[Puisi] Kopi, Mikrofon, dan Revolusi
L K Ara
Di sebuah kota bernama Pati
seorang pemuda memegang mikrofon
seperti petani Gayo
memegang ranting kopi
di pagi yang masih berkabut.
Ia berkata:
revolusi berawal dari Pati.
Kerumunan bersorak.
Telepon genggam terangkat
seperti lampu-lampu kecil
di pesta kampung.
Di kaos seseorang tertulis:
*No Viral No Justice.*
Kalimat itu pahit—
seperti kopi Gayo
yang diminum tanpa gula.
Di negeri ini
keadilan sering beraroma wangi
sampai ke kota-kota besar,
tetapi petani yang menanamnya
masih menunggu jalan diperbaiki.
Pemuda itu terus berbicara
tentang perubahan.
Angin lewat
mengingatkanku pada lereng Bur Mesir
di mana petani menanam sabar
lebih lama dari menanam kopi.
Revolusi, katanya,
berawal dari Pati.
Barangkali benar.
Namun di tanah Gayo
orang tua pernah berkata:
perubahan besar
tidak lahir dari teriakan—
ia tumbuh
pelan-pelan
seperti pohon kopi
yang akarnya diam-diam
membelah batu. [SY]
Kalanareh, Ramadhan 2026






