Haruskah Kita Berkurban Seperti Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad?

oleh

Oleh : Dr. Marah Halim, S.Ag., M.Ag., MH*

Berkurban memang perbuatan yang baik, tetapi perbuatan baik yang metode-nya tidak tepat maka hanya akan menjadi sia-sia. Berbuat baik juga butuh metode yang aktual, kreatif dan solutif bagi sasaran perbuatan baik kita, jika tidak sama halnya dengan pepatah “arang habis besi binasa”.

Jika cara berkurban kita masih seperti sekarang, maka sampai kapanpun segmen ibadah kurban tidak akan bisa memperbaiki fondasi ikatan sosial kita yang problem intinya adalah kemiskinan.

Cara berkurban kita selama ini yang dimana-mana menyembelih hewan dan kemudian membagi daging bisa dianggap tidak memberi manfaat yang nyata bagi masyarakat, terutama kalangan ekonomi lemah.

Alangkah lebih baiknya dana yang diperuntukkan untuk hewan kurban itu dihimpun dalam bentuk uang sehingga lebih bisa digunakan oleh mereka yang membutuhkan untuk memenuhi kebutuhan nyata mereka; apakh untuk sembako, untuk obat bagi yang sakit, untuk bayar hutang bagi yang berhutang, untuk modal bagi yang tidak punya modal, dan sebagainya.

Jika kurban hanya dalam bentuk daging yang diberikan seperti yang lazim dilakukan saat ini, maka hanya akan menjadi ampas saja, dan nilainya tidak lebih hanya untuk memuaskan batin mereka yang berkurban seolah dengan memberi daging telah mendekatkan mereka kepada Allah.

Dalam kenyataan daging setumpuk itu tidak terlalu diperlukan mereka yang berekonomi lemah. Konon lagi dalam masa-masa sulit seperti Covid-19 ini, banyak orang yang membutuhkan uang atau sembako, bukan daging.

Satu Visi Beda Misi

Konteks pengurbanan Ibrahim adalah perwujudan keyakinannya pada eksistensi Tuhan; dia tidak ingin dianggap bahwa keyakinannya pada adanya Tuhan kurang hanya karena kecintaannya pada anak, maka jika ia harus memilih maka ia lebih memilih apa yang diminta oleh Tuhan.

Jadi, kontek perjuangan Ibrahim adalah menegaskan eksistensi Tuhan, pertanyaannya ketika eksistensi Tuhan sudah kuat dalam keyakinan kita, maka apakah simbolisasinya harus dilaksanakan oleh setiap individu dalam bentuk menyembelih hewan?

Tidakkah lebih baik simbolisasi hewan itu secara representatif saja dan selebihnya dikumpulkan dalam bentuk sesuatu yang bernilai yang lebih mencerminkan pada fungsi dari keyakinan pada Tuhan itu, yakni menyelamatkan eksistensi manusia itu sendiri?

Bukankah Ibrahim berjuang mengenal eksistensi Tuhan sesungguhnya untuk menyelamatkan eksistensi manusia?

Haruskah kita berkurban seperti Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad berkurban? Apakah sama konteksnya? Konteks dua Nabi itu adalah konteks meneguhkan ketauhidan, cocok dengan perjuangan mereka meneguhkan eksistensi Tuhan di atas manusia, tetapi di saat ketauhidan yang paling fundamental itu sudah sempurna di masa kita, maka kita saat ini harus bergerak kepada esensi dari syari’at itu, yakni kemaslahatan manusia itu sendiri.

Karena itu, berkurban harus lebih diarahkan kepada penguatan nilai-nilai yang ditunjukkan Tuhan itu sendiri, yakni nilai-nilai hidup sesama manusia. Jika itu konteks kita, maka sebaiknya kita mencari metode berkurban yang lebih bermanfaat bagi manusia. Misi kita berbeda dengan misi Ibrahim dan Muhammad, mereka menegakkan ketauhidan, sedangkan misi kita merealisasikan implikasi ketahuhidan kepada sesama manusia.

Kita bertauhid untuk meyakini apa yang diinginkan Tuhan kepada manusia, yaitu kasih sayang sesama manusia, jangan ada yang menindas manusia yang lain, jangan ada yang tidak peduli dengan penderitaan manusia yang lain, jangan ada yang kelaparan, jangan ada menahan sakit karena tidak mampu berobat, jangan ada yang mencuri karena tidak punya modal berusaha, jangan ada yang putus sekolah karena tidak cukup biaya, dan sebagainya. Intinya, isu kita adalah kemiskinan dan upaya pemerataan kesejahteraan.

Misi Nabi Ibrahim dan Muhammad adalah misi seperti pasukan marinir yang berfungsi mendaratkan infanteri, ketika infanteri sudah mendarat maka tahap selanjutnya adalah infanteri yang melanjutkan untuk mencapai visi yang sesungguhnya dari pergerakan kedua pasukan itu. Jika seperti ini konstruksinya, maka metode kita berkurban dapat berbeda dengan metode Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad SAW berkurban.

Visi Islam adalah rahmatan lil ‘alamin, karena itu ketika Nabi telah selesai dengan misinya maka tugas kita saat ini adalah mewujudkan rahmatan lil ‘alamin itu dalam konteks kita masing-masing. Kesempurnaan Islam sebagai tauhid sudah selesai, maka saat ini dan akan terus diminta adalah perwujudan masyarakat manusia yang berkasih sayang yang tentunya sesuai waktu, tempat dan keadaan masing-masing.

Jika realitas manusia di masa Ibrahim yaitu realitas manusia yang diperbudak, ditindas, dinistakan, dipaksa untuk menyembah manusia yang menuhankan dirinya, dan realitas-realitas lain yang merendahkan martabat manusia; maka realitas sosial di zaman kita sekarang yang tidak kurang meruntuhkan martabat manusia adalah orang-orang yang butuh modal, orang-orang yang di-PHK, orang yang putus sekolah, orang yang butuh biaya untuk menyelesaikan studi, orang yang butuh biaya berobat karena ia kepala keluarga yang punya tanggungan, orang yang berhutang dan selalu diintimidasi yang berpiutang, dan sebagainya.

Ada banyak orang menderita atau dibuat menderita karena status sosial, karena himpitan ekonomi dan sebagainya, dan itulah yang harus menjadi perhatian dalam setiap bentuk hari besar Islam, mengapa?

Hari-hari besar itu sifatnya momentum, dan karena hari raya dalam Islam identik dengan berbagi, maka momentum berbagi itu yang harus dimenej dengan baik agar memberi magnitude yang besar terhadap problem sosial.

Jika hewan-hewan kurban itu diuangkan saja maka akan terkumpul dana yang sangat besar yang bisa digunakan untuk membantu kalangan ekonomi lemah dan rentan untuk bisa bertahan menghadapi hidup; wujudnya bisa berbagai macam seperti bedah rumah, membuat koperasi simpan pinjam, bea siswa, dan sebagainya.

Tapi, jika setiap momentum Idul Adha hanya dalam bentuk hewan kurban yang didagingkan, manfaatnya sangat singkat dan kecil sekali dampak sosial ekonominya.

*Widyaiswara BPSDM Aceh, anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PW Muhammadiyah Aceh.

Comments

comments