Oleh : Tgk Ridwan Bintang, SH (Pimpinan Ponpes Hayatus Shahabah, Timangan Gading)
Hasanudin Abdurakhman dalam bukunya Melawan Miskin Pikiran menekankan bahwa kemiskinan harta jauh lebih mudah disembuhkan daripada kemiskinan pikiran.
Sebab miskin harta bisa berubah dengan usaha, kerja, dan pertolongan Allah. Namun miskin pikiran akan membuat seseorang selalu merasa kurang, meskipun rezekinya sebenarnya cukup.
Imam Al-Ghazali rahimahullah dalam pandangan tasawufnya sangat menekankan pentingnya kejujuran, harga diri (izzah), dan qana’ah (merasa cukup), terutama bagi orang yang diuji dengan kekurangan ekonomi.
Menurut beliau, orang yang benar-benar miskin seharusnya tetap menjaga adab, di antaranya tidak menampakkan diri sebagai orang yang selalu membutuhkan, tidak mengemis kehormatan, dan tidak menjual harga diri demi bantuan.
Dalam pandangan Islam, kefakiran dan kemiskinan bisa menjadi nikmat terselubung, jika disikapi dengan sabar, syukur, dan ikhtiar. Karena banyak orang yang diuji miskin tetapi Allah angkat derajatnya, sementara ada yang diuji kaya tetapi justru jatuh dalam kehinaan.
Fakir dan miskin itu nyaris tak berbeda. Keadaan keduanya seperti anak-anak yang bermain layang-layang. Jika angin masih ada sedikit, ia disebut miskin.
Namun jika angin hampir tak ada, ia menjadi fakir. Masalahnya, angin itu tidak bisa diprediksi. Begitulah hidup, keadaan miskin dan fakir kadang hanya beda tipis, fluktuasinya bisa berubah kapan saja.
Namun yang luar biasa, para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum ajma’in, kebanyakan hidup dalam keadaan sederhana bahkan miskin. Tetapi dari sekian banyak itu, hanya sedikit yang menjadikan kemiskinan mereka terlihat dari luar. Mereka tidak menjadikan keadaan sebagai alasan untuk merendahkan diri.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabadikan sifat mereka dalam Surah Al-Baqarah ayat 273:
“Orang yang tidak tahu menyangka mereka orang-orang yang berkecukupan, karena mereka menahan diri (tidak meminta-minta kepada manusia).”
Para sahabat yang fakir berusaha tampil normal. Mereka memakai pakaian yang pantas, tidak mengeluh, tidak memperlihatkan kekurangan, bahkan tetap bersedekah sesuai kemampuan. Mereka menjaga kehormatan karena yakin: yang memberi rezeki bukan manusia, tapi Allah.
Masalah kita hari ini sering bukan lagi sekadar fakir atau miskin. Karena pada umumnya, kita masih bisa makan, masih bisa hidup, masih bisa memenuhi kebutuhan dasar. Yang jadi masalah adalah ketika mulut kita meminta kaya kepada Allah, tetapi tingkah kita setiap hari justru sibuk mendaftarkan diri sebagai orang miskin di hadapan manusia.
Surat demi surat kita urus. Data demi data kita kumpulkan. Kita mengejar pengakuan agar dianggap miskin, supaya layak menerima bantuan. Seolah-olah kemuliaan hidup diukur dari berapa banyak bantuan yang kita dapatkan.
Padahal ini sangat memalukan.
Kita mengaku beriman, tetapi kita lebih percaya pada tangan manusia daripada janji Allah. Kita berdoa meminta kelapangan rezeki, tapi tindakan kita justru seperti doa lain: “Ya Allah, jadikan aku miskin di mata manusia.”
Lalu ketika hidup terasa sempit, kita menyalahkan takdir.
Padahal sering kali bukan takdir yang salah, tetapi cara kita memandang hidup yang salah.
Jika memang kita benar-benar berhak menerima bantuan, ambillah dengan adab dan syukur. Tetapi jika kita sebenarnya mampu, maka jangan berpura-pura miskin demi mendapatkan sesuatu yang bukan hak kita.
Karena bantuan yang masuk lewat kebohongan, bukan membawa berkah, melainkan membawa kehinaan.
Jangan jadikan diri kita kecil hanya demi sedikit dunia. Jangan hilangkan izzah hanya demi bantuan sesaat. Dan jangan jadikan kemiskinan sebagai topeng, karena Allah tahu isi hati dan niat kita.
Mari kita belajar dari para sahabat: miskin bukan aib, tetapi bermental miskin itu kehinaan.
Kalau kita ingin kaya, jangan hanya berdoa kaya. Tapi hiduplah dengan jiwa orang yang kaya: jujur, qana’ah, bekerja, dan menjaga kehormatan diri.
Karena orang yang mulia bukan yang paling banyak menerima bantuan, tetapi yang paling kuat menjaga harga diri dan paling yakin bahwa rezeki datang dari Allah. []





