Ringan Untuk yang Mudharat, Berat Bagi yang Bermanfaat

oleh

(Renungan tentang Arah Hati yang Mulai Tersesat)

Oleh: Mahbub Fauzie (Kepala KUA Atu Lintang, Aceh Tengah)

Kita sedang hidup dalam sebuah ironi yang perlahan dianggap biasa: yang mudharat terasa ringan, sementara yang bermanfaat justru terasa berat.

Lihatlah keseharian kita. Uang ratusan ribu bahkan jutaan rupiah bisa habis tanpa rasa bersalah—untuk rokok, gaya hidup, hiburan, plesiran dan hal-hal yang tidak memberi nilai jangka panjang. Tidak ada perdebatan, tidak ada penundaan. Semua terasa wajar.

Namun saat berbicara tentang sedekah, infak mengaji putra putri di TPQ, atau sekadar iuran sosial, beli buku keagamaa atau kitab, tiba-tiba kita berubah menjadi sangat rasional.

Mulai berhitung, menimbang, bahkan mencari alasan untuk menunda. Seolah-olah memberi adalah kerugian, bukan kemuliaan.

Ini bukan sekadar kebiasaan. Ini adalah gejala serius: arah hati kita mulai bergeser.

Allah SWT telah memberi peringatan yang tegas:

“Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai…” (QS. Ali Imran: 92)

Ayat ini bukan sekadar anjuran. Ini adalah standar. Bahwa kebaikan sejati menuntut pengorbanan. Dan hari ini, banyak dari kita ingin kebaikan tanpa pengorbanan—ingin pahala tanpa kehilangan, ingin surga tanpa perjuangan.

Normalisasi yang Keliru

Yang lebih mengkhawatirkan, kondisi ini tidak lagi dianggap masalah. Ia sudah dinormalisasi.

Merokok setiap hari dianggap biasa, padahal jelas merusak kesehatan dan menggerus keuangan. Menghabiskan uang untuk hal konsumtif dianggap wajar, bahkan menjadi simbol gaya hidup. Sebaliknya, orang yang banyak memberi justru kadang dianggap “tidak realistis”.

Lebih ironis lagi, kita sering lebih cepat mengeluarkan uang untuk kesenangan pribadi daripada untuk kebutuhan sosial di sekitar kita.

Rasulullah SAW telah mengingatkan:
“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun realitas hari ini menunjukkan, menjadi “tangan di atas” belum menjadi cita-cita bersama. Kita lebih nyaman menjadi penikmat daripada pemberi.

Krisis Kepekaan Sosial

Fenomena ini bukan hanya soal individu, tetapi sudah menjadi krisis sosial.

Di tengah masyarakat, kepedulian mulai menipis. Kita lebih mudah mengomentari daripada membantu, lebih cepat menyalahkan daripada memperbaiki. Bahkan dalam keluarga, kadang kebutuhan pokok dikalahkan oleh keinginan yang tidak mendesak.

Kita hidup berdekatan, tetapi tidak benar-benar peduli.

Dan di titik ini, persoalannya bukan lagi ekonomi. Banyak yang sebenarnya mampu, tetapi tidak tergerak. Bukan karena tidak punya, tetapi karena tidak merasa perlu.

Hati yang Terbalik

Inilah akar masalahnya: hati yang mulai terbalik.

Yang seharusnya berat—karena merusak—justru terasa ringan.
Yang seharusnya ringan—karena mulia—justru terasa berat.

Ketika hati sudah sampai pada titik ini, maka ukuran benar dan salah tidak lagi ditentukan oleh nilai, tetapi oleh kenyamanan.

Padahal, kebenaran tidak selalu nyaman. Dan kenyamanan tidak selalu benar.

Meluruskan Neraca Kehidupan

Di tengah kegamangan antara memberi dan menahan, antara sederhana dan kikir, kita sebenarnya telah diingatkan oleh Ali bin Abi Thalib:

“Jadilah orang yang dermawan tapi jangan menjadi pemboros. Jadilah orang yang hidup sederhana, tetapi jangan menjadi orang yang kikir.”

Kalimat ini bukan sekadar nasihat moral, tetapi garis batas yang tegas: bahwa kebaikan tidak boleh berlebihan hingga kehilangan arah, dan kehati-hatian tidak boleh berubah menjadi kekikiran yang membunuh kepedulian.

Namun jika kita jujur, problem kita hari ini bukan karena terlalu dermawan hingga boros. Justru sebaliknya: kita sering boros untuk hal yang sia-sia, tetapi kikir untuk hal yang bernilai.

Kita ringan menghabiskan, tetapi berat berbagi. Ringan mengikuti keinginan, tetapi berat memenuhi panggilan kepedulian.

Maka nasihat ini seharusnya tidak hanya kita kagumi, tetapi kita koreksi ke dalam diri: sudahkah kita dermawan di tempat yang tepat? atau justru boros di jalan yang salah dan kikir di jalan yang benar?

Jangan Sampai Terlambat

Kita sering menunda kebaikan dengan alasan “nanti”. Padahal yang kita tunda bukan sekadar tindakan, tetapi juga peluang.

Peluang untuk menjadi lebih baik. Peluang untuk lebih peduli. Peluang untuk memperbaiki arah hidup.

Jika yang mudharat terus terasa ringan, dan yang bermanfaat terus terasa berat, maka itu bukan lagi kebiasaan—itu peringatan.

Dan sayangnya, tidak semua orang diberi kesempatan untuk menyadarinya sebelum terlambat.[]

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.