Oleh : Yudi Ansyah Katiara (Yudi Gayo)
Seni, sebagaimana kita memahaminya, adalah perbuatan manusia yang lahir dari kedalaman rasa dan menjelma dalam keindahan. Namun keindahan tidak pernah hadir begitu saja. Ia tumbuh dari peristiwa, dari benturan keadaan, dari dinamika yang kadang tak terduga—dari sesuatu yang luar biasa.
Demikian pula politik.
Jika seni adalah bahasa rasa, maka politik adalah bahasa kuasa. Di antara keduanya terdapat ruang perjumpaan yang halus namun menentukan: politik sebagai seni, dan seni dalam politik.
Politik sebagai seni adalah keterampilan mengelola kekuasaan, menyusun strategi, membaca momentum, serta memainkan peran dalam panggung kehidupan publik. Ia bukan sekadar perebutan posisi, melainkan kecakapan mengelola sikap dan tindakan demi mencapai tujuan yang lebih besar.
Seni dalam berpolitik menuntut ketajaman nurani dan kejernihan nalar. Ia dapat mengantarkan seseorang pada puncak pengaruh dan kemuliaan—bila dipahami dengan sungguh-sungguh.
Namun bila disalahpahami, ia juga mampu menjatuhkan pada titik terendah kehormatan. Politik bukan hanya tentang siapa yang kuat, tetapi siapa yang paling mampu melukis keadaan dengan kebijaksanaan.
Dalam perspektif ini, seorang negarawan sejati laksana pelukis agung. Ia tidak sekadar memandang kanvas kosong, melainkan membaca seluruh gerak di sekelilingnya: bisikan rakyat, kegelisahan zaman, serta tindakan-tindakan kecil yang kerap luput dari perhatian. Tanpa disadari orang lain, ia sedang menggambar arah sejarah.
Seni dalam politik bukanlah hiasan retorika atau permainan citra semata. Ia adalah daya untuk berpikir kritis, menolak apatisme, dan menumbuhkan kesadaran.
Melalui seni, kita belajar membaca pola; memahami dinamika; serta menimbang setiap langkah dengan kebijaksanaan, bukan sekadar ambisi.
Seni juga mengajarkan jeda. Dalam dunia politik yang serba cepat dan penuh tekanan, ada saatnya berhenti sejenak—merenung, menakar keadaan, menentukan apakah harus melangkah maju atau mundur setapak untuk meraih kemenangan yang lebih bermakna. Jeda bukanlah kelemahan, melainkan strategi yang lahir dari kedewasaan berpikir.
Menariknya, tidak semua yang memahami politik mengerti seni. Dan tidak semua seniman mampu membaca politik. Namun ketika keduanya bersatu dalam diri seseorang ketika kehalusan rasa bertemu dengan kecerdasan strategi di sanalah lahir seorang pemimpin yang bukan hanya berkuasa, tetapi juga berderma pada bangsanya.
Seorang seniman politik yang agung dan dermawan, yang menghadirkan kekuasaan sebagai jalan pengabdian.
Sebab pada hakikatnya, seni tidak selalu berbentuk rupa atau suara. Seni juga dapat menjelma sebagai gagasan, sebagai kebijaksanaan, sebagai cara memandang dunia. Ia tidak selalu kasat mata, tetapi terasa dalam setiap keputusan yang adil dan setiap langkah yang berpihak pada kemaslahatan.
Maka, seni dalam perpolitikan bukanlah sekadar kemampuan memainkan peran. Ia adalah anugerah berpikir, merasakan, dan bertindak dengan kebijaksanaan agar kekuasaan tidak menjadi alat penindasan, melainkan kanvas pengabdian. []





