Catatan Redaksi
Kritik, pedas maupun setengah pedas, kepada pejabat di tanah Gayo sebaiknya dipandang sebagai didong jalu, kesenian tradisional dataran tinggi Gayo yang memadukan seni tutur, nyanyian, dan gerak tubuh dalam satu panggung kehormatan bermartabat.
Dalam didong jalu, dua kelompok saling berbalas syair. Ada sindiran tajam, ada nasihat halus, bahkan sarkasme yang menggelitik. Namun semuanya terbingkai adat. Penonton bersorak riuh, tetapi tak ada dendam selepas pertunjukan usai digelar.
Tradisi ini mengajarkan bahwa perbedaan bukan alasan permusuhan. Kritik menjadi bagian dari kemeriahan, bukan ancaman. Semakin cerdas balasan, semakin tinggi apresiasi. Semua pihak menjaga marwah, tanpa kehilangan keberanian menyampaikan kebenaran secara terbuka.
Begitulah semestinya ruang publik kita dibangun. Kritik bukan lemparan batu yang melukai, melainkan syair yang menyadarkan. Ia hadir untuk menguji kebijakan, bukan menjatuhkan martabat. Pemerintahan sehat tumbuh dari keberanian menerima koreksi.
Pemimpin yang matang tidak alergi terhadap suara berbeda. Ia menjadikan kritik sebagai cermin, bukan cambuk kebencian. Dari sanalah ia melihat sisi yang luput, memperbaiki langkah sebelum kesalahan menjelma menjadi penyesalan panjang.
Sering kali, para pengkritik justru menyelamatkan pejabat secara tidak langsung. Mereka menyalakan lampu ketika jalan mulai gelap. Tanpa suara itu, kekuasaan mudah terbuai pujian, merasa selalu benar, dan perlahan menjauh dari rakyat.
Menjelang hari megang Ramadhan, saat hati dibersihkan dan silaturahmi dirawat, semestinya dendam turut dilebur. Jangan ada amarah kepada penyampai kritik. Perbedaan pandangan bukan alasan memutus persaudaraan yang telah lama terjalin.
Apalagi sampai menempuh jalan gelap dengan mendatangi dukun demi mencelakai pengkritik. Selain mencederai akal sehat, perbuatan itu menodai iman. Kekuasaan tidak akan kokoh dengan cara-cara syirik dan ketakutan.
Tidak semua kritik lahir dari kebencian. Banyak di antaranya tumbuh dari kepedulian dan kasih sayang. Teguran yang keras kadang justru tanda perhatian, agar pejabat di Gayo tidak tersesat oleh pujian berlebihan.
Akhirnya, marilah kita anggap kritik sebagai didong jalu: keras dalam kata, hangat dalam niat, dan berakhir dengan saling menghormati. Sebab pemerintahan bermartabat lahir dari keberanian mendengar, bukan kebiasaan membungkam suara. []





