Inflasi Tinggi, Kepemimpinan Haili Yoga Dinilai Tidak Cukup Cakap

oleh
oleh

Catatan Redaksi*

Aceh Tengah kembali terkenal. Bukan karena kopi Gayo yang harum, tetapi karena harga barang yang ikut terbang tinggi. Februari 2026 mencatat inflasi 8,44 persen, tertinggi di Indonesia.

Bagi masyarakat awam, inflasi itu sederhana. Artinya harga barang makin mahal, sementara uang di kantong tetap sama. Cabai naik, beras naik, minyak goreng naik. Yang tidak ikut naik hanya penghasilan rakyat kecil.

Data Badan Pusat Statistik menempatkan Aceh Tengah sebagai daerah dengan inflasi tertinggi nasional. Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian bahkan menyorotinya langsung dalam rapat pengendalian inflasi daerah.

Ini bukan prestasi yang layak dibanggakan. Menjadi nomor satu boleh saja, tetapi bukan dalam urusan harga mahal. Rakyat tidak butuh rekor inflasi, rakyat hanya ingin hidup tidak semakin sulit.

Sebagian pihak menyebut bencana sebagai penyebab. Banjir dan longsor memang memengaruhi produksi dan distribusi. Namun bencana seharusnya diuji dengan kepemimpinan yang kuat, bukan dijadikan alasan panjang.

Faktanya, Sumatera Utara dan Sumatera Barat juga terdampak bencana. Namun kedua daerah itu mampu menurunkan inflasi. Artinya ada kepemimpinan yang bekerja cepat memperbaiki distribusi dan ketersediaan barang.

Di Aceh Tengah, masalahnya terasa berbeda. Inflasi tinggi berbulan-bulan seperti dibiarkan berjalan. Dari Desember, Januari hingga Februari, daerah ini terus bertahan di posisi pertama nasional.

Di sinilah publik mulai menilai gaya kepemimpinan Bupati Haili Yoga. Seorang pemimpin seharusnya sigap membaca krisis. Ketika harga melonjak, langkah cepat harus terlihat jelas oleh masyarakat.

Namun yang tampak justru kepemimpinan yang lamban dan kurang tajam membaca masalah. Inflasi bukan sekadar angka ekonomi, melainkan tanda bahwa pengelolaan pasar, distribusi, dan pengawasan tidak berjalan baik.

Pemimpin daerah seharusnya turun langsung mengurai persoalan. Memastikan pasokan lancar, mengawasi pasar, dan mengendalikan harga. Jika itu tidak dilakukan serius, harga akan terus melonjak tanpa kendali.

Sayangnya publik lebih sering melihat seremoni daripada solusi. Banyak kegiatan terlihat ramai, tetapi dampaknya terhadap ekonomi rakyat hampir tidak terasa di dapur rumah tangga.

Padahal ukuran kepemimpinan bukan seberapa sering tampil di acara. Ukurannya sederhana: apakah rakyat merasa hidupnya lebih ringan atau justru semakin berat dari hari ke hari.

Inflasi 8,44 persen bukan sekadar statistik. Angka itu berarti ibu rumah tangga harus mengurangi belanja, pedagang kecil kehilangan pembeli, dan masyarakat makin sulit memenuhi kebutuhan harian.

Aceh Tengah adalah daerah kaya hasil bumi. Tanahnya subur, kebunnya luas. Ironis jika daerah seperti ini justru dikenal sebagai wilayah dengan harga kebutuhan paling mahal di Indonesia.

Karena itu kritik kepada Bupati Haili Yoga bukan soal suka atau tidak suka. Kritik muncul karena kepemimpinan terlihat tidak cukup cakap menghadapi krisis yang langsung menyentuh kehidupan rakyat.

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.