Jagong Jeget Tidak Sendiri: Kisah Solidaritas di Tengah Abu Kebakaran

oleh

Catatan Mahbub Fauzie (Warga Jagong Jeget, Kepala KUA Kec. Atu Lintang, Aceh Tengah)

Musibah kebakaran yang melanda Kompleks Pasar Jagong, Kampung Jeget Ayu, Kecamatan Jagong Jeget, Kabupaten Aceh Tengah, pada Minggu, 9 Agustus 2026, meninggalkan luka yang mendalam bagi masyarakat.

Deretan rumah dan tempat usaha yang selama ini menjadi pusat kehidupan warga berubah menjadi puing-puing hitam dalam waktu yang sangat singkat. Asap pekat, tangis warga, dan kepanikan saat menyelamatkan anggota keluarga menjadi gambaran nyata betapa rapuhnya kehidupan dunia yang sering kita anggap kokoh.

Berdasarkan pendataan Pemerintah Kampung Jeget Ayu, yang sempat beberapa kali diverifikasi dan mencapai angka 100-an KK korban terdampak. Data itu bukan sekadar statistik, melainkan potret manusia-manusia yang kehilangan tempat berteduh, harta benda, bahkan sumber penghidupan mereka.

Yang menarik untuk direnungkan, musibah ini memperlihatkan bahwa korban kebakaran tidak dapat dipandang sebagai satu kelompok yang seragam. Ada pemilik rumah yang sekaligus berdagang di lokasi dan kehilangan rumah serta usaha sekaligus. Ada pemilik rumah yang menyewakan bangunannya sehingga kehilangan aset.

Ada keluarga yang hanya menggunakan rumah itu sebagai tempat tinggal. Ada pula penyewa rumah yang harus kehilangan tempat tinggal meskipun rumah tersebut bukan milik mereka.

Bahkan anak-anak kos, pelajar, dan pekerja muda yang tinggal di sekitar pasar juga ikut menjadi korban karena kehilangan pakaian, dokumen penting, perlengkapan sekolah, dan tempat tinggal sementara.

Keragaman status sosial para korban ini memberikan pelajaran penting bahwa penanganan bencana membutuhkan kepekaan sosial yang lebih mendalam. Bantuan tidak cukup hanya dibagikan secara merata, tetapi juga harus mempertimbangkan kondisi nyata yang dihadapi masing-masing korban.

Mereka yang kehilangan rumah sekaligus mata pencaharian tentu memerlukan bentuk pemulihan yang berbeda dengan penyewa rumah atau anak kos yang kehilangan barang-barang pribadi dan tempat tinggal sementara.

Namun, di balik duka yang menyelimuti Jagong Jeget, ada cahaya lain yang justru tampak semakin terang: solidaritas masyarakat.

Beberapa jam setelah api berhasil dikendalikan, BPBD Aceh Tengah bergerak cepat mendirikan tenda pengungsian di kompleks Masjid Besar Al-Muhajirin. Petugas pemadam kebakaran bekerja tanpa lelah memadamkan bara-bara yang masih tersisa.

Pemerintah daerah hadir membawa bantuan masa panik, sementara Bupati Aceh Tengah bersama jajaran SKPK dan Kantor Kementerian Agama turun langsung menemui para korban. Kehadiran mereka bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif, tetapi menjadi simbol bahwa negara hadir di tengah penderitaan rakyatnya.

Yang paling menyentuh hati adalah peran Masjid Al-Muhajirin Jagong Jeget. Dalam musibah ini, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjelma menjadi pusat harapan.

Di sana para korban berteduh, relawan berkumpul, bantuan disalurkan, dan doa-doa dipanjatkan bersama. Masjid menjadi ruang yang menghubungkan empati dari berbagai penjuru dengan kebutuhan nyata para penyintas.

Gelombang kepedulian kemudian meluas melalui media sosial. Informasi tentang kebakaran menyebar dengan cepat dan menggerakkan banyak komunitas untuk ikut membantu. Bantuan datang dalam berbagai bentuk: sembako, pakaian layak pakai, alat dapur, perlengkapan sekolah, selimut, obat-obatan, hingga uang tunai untuk kebutuhan mendesak.

