Oleh : Fauzan Azima*
Dalam dunia birokrasi, selalu muncul sosok “kekasih impian” yang dipuja karena kedekatannya dengan kekuasaan. Bukan prestasi, melainkan akses yang membuatnya dirawat, dijaga, dan dipertahankan oleh banyak pihak demi kepentingan pribadi.
Mereka hadir dengan wajah setia, tutur kata lembut, dan sikap penuh hormat. Di hadapan pemimpin, semuanya tampak ideal. Namun di balik itu, tersembunyi kepentingan yang menunggu momentum untuk menguatkan posisi.
Fenomena ini bukan hal baru dalam lingkar kekuasaan. Setiap pemimpin, termasuk Haili Yoga, berpotensi dikelilingi oleh figur seperti ini. Mereka pandai membaca situasi, menempatkan diri, dan memainkan peran secara konsisten.
Kesetiaan yang ditunjukkan seringkali bukan tanpa syarat. Selama kekuasaan memberikan ruang dan keuntungan, selama itu pula loyalitas tampak kokoh. Namun ketika arah berubah, mereka bisa bergeser tanpa beban moral.
Birokrat semacam ini ibarat bayangan yang mengikuti cahaya kekuasaan. Mereka tidak berdiri di atas prinsip, melainkan bergerak sesuai kepentingan. Hari ini memuji, esok menghilang, bahkan berbalik arah tanpa ragu.
Bagi seorang pemimpin, kehadiran mereka bisa menjadi jebakan halus. Pujian yang terus-menerus menciptakan ilusi kebenaran. Tanpa disadari, keputusan diambil berdasarkan informasi yang sudah dipoles dan kehilangan realitas sebenarnya.
Haili Yoga perlu waspada terhadap lingkaran semacam ini. Sebab kekasih sejati dalam birokrasi bukan yang paling pandai memuji, melainkan yang berani mengingatkan ketika arah kebijakan mulai menyimpang.
Kritik yang jujur memang tidak selalu nyaman didengar. Namun di situlah letak nilai sebenarnya. Tanpa suara berbeda, kekuasaan berubah menjadi ruang gema yang hanya mengulang pujian tanpa makna dan arah.
Jika dibiarkan, kondisi ini akan menjauhkan pemimpin dari rakyat. Informasi yang diterima menjadi tidak utuh. Kebijakan pun berisiko melenceng, karena dibangun di atas persepsi yang telah dimanipulasi.
Pasal ini menjadi pengingat penting bagi setiap pemimpin. Jangan mudah jatuh hati pada pujian. Pilihlah lingkungan yang berani jujur, menjaga integritas, dan menempatkan kepentingan publik di atas segalanya.
Bersambung ke pasal 15…
(Mendale, Maret 27, 2026)





