Oleh : Syukri Muhammad Syukri*
Bagian 5: Bisikan Bumi.
Hari-hari berikutnya, ceruk Mendale dan Ujung Karang tak lagi sunyi. Ketut dan Taufiq berdiri di tengah lantai tanah yang telah ditandai, bersama para peneliti dari kota Medan dan tenaga lokal yang membawa cangkul, kuas, dan harapan. Ekskavasi dimulai bukan dengan teriakan, tetapi dengan bisikan: bisikan kepada tanah agar bersedia membuka isi dadanya.
Di ceruk Mendale, garis-garis kotak ekskavasi ditarik dengan tali dan pasak. Tanah digali perlahan, lapis demi lapis, seperti membuka lembaran kitab yang ditulis dengan abu dan serpihan. Tenaga lokal menyisir dengan kuas, menyentuh tanah seperti menyentuh kulit bayi. Para peneliti mencatat suhu, warna, kedalaman, dan aroma. Tapi di balik semua itu, mereka tahu: mereka sedang menyentuh waktu.
Di Ujung Karang, ekskavasi lebih menantang. Ceruk-ceruk yang menganga di kaki bukit itu menyimpan kelembapan dan kegelapan. Bongkahan batu besar di depan mulut ceruk menjadi tempat berteduh, tempat menaruh alat, tempat duduk untuk merenung. Ketut memimpin penggalian dengan sabar, mengajarkan bahwa tanah tidak bisa dipaksa, hanya bisa diajak bicara.
“Ekskavasi bukan hanya menggali,” ujar Ketut kepada para tenaga lokal, “tetapi mendengar. Karena tanah ini punya suara, dan kita harus belajar mendengarnya.”
Hari demi hari berlalu, temuan mulai muncul: serpihan gerabah, alat serpih, tulang belulang, cangkang moluska, sisa arang. Setiap benda dicatat, difoto, dibungkus, dan disimpan. Tapi lebih dari itu, setiap benda ditafsirkan. Ditafsirkan sebagai jejak kehidupan, sebagai nyanyian yang tertinggal, sebagai tubuh yang pernah bermimpi.
Di malam hari, para peneliti dan tenaga lokal berkumpul di warung kopi Kantin Batas Kota. Mereka tidak hanya membicarakan data, tapi juga cerita. Cerita tentang nenek moyang yang mungkin pernah duduk disana, menyalakan api, menatap langit yang sama. Ekskavasi menjadi ritual, bukan hanya ilmiah, tetapi juga batin.
Dan di pagi yang baru, ketika kabut turun seperti selendang dari langit, Ketut berdiri di tengah ceruk, menatap tanah yang telah terbuka. Ia tahu, mereka belum selesai. Tapi ia juga tahu, tanah telah mulai bicara. Dan tugas mereka adalah mendengar, mencatat, dan menyambung suara itu, dengan tangan, dengan ilmu, dan dengan doa.
Di bawah langit Danau Laut Tawar yang menggantung seperti tirai kabut, Ketut, Taufiq, para peneliti, dan tenaga lokal bekerja dalam diam yang khusyuk. Ekskavasi bukan lagi sekadar penggalian, melainkan ziarah. Mereka tidak sedang mencari benda, tetapi suara. Suara yang tertanam di tanah, terbungkus dalam lapisan waktu, menunggu untuk didengar.
Mereka menyisir lantai ceruk Mendale dan Ujung Karang dengan kuas yang halus, seperti menyentuh kulit bayi yang baru lahir. Setiap serpihan gerabah, setiap tulang yang retak, setiap cangkang moluska yang menguning oleh usia, semuanya mereka angkat dengan tangan yang gemetar oleh hormat. Karena mereka tahu: benda-benda itu adalah bisikan. Bisikan dari tubuh yang pernah hidup, dari jiwa yang pernah bermimpi.
“Tanah ini tidak diam,” bisik Ketut suatu pagi, saat cahaya pertama menyentuh lantai ceruk.
“Ia bicara. Tapi bukan dengan suara. Ia bicara dengan retakan, dengan serpihan, dengan arah mulut goa.”
Taufiq mengangguk, matanya menyapu dinding batu yang lembab. Ia tahu, setiap gurat adalah kata. Setiap longsoran adalah kalimat. Setiap lapisan adalah bait dari syair prasejarah yang belum selesai ditulis.
