Dedikasi Prof A Malik Fadjar Untuk  Pendidikan Hingga Akhir Hayat

oleh

Catatan : Muhammad Nasril*

Pagi itu sekitar tiga tahun lalu, tepatnya Senin (4/12/2017), untuk pertama kali saya bertemu langsung Prof. A.Malik Fadjar, tokoh pendidikan Indonesia, mantan Mendikbud dan saat itu beliau anggota Dewan Pertimbangan Presiden  (Wantimpres)
Jokowi.

Pada kesempatan tersebut, saya mendampingi Kakanwil Kemenag Aceh Daud Pakeh yang mendapat undangan  kehormatan dari Malik Fadjar bersama 4 Kakanwil lainnya di kantor Malik Fadjar, Jalan Veteran III, Jakarta.

Sebelumnya, saya sudah mengenal sosoknya sejak di bangku SD, gagasannya telah mewarnai dunia pendidikan negeri ini, telah banyak waktu yang dihabiskan untuk memikirkan pendidikan di nusantara ini, bahkan saat ia telah berusia senja, ia masih tetap memikirkan pendidikan.

Dengan wajah ceria dan senyum khas profesor ini, menyapa dan menyalami para Kakanwil yang telah menunggu, seraya menanyakan kabar mereka satu persatu.

Sosok politikus Indonesia yang dikenal religius dan pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan Nasional pada kabinet Gotong Royong ini mengawali pembicaraan dengan berbagi pengalaman dalam membangun pendidikan di Indonesia, khususnya pendidikan agama.

Mulai dari pahitnya perjuangan saat awal-awal membangun pendidikan melalui sebuah kampus sampai kini ia dapat melihat hasilnya. Tokoh nasional itu telah banyak memberikan kontribusi baik pemikiran dan bakti pengabdian dengan penuh komitmen dan optimis untuk kemajuan ilmu, agama, bangsa dan negara.

Dalam kesempatan itu, Alumnus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Malang tahun 1972 ini juga menceritakan, saat ia menjadi guru agama di Sekolah Rakyat Negeri (SRN) dan juga di sejumlah tempat lainnya.

“Kondisi saat itu pas-pasan,” ujar Malik Fadjar.

Namun, ia tidak pernah berhenti menjemput masa depan hingga tahun 1981, beliau meraih gelar Master of Science di Department of Educational Research, Florida State University, Amerika Serikat hingga menjadi dosen.

Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta ini juga menceritakan bagaimana orang-orang mengkritiknya saat menjabat sebagai sekretaris fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel, Malang,  karena gagasan yang dilakukannya tidak bisa ditebak.

Bahkan, sosok itu telah menggagas otonomi pendidikan. Pemikirannya di bidang pendidikan sering menjadi rujukan, khususnya mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir.

Pada kesempatan itu, mantan Menteri Agama Indonesia pada tahun 1998-1999 ini juga menyampaikan, ia sengaja mengundang beberapa Kakanwil dan Direktur SKK Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI untuk mendengar langsung kondisi ril pendidikan khususnya madrasah di daerah, sehingga menjadi masukan dan bahan pertimbangan pihaknya dalam mengambil kebijakan. Baginya, pendidikan agama, madrasah khususnya harus lebih maju, mandiri, dan inovatif.

Setelah itu, masing-masing Kakanwil diberi kesempatan untuk memaparkan kondisi madrasah di daerah masing-masing.

Kakanwil Kemenag Aceh pada kesempatan itu mengatakan, peminat madrasah di Aceh meningkatkan drastis, namun tidak berbanding lurus dengan ruang kegiatan belajar dan sarana yang ada. Sehingga tidak banyak siswa yang bisa ditampung di madrasah, begitu juga halnya dengan ruang guru masih banyak madrasah yang tidak ada ruangan yang layak.

Selain itu Kakanwil Kemenag Aceh juga menyampaikan, sampai saat ini jumlah madrasah swasta di Aceh lebih banyak dari pada madrasah negeri, kecuali tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI). Begitu juga halnya dengan kondisi madrasah swasta di pedalaman Aceh masih sangat perlu perhatian seluruh elemen masyarakat.

