TAKENGON-LintasGAYO.co : Fraksi Keramat Mupakat DPRK Aceh Tengah, mendesak Bupati Aceh Tengah untuk membatalkan event pacuan kuda yang akan digelar sebelum Idul Adha 1447 H nanti.
Ketua Fraksi Keramat Mupakat, Khairul Ahadian menegaskan, kondisi daerah Aceh Tengah saat ini masih belum pulih dari bencana.
“Event pacuan kuda yang akan digelar dalam waktu dekat ini, masih belum relevan dengan kondisi daerah kita saat ini. Banyak warga kita yang masih berjuang melintasi sungai berbahaya saat jembatan putus, akses ke sentra pertanian belum dibenahi dan warga masih banyak tinggal di hunian sementara (huntara),” kata Khairul Ahadian kepada LintasGAYO.co, Selasa 14 April 2026.
Lebih-lebih kata dia, kondisi saat ini banyak warga Aceh Tengah yang masih khawatir dengan bencana susulan yang terjadi saat hujan turun. Lain itu, penanganan bencana yang terjadi pada November 2025 lalu, hingga saat ini masih belum maksimal dilakukan oleh Pemkab.
“Disaat warga kita, banyak masih berjuang keluar dan pulih dari bencana, Pemkab mengadakan event dengan dalih trauma healing, ini sudah menciderai rasa keadilan di masyarakat,” tegas Khairul.
Ia menyarankan, agar pacuan kuda yang sudah menjadi tradisi di Gayo, untuk diundur pelaksanaannya ke bulan Agustus 2026 mendatang.
“Kami paham, pacuan kuda adalah budaya kita. Hanya saja, jika dipaksakan digelar sebelum Idul Adha ini, saya rasa waktunya kurang tepat, karena kita belum pulih dari bencana. Dan saran kami, diundur saja ke Agustus nanti,” ujar Khairul Ahadian.
Disampaikan lagi, dari sisi anggaran Aceh Tengah telah menganggarkan dua kali event pacuan kuda, yakni HUT Kota Takengon dan HUR RI. Dimana satu kegiatan nilainya 480 Juta Rupiah.
“Kalau kita kaji angka 480 Juta itu untuk satu event pacuan kuda tentu masih kurang. Jadi gabungkan saja anggaran itu ke bulan Agustus nanti, jadi anggarannya bisa dipakai sekaligus, dan bisa dibuat lebih meriah,” katanya.
“Mudah-mudahan di bulan Agustus nanti, kondisi daerah dalam pemulihan pascabencana sudah lebih membaik dari sekarang,” tambahnya.
Khairul menegaskan, jika Bupati tetap memgadakan event pacuan kuda pada saat masyarakat Aceh Tengah belum sepenuhnya pulih dari bencana, ia pun mempertanyakan hati nurani sang pimpinan daerah.
“Tentu, kita akan mempertanyakan dimana hati nuraninya sebagai seorang pemimpin,” demikian Khairul Ahadian.
[Darmawan]





