REDELONG-LintasGAYO.co : Tiga perempuan pelaku kopi Gayo akan tampil sebagai narasumber utama dalam kegiatan Dialog Budaya Sengkewe: Perempuan Gayo dan Kopi yang diselenggarakan Komunitas Desember Kopi Gayo pada Jumat, 3 April 2026, di Kem Pegayon Km 42 Jalan KKA, perbatasan Bener Meriah – Aceh Utara.
Ketiga perempuan pelaku kopi Gayo tersebut diantaranya adalah Teri Enda Wahyuni, Rahmayana Fitri, S.Pd.I dan Uni Inen Iko.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program Sengkewe Sepanjang Musim yang didukung Dana Indonesiana, LPDP, dan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, sebagai upaya memperkuat narasi peran perempuan dalam ekosistem kopi Gayo.
Teri Enda Wahyuni dikenal sebagai salah satu perempuan pelaku kopi Gayo yang aktif dalam pengembangan usaha kopi berbasis komunitas dan jaringan perdagangan kopi.
Ia selama ini berkiprah dalam memperkuat posisi perempuan dalam rantai produksi kopi, mulai dari tingkat kebun, pengolahan, hingga pemasaran.
Kehadirannya dalam dialog ini diharapkan membuka perspektif publik bahwa perempuan memiliki kontribusi nyata dalam menjaga kualitas dan keberlanjutan kopi Gayo.
Sementara itu, Rahmayana Fitri, S.Pd.I, merupakan wirausaha perempuan Gayo yang terlibat dalam aktivitas usaha kopi melalui PT Katbeans Indonesia di Aceh Tengah.
Rahmayana Fitri lahir di Takengon pada 29 Maret 1993. Ia menyelesaikan pendidikan S1 Bahasa Inggris di UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan melanjutkan studi S2 Manajemen Ekonomi di Universitas Malikussaleh.
Perspektifnya sebagai pelaku usaha muda memberi sudut pandang penting mengenai keterlibatan perempuan dalam rantai nilai kopi, khususnya pada sektor pengolahan dan penguatan jejaring usaha kopi berbasis lokal.
Selain itu hadir pula Uni Inen Iko, sosok perempuan petani kopi dari Tanah Gayo yang kesehariannya bekerja sebagai pemanen dan penyortir biji kopi (mendepe).
Dalam kondisi suami yang sedang tidak sehat, Uni Inen Iko menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Ia juga sering membantu panen di kebun milik warga serta terlibat dalam pekerjaan sortir kopi sebagai bagian dari aktivitas ekonomi harian perempuan Gayo.
Kehadirannya dalam dialog ini menghadirkan perspektif akar rumput tentang peran nyata perempuan dalam keberlanjutan kopi Gayo.
Ketua Komunitas Desember Kopi Gayo, Fikar W. Eda, Selasa (31/3/2026) mengatakan bahwa dialog ini menjadi ruang penting untuk menghadirkan perspektif perempuan sebagai bagian utama dalam ekosistem kopi Gayo.
“Selama ini sebagian besar proses kopi Gayo justru dikerjakan oleh perempuan, mulai dari memetik, menyortir, hingga menjaga mutu pascapanen. Tetapi peran mereka jarang tampil sebagai narasi utama dalam diskusi kopi. Melalui Dialog Sengkewe ini, kita ingin menghadirkan perempuan sebagai subjek utama dalam cerita kopi Gayo,” kata Fikar W. Eda.
Ia menambahkan bahwa kegiatan ini juga merupakan bagian dari upaya Komunitas Desember Kopi Gayo memperkuat pendekatan budaya dalam membaca kopi sebagai identitas masyarakat Gayo.
“Kopi Gayo bukan hanya komoditas ekonomi, tetapi juga kebudayaan. Di dalamnya ada kerja keluarga, kerja perempuan, nilai tradisi, dan daya tahan masyarakat menghadapi perubahan.
Karena itu perempuan harus hadir di ruang dialog sebagai penutur pengalaman,” ujarnya.
Dialog budaya ini dipandu oleh Mila Handayani, Kepala Madrasah Pegayon, dan menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Sengkewe Sepanjang Musim yang juga meliputi wisata edukasi kebun kopi Pegayon pada pagi hari serta pertunjukan seni tradisi Gayo pada sesi penutup kegiatan.
Program Sengkewe Sepanjang Musim diselenggarakan oleh Komunitas Desember Kopi Gayo sebagai bagian dari upaya penguatan ruang ekspresi budaya masyarakat kopi di dataran tinggi Gayo.
[Ril-SY]






