Ketika Orang Masih Percaya Senjata Bisa Menyelesaikan Masalah

oleh
oleh

Oleh : Fauzan Azima*

Kabut pagi turun pelan di dataran tinggi Gayo. Gunung-gunung berdiri seperti penjaga tua yang diam menyimpan rahasia. Dari kejauhan terlihat kebun kopi berlapis-lapis mengikuti lekuk bukit, seolah tak pernah peduli pada sejarah yang pernah lewat di antara batang-batangnya.

Di sebuah kampung kecil di pinggir Kota Redelong, Aman Habibie sedang memanggul karung kopi dari kebunnya. Usianya hampir enam puluh, tapi langkahnya masih kuat seperti petani yang sejak muda lebih sering berjalan di tanah daripada di jalan aspal.

Namun pagi itu, seperti banyak pagi lainnya di masa konflik, langkahnya tidak hanya membawa kopi. Ia juga membawa rasa waswas.

Di kejauhan terdengar suara kendaraan militer melewati jalan kampung. Aman Habibie berhenti sejenak. Ia sudah hafal suara itu. Mesin keras yang terdengar seperti perintah.

Di dataran tinggi Gayo waktu itu, orang belajar membaca keadaan dari bunyi: suara sepatu lars, deru mobil patroli, bahkan keheningan yang tiba-tiba terlalu panjang.

“Bang, cepat pulang,” bisik Aman Aminah, tetangganya yang baru turun dari kebun.

“Ada apa?”

“Katanya tadi malam ada tembakan di kampung Simpang Tiga.”

Aman Habibie hanya mengangguk pelan. Kabar seperti itu sudah menjadi semacam cuaca: datang tanpa diminta.

Mereka berjalan cepat menuruni bukit.

Di rumah panggungnya, istrinya, Inen Habibie, sudah menunggu dengan wajah cemas.

“Kenapa lama sekali di kebun?” tanyanya.

“Petik kopi tak bisa cepat,” jawab Aman Habibie sambil meletakkan karung.

Di sudut rumah, anak mereka, Habibie, yang baru berumur tiga belas tahun sedang membersihkan sepatu sekolahnya.

Anak-anak di Gayo waktu itu tetap pergi ke sekolah. Meski kadang harus melewati pos pemeriksaan. Meski kadang harus pulang lebih cepat karena ada kabar penyisiran.

Habibie menatap ayahnya.

“Ama, benar ada perang?”

Aman Habibie terdiam.

Di dataran tinggi yang dingin itu, kata “perang” sering terasa lebih dekat dari pada kata “damai”.

“Bukan perang seperti di televisi,” kata Aman Habibie pelan.

“Lalu apa?”

Aman Habibie menatap keluar jendela. Kabut belum sepenuhnya hilang.

“Orang-orang yang marah… dan membawa senjata.”

Habibie mengerutkan dahi.

“Kalau semua orang punya senjata, siapa yang benar?”

Pertanyaan itu menggantung lama di udara rumah kayu itu.

Aman Habibie tidak langsung menjawab. Ia pernah melihat banyak hal di masa itu: orang yang ditangkap tanpa penjelasan, orang yang pergi ke hutan dan tidak kembali, juga orang-orang yang hanya ingin menanam kopi tapi harus menjelaskan dirinya kepada semua pihak.

Beberapa hari kemudian, sebuah peristiwa kecil terjadi di Kenawat, kampung tetangga mereka.

Seorang pemuda bernama Badrun ditangkap karena dicurigai membantu pihak tertentu. Malam itu kampung menjadi sunyi. Tak ada yang berani banyak bicara.

Habibie melihat ibunya menangis diam-diam.

“Kenapa ibu menangis?” tanya Habibie.

Inen Habibie mengusap matanya.

“Karena orang-orang lupa sesuatu.”

“Apa?”

“Bahwa kita semua satu kampung.”

Malam itu, Aman Habibie duduk di beranda rumah. Angin dingin dari arah Burni Telong terasa menusuk tulang.

Habibie duduk di sampingnya.

“Ama,” katanya pelan.

“Iya?”

“Kenapa orang percaya senjata bisa menyelesaikan masalah?”

Aman Habibie menghela napas panjang.

“Karena senjata membuat orang terlihat kuat.”

“Padahal?”

“Padahal sering kali hanya membuat luka baru.”

Habibie memandangi lampu-lampu kecil kampung yang mulai padam satu per satu.

“Kalau aku besar nanti, aku tidak mau pegang senjata,” katanya.

Aman Habibie menoleh.

“Lalu kau mau pegang apa?”

Habibie berpikir sejenak.

“Mungkin buku… atau pena.”

Aman Habibie tersenyum kecil.

Di dataran tinggi Gayo, kopi memang tumbuh dari tanah yang dingin dan sabar. Ia tidak tumbuh dari suara tembakan.

Aman Habibie percaya suatu hari anak-anak seperti Habibie akan mengerti sesuatu yang dulu sering dilupakan orang dewasa.

Bahwa peluru mungkin bisa menghentikan seseorang. Tetapi hanya kata-kata, pengertian, dan keberanian untuk berdamai yang bisa menghentikan kebencian.

Dan suatu hari nanti, orang-orang di tanah Gayo hanya akan mengingat masa itu sebagai cerita lama tentang waktu ketika orang masih percaya senjata bisa menyelesaikan masalah.

(Mendale, Maret 12, 2026)

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.