Keresahan Nabi Ibrahim AS, Keresahan Kita

oleh

Oleh : Marah Halim*

Kita sudah sama-sama mengetahui cerita di balik Idul Adha ini; cerita keluarga Ibrahim. Ied adha artinya kembali memperingati peristiwa berkurbannya Nabi Ibrahim yang diekspresikan secara simbolik dengan ikut berkurban seperti halnya Nabi Ibrahim mengurbankan kibas sebagai ganti anaknya Isma’il.

Namun ‘Ied Adha bukan hanya sebatas ritual sakral seremonial simbolik belaka, tetapi yang lebih penting adalah menggali ide dan nilai substantif yang terdalam dari peristiwa berkurban itu.

Membaca kembali cerita Ibrahim dalam al-Qur’an (62 ayat di 24 surat), kita akan sampai pada kesimpulan bahwa nabi Ibrahim adalah sosok yang resah, resah pada peradaban atau kemanusiaan yang berada pada titik nadir.

Sebagai manusia yang berakal dia tidak dapat menerima perlakuan dan kelakuan yang tidak pantas apalagi lalim kepada sesama manusia. Jamak diketahui, masa-masa itu yang berlaku adalah “Homo Homini Lupus”, manusia menjadi serigala bagi manusia lainnya. Siapa yang kuat dialah yang menentukan nasib manusia lainnya.

Akal sehat manusia tentu tidak bisa menerima kenyataan seperti itu dan berupaya mencari penyebab dan solusinya.

Secara psikologis, orang yang resah adalah orang yang sadar akan sesuatu yang tidak beres, dan itulah yang tertangkap oleh Ibrahim sejak belia-nya tentang peradabannya.

Kesadaran muncul karena pemikiran yang kritis, tajam dalam membaca keadaan. Itulah yang ada pada sosok Ibrahim yang justru tidak bisa dicapai oleh generasi sebelumnya dan segenerasinya.

Setiap Nabi adalah agen perubahan untuk zamannya, dan setiap perubahan diawali oleh adanya ide atau gagasan besar yang merupakan antitesa atau sintesa dari dialektika ide dan gagasan yang terus diuji kebenaran dan kebaikannya dalam tataran empiris kemanusiaan.

Demikian juga “ide” tentang adanya Tuhan sebagai antitesa terhadap pikiran dan praktek masa Ibrahim yang meniadakan Tuhan atau mempertuhankan manusia dan menuhankan manusia. Untuk suatu peradaban yang sudah berkerak, tidak mudah untuk menawarkan ide-ide baru, karena itulah Ibrahim ditentang habis-habisan oleh bangsa dan keluarganya sendiri.

Sama halnya dengan kesadaran Nabi Muhammad SAW terhadap perilaku bangsanya, pikiran kritis itu pula yang menuntunnya untuk mencari jalan terbaik untuk merubah keadaan.

Kontemplasinya yang mendalam di gua Hira adalah upayanya mendapatkan inspirasi tentang ide dan nilai yang benar yang akan menguatkan jiwa dan keyakinannya sehingga tidak ragu-ragu untuk melakukan perubahan radikal di masyarakatnya.

Apa yang dilakukan Nabi Muhammad sesungguhnya adalah revitalisasi ide Tuhan yang telah lebih dahulu dirintis oleh Nabi Ibrahim.

1. Keresahan yang pertama
Keresahan Ibrahim akan kondisi kemanusiaan, dimana manusia menuhankan manusia, dimana manusia memperbudak manusia yang lain. Keresahan itulah yang mendorong Ibrahim untuk mencari nilai kebenaran yang sesungguhnya; siapa yang berhak atau seharunya diikuti atau dipatuhi nilai-nilainya.

Keresahan ini diabadikan dalam beberapa surat dan ayat al-Qur’an. Misalnya cerita tentang pertanyaannya kepada ayahnya untuk apa membuat dan menyembah berhala yang tidak bisa berbuat apa-apa. Kemudian pencariannya tentang Tuhan.

Ketika ia melihat bulan, bintang, dan matahari yang timbul tenggelam, akhirnya ia berkesimpulan Tuhan bukan zat yang semacam itu, pasti Tuhan bukan zat yang bisa dilihat secara kasat mata tetapi keberadaannya bisa dirasakan.

Apa pentingnya pengakuan akan adanya Tuhan? Pengakuan pada adanya Tuhan adalah untuk menentukan nilai yang terkait hubungan manusia dengan manusia. Pengakuan pada Tuhan maka yang berlaku dalam hidup kita adalah nilai-nilai yang ditunjukkan Tuhan; “tidak boleh membunuh”, “tidak boleh zalim”, “tidak boleh merugikan dan mencelakakan orang lain”, dan sebagainya.

