Kepanikan Bukan Solusi, Ramadhan Mengajarkan Ketenangan

oleh

Oleh: Mahbub Fauzie*

Beberapa hari pasca bencana hidrometeorologi akhir November 2025, masyarakat di Aceh Tengah dan Bener Meriah sempat diuji oleh kepanikan. Jalan putus dijadikan alasan, distribusi logistik tersendat dianggap sebagai tanda krisis berkepanjangan.

Sebagian warga memborong sembako, terutama beras. Ada yang menimbun. Ironisnya, ada pula yang menjual dengan harga di luar nalar. BBM diserbu. SPBU dan pertamini serta kios-kios pengecer dipadati antrean panjang. Situasi sosial menjadi gaduh.

Kini, gelombang kepanikan itu seperti berulang. Isu perang antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel memicu kekhawatiran baru. Penutupan jalur di Selat Hormuz—yang disebut sebagai lalu lintas 20 persen minyak dunia—serta pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia tentang ketahanan energi nasional, memantik kepanikan di daerah. Warga kembali antre BBM, beras dibeli berlebihan, pesan berantai di WhatsApp menyulut kecemasan.

Pertanyaannya: apakah kepanikan menyelesaikan masalah?

Panic Buying: Krisis yang Diciptakan Sendiri

Panic buying pada dasarnya bukan karena barang tidak ada, tetapi karena rasa takut yang berlebihan. Ketika satu orang membeli dalam jumlah tak wajar, orang lain ikut-ikutan. Akibatnya, stok yang sebenarnya cukup menjadi tampak langka. Distribusi yang normal menjadi terganggu. Harga pun terdorong naik.

Inilah yang disebut sebagai self-fulfilling crisis—krisis yang tercipta karena kepanikan itu sendiri.

Kita belajar dari pengalaman pasca bencana: bukan hanya akses jalan yang memicu kelangkaan, tetapi juga perilaku konsumsi yang tidak terkendali. Ketika sebagian orang menimbun, yang lain tidak kebagian. Ketika ada yang menaikkan harga demi keuntungan sesaat, solidaritas sosial runtuh.

Padahal, masyarakat Gayo dikenal kuat dengan nilai kekeluargaan dan gotong royong.

Informasi Resmi adalah Kunci

Kritik terhadap lambannya klarifikasi pemerintah patut menjadi evaluasi. Dalam situasi sensitif, kehadiran negara melalui pernyataan resmi sangat penting. Kekosongan informasi akan diisi oleh rumor.

Syukurlah, kemudian ada imbauan dari Dinas Kominfo Aceh Tengah melalui Kepala Dinas Mustafa Kamal yang menegaskan bahwa stok BBM tersedia dan masyarakat diminta tidak panik. Klarifikasi seperti ini harus cepat, konsisten, dan masif.

Ke depan, sinergi antara pemerintah daerah, aparat keamanan, tokoh agama, tokoh pemuda, dan media lokal perlu diperkuat agar isu tidak liar berkembang tanpa kendali.

Ramadhan: Madrasah Pengendalian Diri

Yang lebih penting lagi, fenomena ini terjadi di bulan suci Ramadhan. Bulan yang sejatinya melatih kesabaran, pengendalian diri, dan kepercayaan kepada Allah.

Puasa mengajarkan kita menahan lapar dan dahaga. Ironis bila di saat yang sama kita justru tidak mampu menahan dorongan membeli berlebihan karena rasa takut.

Allah tidak memerintahkan kita hidup dalam kepanikan. Islam mengajarkan tawakkal setelah ikhtiar. Membeli secukupnya adalah ikhtiar. Menimbun dan menciptakan kelangkaan adalah bentuk ketidakadilan sosial.

Rasulullah SAW bahkan mengecam praktik penimbunan (ihtikar) karena merugikan masyarakat luas. Dalam konteks hari ini, panic buying yang berujung penimbunan memiliki dampak sosial yang sama: menyengsarakan orang lain.

Bijak Menyikapi Isu Global

Konflik internasional memang berdampak pada ekonomi global. Namun tidak semua isu global otomatis melumpuhkan daerah. Sistem distribusi energi dan pangan nasional memiliki mekanisme mitigasi. Pemerintah pusat tentu telah menghitung berbagai skenario.

Masyarakat tidak perlu bereaksi berlebihan terhadap setiap kabar yang belum tentu terverifikasi. Pastikan informasi berasal dari sumber resmi. Jangan mudah meneruskan pesan berantai yang belum jelas kebenarannya.

Jika benar ada potensi gangguan pasokan, respons terbaik adalah pengelolaan yang terukur—bukan kepanikan massal.

Saatnya Mencerdaskan Keadaan

Momentum ini harus menjadi pelajaran bersama. Edukasi publik tentang literasi informasi sangat penting. Pemerintah perlu proaktif. Media harus bertanggung jawab. Tokoh masyarakat wajib menenangkan.

Dan sebagai individu, kita perlu bertanya pada diri sendiri: apakah tindakan saya membantu keadaan, atau justru memperkeruh?

Ramadhan adalah bulan muhasabah. Jangan biarkan hawa nafsu ketakutan mengalahkan akal sehat dan iman. Tenang bukan berarti pasif, tetapi bersikap proporsional.

Mari fokus beribadah, memperkuat solidaritas sosial, dan menjaga stabilitas daerah kita. Aceh Tengah dan Bener Meriah tidak kekurangan orang-orang bijak. Yang kita butuhkan adalah ketenangan kolektif.

Karena sejatinya, kepanikan bukan solusi.
Ketenangan dan kebersamaanlah yang akan menyelamatkan kita.[]

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.