Dukungan mengalir dari kampung-kampung tetangga, sekolah-sekolah, organisasi sosial, partai politik, civitas akademika IAIN Takengon, BKM Masjid Agung Ruhama, lembaga kemanusiaan, hingga instansi tingkat provinsi seperti Dinas Sosial Aceh dan Baitul Mal Aceh.

Di sinilah kita belajar bahwa solidaritas sejati tidak mengenal batas administrasi, profesi, organisasi, maupun kelompok sosial. Ketika satu kampung tertimpa musibah, kampung lain ikut merasakan sakitnya. Nilai kemanusiaan ternyata masih hidup kuat di tengah masyarakat kita.

Ucapan salah seorang relawan Jagong Jeget Peduli sangat menggugah hati: “Dulu kita mengonsentrasikan bantuan dari masjid ini untuk korban bencana di tempat lain, kini kita menerima bantuan di masjid ini juga.” Kalimat sederhana itu mengandung hikmah yang sangat dalam.

Kebaikan yang pernah diberikan dengan ikhlas tidak pernah benar-benar hilang. Ia mungkin tidak kembali dari orang yang sama, tetapi Allah dapat menghadirkannya melalui tangan-tangan lain pada saat kita sangat membutuhkannya.

Fenomena ini mengingatkan kita pada nilai luhur masyarakat Gayo seperti sarak opat, musara, dan tradisi bergotong royong. Kebersamaan bukan sekadar slogan budaya yang indah diucapkan, melainkan nyata hidup dalam tindakan sehari-hari. Orang-orang datang membantu bukan karena perintah formal, tetapi karena panggilan hati nurani.

Meski demikian, solidaritas tidak boleh berhenti pada fase tanggap darurat. Pengalaman di banyak daerah menunjukkan bahwa perhatian publik sering kali besar pada hari-hari pertama bencana, lalu perlahan memudar ketika pemberitaan mulai berkurang.

Padahal tantangan sesungguhnya justru muncul setelah api padam: membangun kembali rumah-rumah yang hancur, memulihkan usaha kecil yang menjadi sumber nafkah keluarga, memastikan anak-anak tetap dapat bersekolah, mengganti dokumen-dokumen penting yang terbakar, serta memulihkan kondisi psikologis para korban yang mengalami trauma.

Karena itu, pendataan berbasis status korban menjadi sangat penting. Pemerintah kecamatan, pemerintah kampung, dan instansi terkait perlu terus melakukan verifikasi secara rinci agar bantuan hunian sementara, bantuan usaha, bantuan pendidikan, dan bantuan sosial lainnya benar-benar tepat sasaran. Keadilan dalam penyaluran bantuan merupakan bagian penting dari pemulihan martabat para korban.

Musibah Jagong Jeget juga seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat mitigasi kebakaran di kawasan permukiman dan pasar tradisional. Kepadatan bangunan, dominasi material kayu, instalasi listrik yang tidak memenuhi standar keamanan, serta minimnya peralatan pemadam sederhana dapat memperbesar risiko kebakaran serupa di masa mendatang.

Edukasi kewaspadaan kepada masyarakat, pemeriksaan instalasi listrik secara berkala, penyediaan alat pemadam api ringan di rumah dan pertokoan, serta penguatan sistem respons cepat di tingkat kampung perlu menjadi agenda bersama, bukan hanya dibicarakan setelah bencana terjadi.

Kebakaran Pasar Jagong memang menghanguskan bangunan, tetapi jangan sampai menghanguskan harapan. Justru dari puing-puing itulah kita menyaksikan sesuatu yang sangat berharga: kemanusiaan yang tetap hidup, persaudaraan yang tetap kuat, dan modal sosial masyarakat Aceh Tengah yang luar biasa untuk bangkit bersama.

Semoga para korban diberi ketabahan, kekuatan, dan jalan kemudahan untuk memulai kembali kehidupan mereka. Semoga para relawan, petugas pemadam, tenaga kesehatan, aparat pemerintahan, TNI, POLRI setempat dan semua pihak yang telah membantu diberi kesehatan, keikhlasan, dan balasan terbaik dari Allah SWT.

Dan semoga musibah ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa harta benda dapat hilang dalam sekejap, tetapi kepedulian yang tumbuh dari hati manusia akan tetap menyala.

Karena sesungguhnya, api dapat membakar rumah dan pasar, tetapi ia tidak akan pernah mampu membakar solidaritas yang hidup di dalam hati manusia.[]

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.