Tetapi jika tidak ada pengakuan pada Tuhan ini, maka yang berlaku adalah nilai yang ditetapkan secara sembarangan oleh manusia yang berkuasa sesuai kesukaan dan keuntungan dirinya.

Menempatkan Tuhan di atas manusia artinya menempatkan nilai-nilai yang ditunjukkannya di atas semua nilai-nilai yang ditetapkan manusia, atau menjadi sumber atau standar bagi nilai-nilai yang dibuat oleh manusia.

Apa dampak nyata penemuan Ibrahim ini pada manusia? Pentingnya penemuan Ibrahim tidak lain adalah pada harkat dan martabat manusia, pada relasi dan hubungan antara sesama manusia. Pemikiran Ibrahim berhadapan dengan budaya yang sudah sangat berkarat dan akut yaitu manusia menguasai dan memperbudak manusia yang lain.

Manusia yang berkuasa menuhankan dirinya dan menentukan nasib manusia yang lain. Mengatur hidup mati orang, tidak ada hukum karena hukum adalah yang berkuasa.

Sampai detik inipun kecenderungan manusia menuhankan dirinya masih ada, selama Covid-19 terjadi kasus rasial paling parah dalam sejarah Amerika, kematian George Floyd oleh polisi, memicu demonstrasi yang menentang perilaku tersebut.

Tetapi penentangan yang luar biasa tersebut menandakan bahwa nilai-nilai kemanusiaan yang dicetuskan oleh agama telah mendapat tempat yang dominan di hati umat manusia.

Inilah warisan (legacy) Ibrahim untuk peradaban manusia yang adalah penemuannya tentang kebenaran bahwa di atas manusia itu ada Tuhan, bukan manusia yang berhak dituhankan. Untuk peradaban saat itu yang didominasi oleh pikiran yang sudah tertutup ini merupakan suatu lompatan pemikiran yang luar biasa oleh Ibrahim yang saat itu masih “milenial”.

Dari sekian banyak Nabi, Nabi Ibrahim adalah yang paling banyak kisahnya diceritakan dalam al-Qur’an, karena prestasinya yang sangat luar biasa menemukan keberadaan Tuhan dan membawa perubahan yang sangat besar pada peradaban manusia; dari peradaban yang tidak mengenal Tuhan dan karena itu manusia yang menuhankan dirinya, kepada peradaban yang mengenal Tuhan yang menempatkan manusia sama.

2. Keresahan Ibrahim karena tidak memiliki keturunan
Setelah Ibrahim berhasil membuktikan bahwa Tuhan itu ada dan keyakinannya penuh seratus persen tanpa ada keraguan, maka kesadaran yang merupakan modal awal membangun peradaban ini perlu diteruskan oleh generasi yang memiliki keyakinan dan kekokohan keyakinan yang sama.

Untuk konteks saat itu, suatu kesadaran (ide dan gagasan) efektif diwariskan hanya kepada keluarga, istri dan anak. Karena itulah dalam sejarah nabi-nabi yang membawa perubahan besar pada dunia, keluarga menjadi penyokong utama untuk memperkokoh keyakinan pada gebrakan peradaban yang dilakukan sang Nabi.

Karena itulah Nabi Ibrahim resah ketika ia menyadari kenyataan bahwa istrinya tidak memungkinkan untuk memberinya keturunan. Faktor ini pula yang mendorongnya untuk menikah dengan hajar, semata-mata untuk mendapatkan keturunan.

Dari perspektif pendidikan, maka transfer nilai yang paling efektif adalah dengan metode teladan, karena itulah ada pepatah, “jatuhnya buah tidak akan jauh dari pohonnya”, anak adalah gambaran dari orang tua, baik fisik maupun jiwanya. Karena pendidikan adalah pembentukan jiwa (akal dan pikiran), maka proses yang paling efektif adalah di keluarga.

Karena itulah cerita sukses dalam al-Qur’an adalah cerita antara orang tua dengan anaknya, seperti Ibrahim dengan Isma’il dan Ishaq, Ishaq dengan Ya’qub.

3. Keresahan Ibrahim akan keberlangsungan tauhid/Islam
Karena itulah dalam banyak ayat al-Qur’an kita dapati ayat-ayat yang menggambarkan keresahan Ibrahim. Resah akan kelanjutan warisan yang akan ia tinggalkan.

Warisan Ibrahim yang terbesar adalah penemuan kebenaran yang teguh dan tak tergoyahkan akan eksistensi Tuhan, bahwa di atas manusia itu ada Tuhan, tidak boleh manusia yang disembah karena kekuasaannya, karena kalau manusia yang menjadi tuhan maka yang ada mendatangkan kehancuran; akan subur perbudakan, penjajahan, ketidakadilan, kezaliman.