Mereka duduk bersama, tidak untuk merayakan temuan, tetapi untuk mendengarkan. Mendengarkan suara, bisikan yang datang dari dalam tanah, dari dalam batu, dari dalam diri mereka sendiri.
Karena mereka sedang mencari bisikan bumi. Bisikan yang tidak keras, tidak jelas, tapi nyata. Bisikan yang menyimpan asal, menyimpan luka, menyimpan harap. Bisikan yang ingin dikenang, bukan sebagai data, tapi sebagai nyanyian.
Dan di pagi yang baru, ketika kabut turun seperti selendang dari langit, mereka kembali ke ceruk. Dengan tangan yang sabar, dengan hati yang terbuka, mereka menyisir tanah. Karena mereka tahu: bumi sedang bicara. Dan tugas mereka adalah mendengar.
Siang itu, matahari menggantung rendah di atas ceruk Mendale, menyinari lantai tanah yang telah terbuka seperti dada bumi yang bersedia bicara. Ketut berdiri di tepi kotak ekskavasi, matanya tajam mengamati gerakan tangan para tenaga lokal yang menyisir lapisan demi lapisan.
Zul, seorang pemuda dari Asir-asir, tengah mengangkat serpihan tulang dari tanah yang lembab. Ia hendak membawanya ke ember air, tapi langkahnya dihentikan oleh suara pelan namun tegas.
“Zul,” ujar Ketut, “tulang jangan dicuci.”
Zul menoleh, sedikit bingung. Ketut mendekat, lututnya menekuk, tangannya menyentuh tanah di mana tulang itu ditemukan.
“Air bisa menghapus jejak,” lanjutnya, “bisa melarutkan sisa protein, bisa menghilangkan warna yang menyimpan waktu. Biarkan ia tetap seperti saat ditemukan. Biarkan tanah tetap menempel, karena itu bagian dari ceritanya.”
Zul mengangguk pelan, matanya mulai memahami bahwa benda-benda ini bukan sekadar temuan, tapi tubuh yang pernah hidup. Ia meletakkan tulang itu di atas kain lembut, seolah menidurkan sesuatu yang rapuh.
Di sisi lain, Taufiq tengah memisahkan fragmen tembikar yang baru diangkat dari lapisan ketiga. Ketut mendekat, lalu berkata kepada semua yang berkumpul:
“Fragmen tembikar dipisah menurut spit dan menurut pola hias.”
Ia menunjuk kotak ekskavasi yang telah dibagi per sepuluh sentimeter, spit demi spit, lapisan demi lapisan. Ia lalu menunjukkan dua fragmen: satu polos, satu bergurat spiral.
“Spit adalah waktu. Pola hias adalah suara. Kita harus tahu kapan ia muncul dan bagaimana ia bicara.”
Para tenaga lokal mulai menyusun fragmen di atas kain putih, menandai setiap spit, mencatat setiap motif. Ada yang bergaris lurus, ada yang bergelombang, ada yang tak berpola sama sekali. Tapi semuanya adalah kata. Kata yang pernah ditulis oleh tangan prasejarah, lalu tertanam, lalu ditemukan kembali.
Dalam proses penggalian yang semakin dalam, bukan hanya lapisan tanah yang terbuka, tetapi juga lapisan rasa. Di antara kuas dan cangkul, di antara serpihan gerabah dan tulang belulang, muncul bisik-bisik yang tak tertulis dalam laporan: komentar negatif, gumaman yang menyimpan ketakutan.
Para tenaga lokal, yang awalnya datang dengan semangat, mulai menunjukkan kegelisahan. Ada yang bekerja sambil menunduk, ada yang enggan masuk ke ceruk saat senja tiba. Mereka mulai berbicara pelan di sela istirahat, di bawah pohon kopi, di depan api unggun yang redup.
“Tempat itu seram,” kata seorang ibu yang anaknya ikut menggali.
“Ada suara di malam hari,” bisik seorang pemuda, matanya tak berani menatap ceruk.
“Itu bukan hanya tulang, itu arwah,” ujar yang lain, sambil menggenggam tasbih di saku celana.
