Haili Yoga Perluas Pengetahuanmu, Bagian 25: Jam Tangannya Seharga Mobil Mewah

oleh

Oleh : Fauzan Azima*

Di negeri yang masih bergulat dengan jalan rusak, irigasi yang belum sempurna, sekolah yang membutuhkan perhatian, dan masyarakat yang berharap harga kebutuhan pokok tetap bersahabat, terkadang perhatian publik justru tersita oleh sesuatu yang melingkar di pergelangan tangan.

Sebuah jam tangan.

Bukan karena fungsinya menunjukkan waktu, melainkan karena harganya konon setara sebuah mobil mewah. Bahkan, ada yang mengatakan nilainya mampu membeli rumah sederhana di beberapa daerah.

Di sinilah persoalannya bukan lagi soal jam tangan. Publik sesungguhnya sedang berbicara tentang sensitivitas.

Seorang pemimpin memang berhak menikmati hasil kerja kerasnya apabila diperoleh secara sah. Namun, ketika berada di ruang publik, setiap simbol kemewahan akan dibaca dengan sudut pandang yang berbeda. Masyarakat tidak hanya melihat benda yang dikenakan, tetapi juga pesan yang dipancarkannya.

Jam tangan mahal tidak otomatis menjadikan seseorang lebih bijaksana. Sebaliknya, jam tangan sederhana tidak mengurangi kualitas kepemimpinan. Yang diukur rakyat bukan harga aksesori, melainkan harga diri seorang pemimpin yang tetap dekat dengan rakyatnya.

Ironisnya, semakin mahal sebuah jam tangan, semakin sulit ia menunjukkan waktu yang sedang dirasakan masyarakat. Ketika rakyat menghitung biaya sekolah, pupuk, dan kebutuhan dapur, sebagian pejabat justru sibuk menghitung edisi terbatas, material eksklusif, dan nilai investasi koleksi.

Padahal sejarah menunjukkan bahwa pemimpin besar lebih dikenang karena keberanian mengambil keputusan daripada kemewahan yang dikenakannya.

Rakyat tidak membutuhkan pemimpin yang tampak paling mahal. Mereka membutuhkan pemimpin yang paling peka.

Sebab pada akhirnya, waktu akan menjadi hakim yang paling adil. Bukan jam tangan yang menentukan apakah seseorang dikenang sebagai pemimpin yang berpihak kepada rakyat, melainkan jejak kebijakan yang ditinggalkannya.

Mungkin inilah pelajaran hari ini: jangan sampai harga jam tangan lebih sering menjadi pembicaraan daripada harga gabah petani, harga kopi petani Gayo, atau harga hasil keringat masyarakat.

Karena ketika simbol kemewahan lebih nyaring daripada suara rakyat, maka yang sedang berjalan bukan sekadar jarum jam, melainkan jarum kritik publik yang terus bergerak tanpa bisa dihentikan.

Bersambung ke bagian 26…

(Mendale, Juni 18, 2026)

Comments

comments