Hingga detik inipun peradaban yang tidak percaya pada keberadaan tuhan cenderung berupaya “menuhankan diri” dengan memperbudak manusia. Hanya dengan akidah yang mengakui keberadaan Tuhan manusia akan berperilaku yang manusiawi terhadap sesamanya.

Keresahan Ibrahim diabadikan dalam al-Qur’an di akhir juz pertama: Wa washsha biha Ibrahimu banihi wa Ya’quub, ya bunayya innallah ishthafa lakum addina fala tamutunna illa wa antum muslimun. Dalam ayat lain: Rabbi ij’alnii muqimashhalati wa min dzurriyyati……dalam ayat lain: wa idzqala Ibrahima wa Ya’qubu: Ma ta’buduna min ba’dii; qalu na’budu ilahaha wa ilaha abaika Ibrahim.

Dalam ayat lain Ibrahim resah karena beliau belum memiliki keturunan, pertanyaannya mengapa ia sangat berhasrat untuk memiliki keturunan sampai-sampai ia harus menikah lagi? Bukan seperti Ibrahim saat ini yang menikah lagi dengan cari-cari alasan.
Keresahan kita.

Poin yang kadang luput dari kajian adalah bahwa misi Ibrahim mengenal Tuhan tujuannya bukan untuk Tuhan itu sendiri, tetapi untuk kemanusiaan. Ibrahim menemukan Tuhan untuk menjadi penentu nilai standar dalam kehidupan manusia, sehingga manusia satu sama lain hidup dalam kasih sayang dan kedamaian, sesuai dengan ayat pertama dalam al-Qur’an “bismillahirrahmanirrahim”, jika misi kemanusiaan itu belum terwujud maka manusia belum cukup mengenal Tuhan.

Jadi, kesimpulan yang bisa kita tarik dari cerita Ibrahim dan keluarganya adalah regenerasi, Ibrahim menginginkan anak-anak biologisnya dan anak-anak ideologisnya yang menguasai peradaban, agar peradaban manusia memang memanusiakan dan manusia, menjadikan manusia tujuan dari pembangunan, bukan menjadi korban pembangunan.

Karena pada saat Ibrahim hidup ideologi dan teologinya bersaing dengan ideologi Namruz, kaum yang menuhankan diri yang cenderung membawa malapetaka bagi sesama manusia. Jadi, saat itupun ada dua ideologi yang bertarung; ideologi yang mengakui Tuhan dan ideologi yang tidak mengakui Tuhan atau menuhankan diri, bahanyanya kalau ideologi yang berkuasa maka cenderung melumat manusia yang tidak mengikuti kemauannya.

Dalam lingkungan kita yang terdekatpun mental-mental seperti ini ada, orang yang cukup beriman cenderung tidak mau mengganggu hak orang lain, sedangkan orang yang tidak merasa dekat dengan tuhan cenderung suka melanggar hak orang lain.

Kita semua saat ini adalah Ibrahim-Ibrahim, Hajar-Hajar, Ismail-Ismail di keluarga kita masing-masing. Adakah resah dan gelisah kita sama seperti resahnya Ibrahim kepada anak dan cucu-cucunya? Kita juga saat ini harus resah. Generasi yang lemah jiwa dan fisik. “Wal yakhsyalladzina law tarakuu min khalfihim dzurriyyatan dhi’afan khafuu ‘alayhim”.

Resah adalah tanda sadar dan berpikir benar. Jika Ibrahim resah memikirkan kelanjutan tauhid yang telah dirintisnya dengan susah payah dan khawatir akan dilencengkan oleh anak cucunya, maka kekhawatiran kita saat tidak lagi pada hal-hal simbolik itu, karena simbolisme itu telah dipancangkan oleh Ibrahim.

Kekhawatiran kita harus diarahkan pada hal-hal yang lebih substantif agar nilai-nilai yang ditunjukkan Tuhan dapat terwujud dalam kehidupan bersama sesama manusia. Jangan sampai ada lagi manusia yang menindas, merugikan, menzhalimi manusia yang lain dengan kekuasaannya, dengan jabatannya; sebaliknya sesama manusia harus saling menyayangi.

Demikian pula, jangan sampai potensi manusian dan alam yang diberikan kepada manusia dipergunakan untuk menindas sesama manusia. Nuklir adalah potensi alam, tetapi jika dipegang oleh manusia yang tidak mengakui eksistensi Tuhan, maka ia akan memaksa manusia lain untuk menuhankannya. Inilah makna terbesar dari pengenalan Ibrahim akan Tuhan, agar manusia tidak menjadi serigala bagi manusia yang lain.

*Dr. Marah Halim, S.Ag., M.Ag., MH, Widyaiswara BPSDM Aceh, anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PW Muhammadiyah Aceh

Comments

comments