Ketut mendengar semua itu. Ia tidak menertawakan, tidak membantah. Ia tahu, tanah menyimpan bukan hanya benda, tapi juga rasa. Dan rasa takut adalah bagian dari warisan yang tak terlihat. Ia mengumpulkan para tenaga lokal di bawah rumpun bambu, lalu berbicara dengan suara yang pelan tapi dalam.
“Saya tahu tempat ini terasa sunyi. Terasa berat. Tapi kita tidak sedang mengganggu. Kita sedang mendengar.”
Ia menjelaskan bahwa tulang-tulang itu bukan arwah yang gentayangan, melainkan tubuh yang pernah hidup, pernah bermimpi, dan kini ingin dikenang. Ia mengajak mereka untuk menggali dengan mengutamakan rasa hormat, bukan dengan rasa takut. Bahwa setiap serpihan adalah bagian dari kita, bukan lawan kita.
Taufiq menambahkan, bahwa ekskavasi bukan hanya ilmu, tapi juga ziarah. Bahwa tanah harus dibuka dengan tangan dan doa. Bahwa rasa takut bisa menjadi jembatan, bukan penghalang.
Perlahan, suasana berubah. Para tenaga lokal mulai menggali dengan lebih tenang. Mereka membaca doa sebelum masuk ceruk. Ekskavasi menjadi ritual. Bukan hanya penggalian, tapi penyambungan jiwa.
Dan ketika kabut turun dan kopi hanya tersisa kerak didasar gelas, Ketut duduk bersama mereka. Mereka tidak lagi bicara tentang rasa takut, tapi tentang rasa hormat. Karena tanah, yang dulu dianggap seram, kini menjadi tempat mendengar. Mendengar bisikan bumi, dan bisikan hati mereka sendiri.
Ekskavasi yang semula berjalan dengan sunyi dan hormat, mulai diguncang oleh suara-suara lain, suara yang tidak berasal dari dalam tanah, tetapi dari luar pagar. Isu mulai beredar, menyusup dari warung kopi ke kantor-kantor pemerintah, dari bisik-bisik malam ke grup pesan singkat.
“Mereka sedang menggali harta karun,” kata seorang warga dengan mata menyipit.
“Ada emas di bawah ceruk itu,” ujar yang lain, sambil menunjuk ke arah Mendale.
“Tulang-tulang itu bisa jadi jimat,” bisik seorang lelaki tua, matanya menyimpan harap yang tak bisa dijelaskan.
Ketut mendengar semua itu. Ia tidak marah, tapi gelisah. Ia tahu, tanah bukan hanya menyimpan benda, tapi juga bayangan. Dan bayangan itu bisa tumbuh menjadi harapan yang liar, menjadi ketakutan, menjadi tuntutan.
Suatu pagi, seorang warga datang ke tenda ekskavasi, membawa kain putih dan kemenyan. Ia meminta tulang belulang yang ditemukan, katanya untuk dijadikan pelindung ladang. Ketut menatapnya lama, lalu berkata pelan:
“Tulang ini bukan milik kita. Ia milik waktu. Ia milik jiwa yang pernah hidup dan kini ingin dikenang, bukan dijadikan jimat.”
Warga itu diam, lalu pergi. Tapi isu tidak berhenti. Beberapa tenaga lokal mulai ragu, beberapa peneliti mulai gelisah. Taufiq mengumpulkan semua di dalam ceruk, lalu berbicara:
“Kita sedang menggali bukan untuk mengambil, tapi untuk mengingat. Jika kita biarkan isu tumbuh, maka tanah akan kembali diam.”
Ketut menambahkan, bahwa ekskavasi adalah ziarah. Bahwa benda-benda yang ditemukan harus dirawat, bukan dimiliki. Bahwa ilmu harus berjalan berdampingan dengan rasa hormat, bukan dengan ambisi.
Mereka mulai memperketat pengawasan. Setiap temuan dicatat, difoto, disimpan dengan kode. Setiap pengunjung dijelaskan dengan sabar. Setiap tenaga lokal diajak bicara, bukan hanya bekerja. Perlahan, suasana kembali tenang. Tapi bayangan isu tetap menggantung, seperti kabut yang enggan pergi.
Bersambung…




