Oleh : Fauzan Azima*
Tulisan ini membaca arah kekuasaan yang sedang dirajut dengan benang ambisi, strategi, serta kalkulasi dingin yang tidak selalu terlihat oleh publik luas hari ini. Sayangnya yang dianggap “jalan sunyi” langkah demi langkah bidak catur politik terbaca dengan mudah.
Haili Yoga tidak pernah menyembunyikan hasrat melampaui satu periode jabatan; baginya, kekuasaan adalah proyek jangka panjang yang harus diamankan sejak awal melalui penempatan orang-orang ke posisi strategis pemerintahan daerah secara sistematis dan terukur penuh.
Dinas Pendidikan, BPKSDM, dan DPMG disebut sebagai simpul penting mobilisasi pemilih; bukan sekadar pelayanan publik, melainkan instrumen politik yang digerakkan halus untuk memastikan loyalitas aparatur dan masyarakat menjelang kontestasi berikutnya nanti secara terencana rapi dan konsisten.
Langkah lain adalah mendekati struktur partai, khususnya Golkar, sebagai kendaraan politik mapan; upaya merebut kursi ketua menjadi pintu masuk mengendalikan mesin partai, sekaligus mengunci dukungan formal menjelang pemilihan kepala daerah mendatang dengan pendekatan personal intens.
Namun, jalan itu tidak sepi pesaing; Fitriana Mugie muncul sebagai figur alternatif yang juga mengincar pucuk pimpinan partai, dengan strategi keluarga dan jaringan politik yang tak kalah rapi serta terukur di wilayah tersebut hari ini.
Jika Fitriana berhasil, maka peta berubah drastis; karena ia menyiapkan skenario ganda, menjadi kandidat bupati, sementara suaminya diarahkan maju ke DPR RI dari dapil Aceh dua, menciptakan efek elektoral yang saling menguatkan dan signifikan.
Di sisi lain, Haili Yoga masih dibayangi beban lama relasi kekuasaan yang kerap disebut “tiga naga”, serta utang politik masa lalu “Sang Wakil” yang belum sepenuhnya tuntas hingga kini, dan terus membatasi ruang gerak kekuasaannya.
Pengakuan kepada Bupati BM, Ir. Tagore, memperlihatkan bahwa periode pertama bukan panggung bebas, melainkan fase kompromi dengan banyak kepentingan; sehingga keputusan sering harus dibagi dengan kekuatan lain di belakang layar kekuasaan daerah yang tidak terlihat.
Ambisi periode kedua menjadi momentum pembebasan dari bayang-bayang tersebut; Haili Yoga ingin berdiri sebagai satu-satunya pusat kendali, tanpa intervensi, tanpa kompromi, dan tanpa pembagi kekuasaan yang mengikat langkahnya ke depan secara penuh, mutlak.
Pertanyaannya: apakah publik akan terus menjadi objek dari desain politik semacam ini, atau mulai membaca pola lalu merespons dengan kesadaran kritis? Sebab, masa depan Aceh Tengah tidak boleh ditentukan oleh segelintir elite saja.
Bersambung ke pasal 19…
(Mendale, April 1, 2026)
Terkait : Petuah untuk Haili Yoga, Pasal 17: Sifat Wakil itu seperti Anjing Pemburu Ingin Makan Jantung Rusa





