Petuah untuk Haili Yoga, Pasal 21: Saat Monyet dan Kera Sibuk Berebut Jas, Lutung Sudah Lebih Dulu Tertawa

oleh
Ilustrasi

Oleh : Fauzan Azima*

Di sebuah kebun binatang besar yang tampak tenang dari luar, hiduplah sekumpulan satwa yang diam-diam gemar meniru tingkah manusia. Mereka bukan sekadar binatang, melainkan cermin yang berjalan tanpa disadari siapa pun.

Pada suatu hari, seekor monyet dan seekor kera menemukan sehelai jas tergantung di dahan pohon tua. Jas itu tampak mewah, berkilau diterpa cahaya pagi, seolah-olah membawa wibawa bagi siapa pun yang memakainya.

Monyet berkata, “Akulah yang paling pantas memakainya, sebab aku paling lincah dan disukai pengunjung.” Kera tak mau kalah, “Tidak, akulah yang lebih layak, karena aku tampak lebih berwibawa dan bijaksana.”

Mereka pun saling tarik-menarik jas itu. Tidak ada yang benar-benar peduli apakah jas itu memang penting, atau sekadar simbol kosong yang mereka perebutkan dengan penuh keserakahan.

Di atas cabang lain, seekor lutung betina memperhatikan dengan senyum sinis. Ia tidak ikut berebut. Ia hanya tertawa kecil, seolah memahami bahwa keduanya sedang mempermalukan diri sendiri tanpa sadar.

“Bulu sama, tingkah pun tak jauh beda,” gumamnya pelan. “Hanya ekor yang membedakan, tapi kesombongan membuat mereka merasa istimewa.”

Tak jauh dari situ, seekor anjing hitam, yang dalam bahasa Gayo disebut jire item mulai menggonggong keras. Gonggongannya bukan tanpa alasan. Ia melihat kegaduhan itu sebagai pertanda kebodohan yang dipertontonkan tanpa rasa malu.

Namun, monyet dan kera tetap tidak peduli. Mereka semakin sibuk berebut, bahkan saling mencakar, hingga jas itu robek dan tak lagi layak dipakai siapa pun.

Lutung kembali tertawa, kali ini lebih keras. “Mereka tidak sadar,” katanya, “yang mereka rebutkan bukan kehormatan, melainkan ilusi.”

Anjing pun terus menggonggong, seakan memperingatkan seluruh kebun binatang bahwa kegilaan sedang terjadi di depan mata.

Konon, ada yang berkata bahwa sebagian kera berasal dari manusia yang kehilangan martabatnya. Bukan bentuk yang penting, tetapi sifat yang diwariskan: keserakahan, kesombongan, dan nafsu untuk berkuasa.

Fabel ini pun berakhir tanpa pemenang. Jas telah hancur, harga diri pun ikut terkoyak. Yang tersisa hanya tawa lutung dan gonggongan anjing, dua suara yang menjadi saksi betapa manusia kadang lebih mudah jatuh menjadi binatang daripada belajar menjadi manusia.

Bersambung ke pasal 22…

(Mendale, April 4, 2026)

Terkait : Petuah untuk Haili Yoga, Pasal 20: Jangan Tersandera Kelemahan Biologis

Comments

comments