“Ada sejumlah madrasah swasta di pedalaman Aceh itu sangat memprihatinkan, jajaran Kemenag Aceh telah mencoba melakukan inovasi dalam menggalang dukungan untuk membangun madrasah di pedalaman tersebut,”  lanjut Kakanwil.

Mendengar pemaparan dari Kakanwil Kemenag Aceh, Prof Malik Fadjar mengapresiasi adanya kerjasama antara pemerintah Aceh dengan Kemenag untuk sama-sama memajukan pendidikan. Ia juga saat itu mengatakan, akan berkunjung ke Aceh dalam waktu dekat.

“Kerjasama ini menarik, ketika pemerintah Aceh bersama Kemenag sama-sama memajukan pendidikan di Aceh,” ujar Prof Malik Fadjar.

Dalam kesempatan tersebut, Malik Fadjar mengatakan akan melakukan pembicaraan khusus dengan kementerian terkait kekhawatiran kepala sekolah dalam hal menerima bantuan dari masyarakat yang disponsori oleh komite.

“Asalkan transparan dan akuntabel, saya akan bantu, yang penting jangan dijadikan sarana untuk korupsi,” jelas Malik Fadjar.

Sebelum mengakhiri pertemuan, Malik Fadjar meminta Kanwil untuk melindungi kepala sekolah dan meminta kepada direktur kurikulum kelembagaan dan kesiswaan untuk menyampaikan peraturan menteri agama tentang persoalan guru atau sumbangan masyarakat agar madrasah mempunyai payung hukum dan tidak dianggap pungli.

Sosok yang sudah berumur 78 tahun itu tetap semangat berbicara tentang pendidikan dan semangat memajukan pendidikan di negara ini, ia berpesan kepada para guru agar menjadi guru yang luar biasa.

Mengakhiri pertemuan itu, ia ingin menikmati makan siang bersama dengan pejuang pendidikan di daerah itu, sambil menikmati makan siang ia juga secara khusus bertanya tentang pendidikan madrasah di Aceh pada Daud Pakeh.

Tak lupa, setelah kegiatan usau semua ingin foto bersamanya, saya juga ikut meminta beliau foto bersama.

Malik Fadjar Berkunjung ke Aceh

Alhamdulillah,  hari itu Selasa, (17/7/2018) saya kembali dipertemukan dengan Prof Malik Fadjar, saat ia berkunjung ke Kemenag Aceh. Sedikit basa-basi memperkenalkan diri yang pernah berkunjung ke kantornya pada Desember 2017.

Tentu, kehadirannya ke Aceh merupakan suatu kehormatan dan kemuliaan bagi kami.

Pada pertemuan tersebut, lagi-lagi ia  membahas tentang perkembangan pendidikan Aceh baik sekolah maupun madrasah dan juga membahas tentang isu terkini kerukunan umat beragama di Aceh.

“Kemenag punya tugas utama menciptakan tata kehidupan umat beragama di Indonesia, kalau ada masalah agama, Kemenag sebagai barometer meneguhkan identitas bangsa dan mencegah disintegrasi bangsa,” ujar Prof A Malik Fadjar.

Selain, Kemenag, ia juga berkunjung ke Universitas Muhammadiyah Aceh dan serangkaian kegiatan lainnya.

Kini, Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Abdul Malik Fadjar telah berpulang pada Senin (7/9/2020).

Nusantara berduka, beliau telah banyak mengukir jasa untuk pendidikan anak negeri, ia sosok yang memberikan inspirasi dan motivasi bagi kita semua, semoga Allah menempatkan almarhum di surgaNya bersama dengan para syuhada dan shalihin. Amin ya Rabb. []

*Kasubbag Ortala dan KUB Kanwil Kemenag Aceh.


Ikuti channel kami, jangan lupa subscribe :

Comments

comments