakhir ini di Gayo. Karena, untuk Aceh Tengah saja, dari 14 Kecamatan, 12 Kecamatan merasakan dampaknya bahkan ada beberapa kecamatan seperti Ketol, Kute Panang merupakan Kecamatan yang paliang besar dampak gempa tersebut.

Sebagai daerah bersejarah, maka tak mengherankan bila TNI/Polri, SAR, Basarnas, PMI, BPBN, Aceh dan daerah berserta berbagai elemen lainnya turun langsung bahu membahu menangani gempa ini. Dalam sepakan pertama, Pangdam IM Mayjen TNI Zahari Siregar dan Kapolda Aceh Irjen Pol Herman Effendi memimpin langsung masa evakuasi dan persiapan tanggap darurat bagi korban gempa.

Jelang berakhirnya masa tanggap darurat, Gubernur Acehpun dr Zaini Abdullah terpaksa berkantor di Gayo, guna memastikan semua penanganan masalah gempa ini bisa teratasi dengan baik dan seksama serta bijaksana tentunya.

Dalam sebuah kesempatan, sebelum kembali ke Banda Aceh di  bawah tenda pengungsian di Ratawali, gubernur berjanji akan berusaha sekuat tenaga dan kemampuan untuk membangun Tanoh Gayo, hingga bisa kembali normal.

Harapan besar masih terus tercurahkan. Masih banyak pula persoalan yang tersisa pascagempa ini. Pasalnya, sebelum luka itu mengering, masa darurat sudah habis. Berganti dengan masa transisi sebelum menuju masa rehabilitasi dan rekonstruksi.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebelum ke Gayo, lewat sidang kabinet sudah meminta agar proses rehab/rekon itu dipercepat. Agar masyarakat bisa merasakan indahnya sebuah pembangunan dari curahan kasih sayang semua elemen di republik ini mulai dari desa hingga ke tingkat pusat.bersambung…

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *