Aku Dicambuk…

oleh

Oleh: Dr. Jamhuri Ungel, MA*

Saya baru selesai membaca buku yang berjudul Work, karangan James Suzman, yang diterjemahkan oleh Ida Rosdalina, jumlah halaman 405. Bila kita baca dari awal, buku ini menjelaskan tentang bekerja, di mana semua yang hidup di dunia ini adalah pekerja.

Alasan mereka bekerja secara keseluruhan adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Di samping itu, alasan untuk bekerja adalah untuk mencari perhatian atau memenuhi keinginan-keinginan. Tidak terkecuali binatang, baik binatang yang terkecil sampai binatang yang terbesar. Mereka juga bekerja tanpa henti.

Kemudian, khusus untuk manusia, tahapan bekerja di dalam buku ini disusun mulai dari manusia pengumpul atau pemburu, di mana pada saat ini kondisi manusia tidak jauh berbeda dengan makhluk-makhluk yang lain.

Mereka terus bekerja untuk makan, bekerja untuk mencari dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, tanpa mengenal lelah dan tanpa mengenal waktu.

Kemudian, dilanjutkan pada era pertanian. Pada masa ini, manusia sudah mulai bekerja dengan tidak berpindah-pindah atau menetap di suatu tempat. Mereka mulai mengumpulkan makanan atau kebutuhan mereka yang terkadang pemenuhannya melebihi apa yang dibutuhkan, bahkan melebihi apa yang diinginkan.

Oleh karena itu, cara memenuhi kebutuhan pada masa pertanian ini bagi sebagian orang adalah dengan mempekerjakan orang lain untuk menghasilkan uang atau harta sebanyak-banyaknya. Mereka mempekerjakan para buruh yang terkadang tidak hanya berasal dari satu negara. Bahkan, mereka mengimpor buruh dari negara lain.

Kemudian, cara pemenuhan kebutuhan juga terjadi sebaliknya, di mana orang-orang harus memenuhi kebutuhan pribadinya yang terkadang mengharuskan mereka memaksakan diri atau dipaksakan oleh orang lain untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Hal ini terjadi pada buruh ketika bekerja bersama majikan-majikan mereka.

Mereka semua adalah orang-orang yang berpikir pada tingkatan bahwa semua yang dicari adalah materi atau yang disebut juga finansial. Tergantung atau terserah bagaimana cara yang dilakukan atau pekerjaan yang dilaksanakan, yang penting mereka menghasilkan uang atau kapital.

Kemudian, dilanjutkan dengan masa industri, di mana orang beranggapan bahwa ketika masa industri tiba, semua pekerjaan dikerjakan oleh mesin.

Banyak orang beranggapan bahwa manusia menjadi lebih mudah karena pekerjaan-pekerjaan mereka diambil alih oleh mesin. Hasil-hasil yang didapatkan dari olahan mesin tentu beribu kali lebih banyak daripada yang dikerjakan oleh individu atau yang dilakukan secara fisik.

Namun, pada kenyataannya, ketika masa industri dimulai, manusia sudah mulai berpacu dengan waktu. Mereka harus berangkat bekerja pada jam tertentu dan juga beristirahat pada jam yang ditentukan pula.

Kemudian, waktu selesainya kerja dan waktu pulang juga harus mengikuti jam-jam yang telah ditentukan. Ketentuan atau penentuan jam dan waktu ini tidak didapatkan pada masa-masa sebelum era industri, baik pada masa berburu maupun masa pertanian.

Akan tetapi, pada masa industri, hal ini menjadi sebuah keharusan.
Akibatnya, banyak orang yang terkadang menghabiskan waktu mereka di tempat kerja. Waktu istirahat mereka sangat sedikit dan terkadang banyak di antara mereka yang tidak memanfaatkan waktu istirahat tersebut.

Di antara penyebab mereka giat bekerja tanpa mengenal waktu, kendati waktu sudah ditentukan, adalah karena mereka mencari uang. Semakin banyak uang yang diberikan kepada mereka, semakin mereka mau bekerja dan terus bekerja.

Banyak negara yang masyarakatnya mempunyai hobi bekerja sehingga mereka bekerja di luar jam kerja. Di antara negara tersebut adalah negara yang sering kita kenal, seperti Jepang, Korea Selatan, Norwegia, dan lain-lain. Banyak negara di dunia ini yang masyarakatnya mempunyai hobi bekerja.

Bila kita lihat pada tahun 1970-an, banyak orang yang sakit di negara-negara yang disebutkan tersebut karena mereka lelah dalam bekerja. Waktu mereka untuk bekerja sangat panjang dan terkadang mereka juga mengambil waktu lembur untuk bekerja sehingga tidak ada waktu istirahat. Oleh karena itu, waktu kerja yang sangat panjang berakibat pada banyaknya orang yang jatuh sakit.

Di samping mereka yang sakit, bila kita baca buku yang kami sebutkan di atas, banyak juga orang yang menghabiskan nyawanya atau meninggal dunia karena terlalu lelah. Jadwal kerja mereka terlalu panjang dan terlalu berat. Ini juga merupakan penyebab atau akibat dari banyaknya waktu yang digunakan untuk bekerja.

Banyak perusahaan atau pimpinan perusahaan yang memberikan waktu berlibur kepada para pekerja dengan tetap membayar upah ketika mereka berlibur. Akan tetapi, banyak di antara mereka yang tidak mau memanfaatkan waktu libur tersebut.

Mereka tetap bekerja karena, sebagaimana disebutkan, bekerja itu telah menjadi hobi bagi masyarakat di negara-negara yang disebutkan tadi.
Ada di antara para pekerja yang ketika negara mereka masih berada pada era pertanian hanya menghasilkan sejumlah uang dari pekerjaan mereka.

Namun, ketika masa industri berjalan, mereka menghasilkan ribuan kali lipat gaji yang didapatkan dari industri, mesin, atau kilang tempat mereka bekerja. Bahkan, ada yang mencapai 6.000 kali lipat dari apa yang mereka dapatkan ketika negara mereka masih berada pada masa atau era pertanian.

Memperhatikan hal tersebut, ketika saya membaca bab akhir dari buku yang saya sebutkan di atas, saya melihat ke kanan dan ke kiri di sekitar saya.

Pada zaman sekarang ini, banyak orang yang terkadang, termasuk saya sendiri, sakit disebabkan terlalu banyak beristirahat. Ketika seseorang ditanya, “Kenapa Anda sakit?”, mereka sering menyebutkan bahwa penyebabnya adalah kurang bergerak atau kurang berolahraga.

Mungkin realitas yang kita hadapi berbalik dengan apa yang dihadapi oleh masyarakat di negara-negara yang mempunyai hobi bekerja sebagaimana disebutkan di atas. Dari sini, mungkin juga tidak salah ketika kita mengatakan bahwa walaupun zaman sekarang adalah zaman teknologi yang telah melampaui era industri, kita selalu mempunyai penghasilan yang tidak cukup karena waktu yang kita gunakan tidak pernah mencapai target minimal, apalagi target maksimal.

Hal ini mungkin menjadi cambukan bagi saya sendiri ketika melihat orang terus bekerja, bekerja, dan bekerja sampai tidak cukup waktu bagi mereka untuk beristirahat. Di sisi lain, jika dilihat dari sisi jam istirahat, waktu istirahat saya tetap lebih panjang daripada jam kerja mereka di negara-negara seperti yang kami sebutkan tadi.

Di negara seperti yang kami sebutkan, ada istilah yang digunakan, yaitu 996. Artinya, mereka masuk kerja pada pukul 9 pagi, kemudian keluar pada pukul 9 malam, dan bekerja selama 6 hari. Itulah waktu yang sudah ditentukan untuk mereka. Namun, dalam kenyataannya, mereka hampir setiap hari mengambil waktu kerja lebih dari jam yang disediakan.

Terkadang, mereka mencari atau menambah waktu satu atau dua jam dari jam yang ditentukan, atau dalam istilah lain disebut dengan lembur.
Mengapa? Karena mereka menganggap bahwa ketika mereka bekerja, mereka akan mendapatkan uang sebagai kompensasi dari pekerjaan mereka.

Hal ini juga bisa kita pahami bahwa semboyan mereka adalah “Waktu adalah uang”. Oleh karena itu, mereka mendefinisikan pekerjaan sebagai segala sesuatu yang menghasilkan uang, baik pekerjaan itu dilakukan sendiri maupun pekerjaan yang dilakukan oleh orang lain, tetapi menghasilkan uang untuk dirinya.

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.