Oleh : Fauzan Azima*
Di kampung kecil di dataran tinggi Gayo, malam selalu datang bersama ketakutan. Kabut turun dari bukit, menutup jalan tanah dan kebun kopi, tetapi tidak pernah mampu menutup suara sepatu lars dan dentum senjata.
Orang-orang belajar hidup pelan. Berbicara pelan. Bahkan mencintai pun harus pelan.
Aminah tahu itu sejak ia berumur tujuh belas tahun.
Ayahnya sering berkata, “Zaman ini bukan zaman orang mencari bahagia. Zaman ini orang hanya berusaha tetap hidup.”
Di kampung mereka, siapa pun yang datang membawa senjata seolah membawa takdir. Tidak ada yang berani menolak. Tidak ada yang berani bertanya. Senjata membuat semua orang tiba-tiba menjadi hakim.
Suatu malam, tiga orang bersenjata datang ke rumah Aminah.
Lampu teplok bergoyang diterpa angin. Ibunya gemetar di dapur. Ayahnya berdiri di depan pintu dengan wajah pucat.
“Mana Aminah?” tanya seorang lelaki bersenjata. Suaranya berat, seperti batu digeser di tanah.
Ayah Aminah tidak menjawab.
Lelaki itu tersenyum tipis.
“Jangan buat kami lama. Kami tahu dia di sini.”
Aminah keluar dari kamar. Tubuhnya dingin, tapi matanya tetap menatap lurus.
Ia sudah mendengar cerita-cerita itu. Gadis yang dipaksa menikah. Gadis yang dibawa pergi. Gadis yang pulang dengan luka yang tidak bisa diceritakan kepada siapa pun.
“Dia akan jadi istriku,” kata lelaki bersenjata itu.
Sederhana. Tanpa tanya. Tanpa malu.
Ibunya menangis. Ayahnya menunduk.
“Dia belum mau menikah,” kata ayahnya pelan.
Suasana mendadak beku.
Lelaki bersenjata itu mendekat. Laras senjatanya mengetuk meja kayu.
“Kalau dia tidak mau,” katanya, “bisa saja nanti kami datang lagi. Tapi mungkin bukan untuk melamar.”
Semua orang di ruangan itu mengerti maksudnya.
Aminah menggigit bibirnya.
Ia tahu cerita keluarga yang menolak. Rumah dibakar. Ayah dipukul. Kakak dibawa entah ke mana.
Konflik tidak hanya merampas nyawa. Ia juga merampas pilihan.
“Baik,” kata Aminah akhirnya.
Suaranya kecil, tapi cukup untuk membuat semua orang terdiam.
“Aku ikut.”
Ibunya menangis lebih keras.
Aminah tidak melihat ke belakang ketika ia dibawa keluar rumah. Malam itu dingin sekali. Kabut seperti menelan jalan.
Sejak malam itu, Aminah hidup di rumah lelaki bersenjata itu.
Namanya Rasyid.
Orang-orang di kampung memanggilnya komandan. Ia jarang tersenyum. Wajahnya keras seperti tanah yang lama tidak terkena hujan.
Awalnya Aminah membencinya.
Bagaimana mungkin tidak?
Ia tidak pernah memilih hidup ini. Ia tidak pernah memilih lelaki ini.
Cinta yang dipaksakan selalu terasa seperti luka.
Hari-hari berlalu. Rasyid sering pergi berhari-hari. Kadang seminggu. Kadang lebih lama.
Ketika pulang, ia hanya duduk di beranda, membersihkan senjata, lalu menatap bukit-bukit jauh seolah di sana ada sesuatu yang tidak pernah bisa ia capai.
Suatu malam, Aminah memberanikan diri bertanya.
“Kenapa kau memaksaku menikah?”
Rasyid lama tidak menjawab.
Akhirnya ia berkata pelan, “Karena di zaman seperti ini, kalau aku tidak merebut sesuatu… semuanya akan direbut orang lain.”
“Termasuk aku?”
Rasyid menatapnya. Ada sesuatu yang aneh di matanya. Bukan marah. Bukan juga bangga.
“Hidup kami penuh darah,” katanya. “Kadang kami lupa bagaimana cara meminta sesuatu dengan baik.”
Aminah tidak menjawab.
Ia masih tidak tahu apakah itu penyesalan atau sekadar kejujuran.
Tahun-tahun konflik membuat banyak hal berubah.
Banyak orang hilang. Banyak kampung kosong. Banyak perempuan hidup dengan luka yang tidak pernah tercatat di buku sejarah.
Cinta sering kalah oleh senjata.
Suatu pagi, kabar datang dari hutan.
Rasyid tertembak dalam sebuah penyergapan.
Ketika jenazahnya dibawa pulang, Aminah berdiri lama di samping tubuh lelaki itu. Wajahnya tenang, seolah sedang tidur.
Ia teringat malam ketika ia dipaksa menikah. Ia juga teringat malam-malam ketika Rasyid pulang diam-diam dan meletakkan uang di meja dapur agar keluarganya tidak kekurangan.
Perasaan manusia memang rumit.
Kadang benci dan kasihan tumbuh di tempat yang sama.
Orang-orang di kampung berkata, “Aminah sekarang bebas.”
Bebas.
Kata itu terdengar ringan, tapi terasa berat di dada.
Aminah berdiri di halaman rumah. Kabut Gayo turun perlahan dari bukit, sama seperti malam bertahun-tahun lalu ketika hidupnya berubah.
Ia menyadari sesuatu.
Di masa konflik, banyak orang mencoba merebut cinta dengan darah.
Tapi tidak ada yang benar-benar menang.
Yang tersisa hanyalah kenangan pahit, luka yang diwariskan diam-diam, dan perempuan-perempuan yang belajar bertahan hidup di antara sejarah yang terlalu kejam untuk diceritakan.
(Mendale, Maret 13, 2026)





